Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Bikin Proyek Kampus Jadi Perusahaan Raksasa, Pria Ini Raup Rp 111 Triliun

Bikin Proyek Kampus Jadi Perusahaan Raksasa, Pria Ini Raup Rp 111 Triliun


Fino Yurio Kristo - detikInet

Frank Wang, bos dan pendiri DJI
Pendiri DJI, Frank Wang. Foto: Istimewa
Jakarta -

Frank Wang mengubah penolakan dari dua universitas bergengsi di Amerika Serikat menjadi jalan kesuksesan dengan mendirikan raksasa drone asal China, DJI, dan menjadi miliarder teknologi termuda di Asia.

Wang (46) sempat ditolak Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Stanford University sebelum masuk Hong Kong University of Science and Technology (HKUST), tempatnya merintis bisnis.

Di 2006, ia mendirikan DJI di Shenzhen saat masih kuliah. Usaha skala kecil ini berkembang jadi produsen drone konsumen terbesar dunia, mengubah fotografi udara dari aktivitas khusus menjadi dapat diakses masyarakat umum.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dua dekade setelah didirikan, DJI menguasai 73% pasar kamera pintar global pada kuartal kedua 2026, menurut IDC. Mereka memiliki lebih dari 14.000 karyawan, dengan cakupan operasi di benua Amerika, Eropa, dan Asia.

Kekayaannya kini diperkirakan USD 6,2 miliar pada 15 Oktober, menurut Forbes. Ia menempati peringkat 92 daftar orang terkaya di China tahun 2025.

ADVERTISEMENT

Ditolak MIT dan Stanford

Lahir di Hangzhou, Wang terpikat mesin terbang sejak kecil dan hobi membaca buku tentang model pesawat. Pada usia 16 tahun, ia menerima helikopter remote control sebagai hadiah atas nilai ujiannya yang bagus.

Kendati memiliki passion di bidang teknik, ia kesulitan secara akademis dan gagal masuk universitas impiannya, MIT dan Stanford. Sebagai gantinya, ia masuk ke HKUST pada tahun 2003 untuk mempelajari teknik elektro dan komputer.

Tahun terakhirnya, ia mencurahkan waktu mengembangkan sistem kendali penerbangan helikopter. Meski sistem itu gagal berfungsi sesaat sebelum presentasi tugas akhir, kegigihannya membuat profesor robotika Li Zexiang terkesan. Sang profesor jadi mentor sekaligus investor awal DJI.

Wang lulus tahun 2006 dan meraih gelar magister dari HKUST tahun 2011. Januari 2026, HKUST memberikan penghargaan kepada Wang sebagai alumni teknik berprestasi.

"Saya tidak akan meraih pencapaian saya hari ini jika tak datang ke Hong Kong. Dan saya juga tidak akan mendirikan DJI jika tetap tinggal di China Daratan atau pergi ke AS," katanya.

Mendominasi Pasar Drone

Tahun 2006, Wang mendirikan DJI bersama dua teman dari apartemen di Shenzhen. Menggunakan sisa uang beasiswa, ia mengembangkan sistem kendali penerbangan yang membantu pesawat tak berawak terbang dengan stabil.

Awalnya, DJI menjual sistem tersebut kurang lebih USD 6.000 per unit ke sejumlah pelanggan, termasuk universitas dan perusahaan listrik. "Saya tidak tahu seberapa besar pasar ini nantinya. Ide kami awalnya hanyalah membuat produk, menghidupi 10 hingga 20 orang, dan memiliki sebuah tim," cetus Wang kepada Forbes.

DJI kesulitan pada awalnya, dengan perselisihan seputar manajemen dan kompensasi yang menyebabkan banyak karyawan keluar. Hampir semua anggota tim resign dalam dua tahun. Wang mengakui gaya manajemennya yang banyak menuntut turut menjadi pemicu.

Terobosan DJI datang Januari 2013 dengan peluncuran Phantom, drone yang mempermudah konsumen awam melakukan fotografi udara. Dibanderol USD 679, Phantom lebih terjangkau dibanding drone rakitan yang biayanya bisa mencapai lebih dari USD 1.000. Kesuksesanya mendorong pendapatan DJI tumbuh lima kali lipat.

Saat pesaing berusaha mengejar, DJI menyempurnakan Phantom dengan memperpanjang durasi penerbangan dari sekitar 10 menit pada model pertama menjadi 28 menit di versi-versi berikutnya. Perusahaan ini juga memperkenalkan kamera bawaan dan pengendali jarak jauh yang dilengkapi layar.

Tahun 2015, DJI menguasai sekitar 70% pasar drone konsumen. Mereka membangun bisnis internasional yang kuat, dengan sekitar 70% penjualannya berasal dari luar Asia.

Dekade berikutnya, DJI berekspansi melampaui produksi drone rekreasi ke sektor pertanian, inspeksi industri, dan pembuatan film, sembari memperkenalkan model-model ringkas yang membuat fotografi udara mudah diakses.

Ekspansi pesat DJI menjadikan Wang miliarder drone pertama di dunia. Tahun 2017, Wang yang saat itu 36 tahun, menjadi miliarder teknologi termuda Asia, menempati peringkat ke-76 dengan perkiraan kekayaan USD 3,2 miliar.

Namun, dominasi global DJI memicu tantangan regulasi, terutama di AS. Di 2022, DJI dimasukkan daftar perusahaan militer China oleh Departemen Pertahanan AS, label yang dibantah keras perusahaan. Terlepas dari tantangan ini, perusahaan terus mengembangkan produk baru dan memperluas pasarnya.



(fyk/fay)
TAGS




Hide Ads