Lip-Bu Tan dan Irving Tan, keduanya alumni Nanyang Technological University (NTU) Singapura, menjabat CEO raksasa teknologi Amerika Serikat, Intel dan Western Digital.
NTU menempati posisi ketiga terbaik di Asia bersama National University of Singapore dalam QS Asia University Rankings 2026, di bawah University of Hong Kong dan Peking University.
Dikutip detikINET dari Vn Express, meski keduanya kuliah di NTU, perjalanan menuju puncak industri teknologi Amerika Serikat dilakoni dengan cara yang sangat berbeda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lip-Bu Tan
Lahir di Muar, Malaysia tahun 1959 dan dibesarkan di Singapura, Lip-Bu Tan lulus dari Nanyang University, pendahulu NTU, dengan gelar sarjana fisika pada tahun 1978 di usia baru 19 tahun.
Perjalanan akademisnya dimulai dengan rintangan. Dalam wawancara dengan Straits Times, ia menghabiskan tiga bulan di daftar tunggu sebelum diterima, membuatnya melewatkan sebagian masa perkuliahan. Terlepas dari keterlambatannya, ia berhasil masuk peringkat dua besar pada ujian universitas pertamanya.
"Dengan hasil tersebut, setidaknya saya tahu di mana posisi saya di kampus dan saya mendapatkan kepercayaan diri. Jadi itu adalah kesuksesan pertama saya," kenangnya.
Ia pindah ke AS, meraih magister teknik nuklir dari Massachusetts Institute of Technology dan MBA dari University of San Francisco. Alih-alih berkarier sesuai bidangnya, ia memasuki industri investasi dan mendirikan perusahaan modal ventura Walden International di 1987. Ia jadi investor teknologi pendukung perusahaan semikonduktor dan software, termasuk Creative Technology yang berbasis di Singapura.
Ia lantas beralih ke kepemimpinan korporat, menjabat CEO Cadence Design Systems, perusahaan pengembang software untuk merancang chip semikonduktor, dari 2009 hingga 2021. Selama masa jabatannya, pendapatan perusahaan naik dua kali lipat dan harga saham melonjak 3.200%.
Kesuksesannya dalam investasi teknologi dan kepemimpinan korporat menjadikannya miliarder. Bloomberg memperkirakan kekayaannya setidaknya USD 1,1 miliar pada Agustus 2025, dengan sebagian besar kekayaannya berasal dari Cadence. Ia bergabung dewan direksi Intel September 2022 sebelum menjadi CEO pada Maret 2025.
Tan berhubungan erat dengan almamaternya. Ia menjabat wali amanat NTU dari 2006 hingga 2011 dan menyumbang USD 3 juta di 2024 untuk membentuk jabatan profesor pertama di bidang AI. Perusahaannya bermitra dengan NTU untuk mendirikan Nanyang Frontier Fund, yang mendukung startup teknologi di universitas tersebut.
Saat berdiskusi dengan Presiden NTU, ia menekankan pentingnya kerendahan hati, berteman dengan orang berbakat, dan menumbuhkan budaya komunikasi jujur. Ia menasihati para calon pemimpin untuk mencari mentor yang baik dan menekuni pekerjaan yang benar-benar dinikmati, sembari mengibaratkan hidup seperti maraton, bukan sprint.
Ia mengatakan bahwa bermain basket semasa kuliah mengajarinya tentang pentingnya memercayai rekan satu tim, pelajaran yang ia terapkan untuk membangun budaya pemenang di Intel.
Irving Tan, eksekutif teknologi asal Singapura yang saat ini menjabat sebagai CEO dan Executive Director Western Digital Foto: WD |
Irving Tan
Berbeda dengan Lip-Bu Tan yang memulai kariernya di bidang modal ventura, eksekutif asal Singapura Irving Tan, 56 tahun, mengawali langkahnya di industri energi sebelum beralih ke bidang konsultasi dan kepemimpinan teknologi. Ia lulus dari NTU dengan gelar sarjana teknik mesin tahun 1995.
Pekerjaan pertamanya adalah di ExxonMobil, di mana ia memperoleh pengalaman di keuangan, penjualan, pemasaran, dan operasional. Di awal kariernya, ia sempat merasa frustrasi dengan praktik-praktik birokrasi.
Ketika ia mengeluhkan hal ini kepada manajernya, ia menerima nasihat yang membekas di benaknya. "Suatu hari nanti kamu akan berada pada posisi untuk mengubahnya," ujar manajernya kepadanya.
Tan meraih gelar MBA dari NTU dan bergabung dengan perusahaan konsultan manajemen Kearney. Ia kemudian memasuki industri teknologi, memegang sejumlah posisi di HP dan Cisco. Selama 13 tahun di Cisco, kariernya melesat hingga menjadi chief of operations sekaligus chairman Asia Pasifik, Jepang, dan China.
Tan lantas bergabung Western Digital, perusahaan AS yang berfokus pada teknologi penyimpanan data, sebagai wakil presiden eksekutif operasi global. Ia diangkat menjadi CEO Februari 2025.
Merefleksikan perjalanan kariernya dalam wawancara dengan NTU, Tan mengatakan progresnya melalui ranah teknik, keuangan, penjualan, dan operasional sama sekali tidak mengikuti rencana sebelumnya.
"Benang merah di sepanjang karier saya adalah kemauan untuk belajar, beradaptasi, dan menerima tantangan yang memperluas perspektif saya, bahkan ketika saya belum mengantongi semua jawaban pada hari pertama," katanya.
Pengalamannya di jajaran manajemen senior juga mengajarinya bahwa kepemimpinan efektif bukan berarti harus selalu punya jawaban atau seratus persen yakin akan keputusan yang tepat. Ia memberikan nasihat kepada para profesional muda agar mengembangkan keterampilan bisnis, komunikasi, dan kepemimpinan beriringan dengan keahlian teknis.
(fyk/afr)
