Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Data Center Masa Depan Bakal Makin Mungil

Data Center Masa Depan Bakal Makin Mungil


Anggoro Suryo - detikInet

Data Center JK1 Milik Equinix Indonesia
Ilustrasi data center. Foto: Equinix Indonesia
Jakarta -

Kebutuhan komputasi global terus melonjak seiring pesatnya adopsi layanan digital dan kecerdasan buatan (AI). Namun, di tengah pembangunan data center berskala raksasa yang mengonsumsi daya besar, mulai muncul perdebatan soal ukuran dan bentuk infrastruktur komputasi masa depan.

Selama satu dekade terakhir, data center identik dengan fasilitas besar menyerupai gudang yang memakan energi dalam jumlah masif. CEO Nvidia Jensen Huang bahkan menyebutnya sebagai pabrik AI, menegaskan perannya sebagai tulang punggung ekonomi berbasis machine learning, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Senin (19/1/2026).

Kini, sebagian pelaku industri mulai mempertanyakan apakah data center memang harus selalu berukuran besar. Munculnya micro data center dan edge data center menghadirkan pendekatan baru, dengan perangkat komputasi berukuran kecil yang bisa ditempatkan dekat pengguna, bahkan di ruang publik atau hunian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Devon, Inggris, perusahaan bernama Deep Green menarik perhatian setelah memanfaatkan panas buangan dari data center berukuran setara mesin cuci untuk memanaskan kolam renang umum. Pendiri Deep Green, Mark Bjornsgaard, menyebut pendekatan ini sebagai arah masa depan. Menurutnya, bangunan publik berpotensi menjadi lokasi data center mini yang saling terhubung dan berbagi beban kerja sekaligus memanfaatkan panas sisa.

ADVERTISEMENT

Eksperimen serupa juga mulai masuk ke ruang privat. Pada akhir 2025, sepasang warga Inggris mengungkap bahwa server kecil di gudang kebun rumah mereka digunakan untuk memanaskan rumah. Tak lama berselang, seorang profesor universitas menceritakan GPU AI di bawah meja kerjanya kini berfungsi ganda sebagai pemanas ruangan.

Meski perusahaan hyperscaler seperti Amazon, Google, dan Microsoft terus menggelontorkan miliaran dolar untuk membangun data center raksasa, analis telekomunikasi Benedict Evans menilai ada peluang besar bagi edge data center berukuran kecil yang ditempatkan dekat pusat populasi. Kedekatan fisik ini dinilai dapat menekan latensi dan meningkatkan respons aplikasi berat komputasi.

Pandangan serupa disampaikan Amanda Brock, pimpinan kelompok advokasi OpenUK. Ia menilai dominasi data center besar berpotensi memudar seiring waktu. Menurutnya, ruang kota yang terbengkalai seperti bangunan kosong dan toko tutup dapat diubah menjadi pusat data kecil yang saling terkoneksi.

Dalam jangka panjang, Brock juga memprediksi pemrosesan data akan semakin bergeser ke perangkat lokal, mulai dari ponsel, set-top box, hingga router rumah. Perubahan ini sejalan dengan tren AI yang mulai meninggalkan model raksasa menuju model yang lebih kecil dan spesifik.

AI and climate lead Hugging Face, Dr. Sasha Luccioni, menilai model AI yang dirancang khusus dan dijalankan secara lokal cenderung lebih efisien dan membutuhkan daya komputasi lebih rendah. Menurutnya, penggunaan data center besar secara terus-menerus semakin sulit dipertahankan dari sisi lingkungan.

Dari aspek keamanan, profesor keamanan siber University of Surrey, Alan Woodward, menilai sistem terdistribusi memiliki risiko yang lebih kecil. Data center kecil dinilai tidak menjadi titik kegagalan tunggal, berbeda dengan fasilitas raksasa yang bisa berdampak luas ketika mengalami gangguan.

Bahkan, konsep data center masa depan tak lagi terbatas di Bumi. CEO Ramon Space, Avi Shabtai, menyebut luar angkasa sebagai peluang baru untuk membangun data center kecil dan modular di orbit. Perusahaannya kini tengah mengembangkan teknologi untuk menguji konsep tersebut.

Tren ini menunjukkan bahwa di tengah kebutuhan komputasi yang terus meningkat, industri mulai mencari pendekatan yang lebih fleksibel, efisien, dan berkelanjutan, dengan ukuran data center yang tak selalu harus semakin besar.




(asj/fay)







Hide Ads