Bill Gates dan China mungkin punya alasan dan prioritas yang berbeda dalam melakukan hal ini. Namun, menurut Robert Kiyosaki penulis buku 'Rich Dad Poor Dad', keduanya sama-sama membeli aset penting Amerika, dan para investor biasa patut mencermati hal ini.
"Bill Gates membeli lahan pertanian. China membeli lahan pertanian," ujar Kiyosaki dalam sebuah video Instagram.
"Hal itu semestinya menarik perhatian Anda, karena ketika dua pusat kekuatan yang sangat berbeda sepakat mengenai satu aset, patutlah kita bertanya mengapa demikian," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari Moneywise, Senin (12/10/2026), Kiyosaki menjelaskan bahwa ini lebih dari sekadar mengikuti langkah investasi seorang miliarder. Ini tentang memiliki sesuatu yang kebutuhannya tidak akan pernah hilang dari masyarakat.
Bill Gates memiliki sekitar 270.000 ekar lahan pertanian di AS, dan pada saat yang sama, China terus mengakuisisi lahan pertanian AS.
"Mencakup ratusan ribu ekar, sering kali melalui entitas berlapis dan struktur kepemilikan jangka panjang," terangnya.
Menurut Land Report, Gates memiliki 275.000 ekar lahan di seluruh Amerika, termasuk 250.000 ekar lahan pertanian yang sangat produktif. Sementara itu, laporan menyebutkan kepemilikan lahan pertanian AS oleh pihak China mencapai lebih dari 380.000 ekar.
"Ini bukan kebetulan, ini adalah langkah strategis," komentar Kiyosaki.
Pendapat Kiyosaki, minat terhadap aset ini tidak terbatas pada kedua pembeli tersebut saja. Dana pensiun melakukan hal yang sama. Begitu pula perusahaan asuransi dan dana kekayaan negara (sovereign wealth funds).
Penjelasannya sederhana. Kiyosaki mengatakan Institusi-institusi ini tidak mengejar tren, mereka melindungi modal.
"Mereka melindungi satu hal yang tidak bisa dicetak," katanya.
Lahan pertanian mewakili salah satu kebutuhan dasar manusia dalam perekonomian. Apa pun yang terjadi pada suku bunga, pemilihan umum, atau harga saham, orang tetap harus makan.
"Pangan kini menjadi hal yang strategis. Delapan miliar orang perlu makan setiap hari. Tidak ada alternatif, tidak ada pengganti," ucap Kiyosaki.
Aset yang memenuhi semua kriteria
Permintaan yang terus ada itu hanyalah sebagian dari argumen Kiyosaki. Ia juga melihat adanya tekanan yang meningkat terhadap sumber daya yang diperlukan untuk memenuhi permintaan tersebut.
Lahan subur semakin menyusut, air semakin langka, lapisan tanah atas menghilang, dan rantai pasokan menjadi rentan. Baginya, tekanan-tekanan tersebut membuat lahan produktif menjadi aset yang sangat menarik.
"Saat sistem berada di bawah tekanan, modal riil tidak bersembunyi; modal tersebut melakukan reposisi," tuturnya.
"Modal beralih ke aset yang menghasilkan arus kas, memenuhi kebutuhan dasar manusia, bertahan menghadapi perubahan kebijakan, dan melampaui siklus keuangan. Lahan pertanian memenuhi semua kriteria tersebut," sambungnya.
Lahan pertanian menawarkan dua potensi sumber imbal hasil: pendapatan dari produksi pertanian atau penyewaan, serta kenaikan nilai (apresiasi) lahan itu sendiri. Ini memberikan investor kepemilikan atas aset yang memiliki tujuan ekonomi nyata, bukan sekadar mencari pembeli berikutnya.
"Perhatikan apa yang dilakukan orang kaya dengan uang dalam jumlah besar. Mereka tidak membeli lahan pertanian sekadar untuk bersenang-senang; mereka membelinya karena aset tersebut nyata, produktif, dan tangguh," tutupnya.
(ask/afr)


