Apakah krisis dan kelangkaan chip kecerdasan buatan (AI) secara global sudah mulai mereda? Ternyata jawabannya adalah tidak. Bahkan, bos dari pabrikan semikonduktor kontrak terbesar di dunia membawa kabar yang kurang sedap bagi industri teknologi.
Berbicara dalam ajang rapat pemegang saham tahunan, CEO TSMC, C.C. Wei, secara terang-terangan menyatakan bahwa perusahaannya tidak akan mampu memenuhi permintaan pelanggan yang membeludak hingga beberapa tahun ke depan. Lebih mengejutkannya lagi, ia memberi sinyal kuat bahwa TSMC berniat menaikkan harga chip mereka.
Berikut adalah beberapa poin krusial dari peringatan yang dilontarkan oleh bos TSMC terkait krisis chip AI:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Permintaan Gila-gilaan, Suplai Keteteran
Menurut Wei, permintaan chip AI saat ini sangat luar biasa kuat. Hal ini sebenarnya tidak mengejutkan, mengingat TSMC berada di pusat pusaran booming perangkat keras AI. Raksasa teknologi seperti Nvidia, Apple, AMD, hingga Broadcom sangat bergantung pada fasilitas pabrik asal Taiwan ini.
Setiap kali perusahaan-perusahaan raksasa itu membakar miliaran dolar untuk membangun pusat data AI, beban produksinya selalu jatuh ke pundak TSMC.
"Butuh waktu yang sangat lama sebelum kami bisa memenuhi permintaan pelanggan," ungkap Wei. Masalahnya kini bukan sekadar batas kapasitas pabrik (wafer capacity). Kemacetan suplai telah merembet ke rantai pasokan lain yang lebih luas, mulai dari vendor alat, pasokan listrik, hingga fasilitas pengemasan tingkat lanjut (advanced packaging). Jika TSMC ingin memproduksi lebih banyak, seluruh ekosistem industri juga harus bisa mengejar.
2. Sinyal Kenaikan Harga
Selain peringatan soal kelangkaan, pernyataan Wei yang paling disorot adalah rencana kenaikan harga. Menyusul biaya komponen yang terus membengkak, Wei menyebut TSMC "ingin" menaikkan tarif ke pelanggannya, meski ia berjanji kenaikannya tidak akan sedrastis dan semendadak yang dilakukan para produsen memori.
Dampaknya di pasar global sebenarnya sudah mulai terasa. Efek domino dari nafsu besar industri AI terhadap hardware telah memicu kelangkaan komponen memori seperti DRAM, NAND, dan HBM. Ujung-ujungnya, harga berbagai perangkat elektronik yang dibeli konsumen, mulai dari kartu grafis (GPU) hingga laptop, menjadi semakin mahal.
3. Proyek Raksasa di AS Tersendat
TSMC sebenarnya tidak tinggal diam melihat krisis ini. Perusahaan menggelontorkan investasi super fantastis senilai USD 165 miliar di Amerika Serikat, yang mencakup pembangunan pabrik baru di Arizona, fasilitas pengemasan, hingga pusat riset.
Namun, Wei membawa realita pahit. Memenuhi kebutuhan pelanggan AS dengan produksi di tanah Amerika membutuhkan waktu yang sangat lama. Target awal TSMC untuk memproduksi 30% dari kapasitas cip canggih (2nm ke bawah) di AS tampak semakin sulit dicapai. Kendala utamanya adalah keterlambatan izin lingkungan hidup dan krisis tenaga kerja lokal.
4. Semua Berubah Jika 'Gelembung' AI Pecah
Meski krisis pasokan diprediksi akan berlangsung lama, ada satu pengecualian besar yang harus diperhatikan. Semua kekacauan suplai ini mengasumsikan bahwa tren belanja AI akan terus meroket.
Jika hype AI ini ternyata hanyalah bubble (gelembung) yang tinggal menunggu waktu untuk pecah, permintaan chip bisa anjlok dalam sekejap dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, selama skenario terburuk itu belum terjadi, Wei meyakini krisis dan kelangkaan chip AI ini jalan ceritanya masih akan sangat panjang, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Senin (8/7/2026).
(asj/asj)

