'SDM Harus Dibayar Pantas untuk Gairahkan Industri Software'
- detikInet
Jakarta -
Pihak industri harus memberi peluang pada sumber daya manusia (SDM) lokal dan menciptakan iklim industri software yang sehat. SDM harus dibayar pantas dan harus ada proyek untuk lokal.Hal tersebut disampaikan Vice President Director PT Microsoft Indonesia Ari Kunwidodo. Menurut Ari, penghargaan terhadap SDM adalah salah satu dari tiga hal yang perlu dilakukan untuk menggairahkan industri software di Indonesia, agar bisa menyaingi India."Perlu upaya bersama dari akademi, industri, dan pemerintah untuk menjadikan software sebagai industri unggulan," kata Ari di Hotel Intercontinental Jakarta, Rabu (24/05/2006).Langkah pertama untuk menjadikan software sebagai industri layaknya di negara lain semisal India ialah perlunya ketersediaan SDM teknologi informasi (TI) andal.Universitas harus bisa menyiapkan SDM TI yang kompeten dan meyakinkan mahasiswanya untuk terus fokus di industri software. "Jadi nggak perlu pindah (kerja) ke industri lain gara-gara lokal software belum masuk ke mainstream, baru ke niche market," tandas Ari.Langkah kedua ialah perlunya fasilitas dan insentif dari pemerintah dalam bentuk kemudahan, kebijakan dan regulasi. Pemerintah, menurutnya, perlu membuat koridor peraturan agar software punya benefit bisnis yang berkelanjutan.Dan langkah yang ketiga, pihak industri juga harus memberikan peluang pada SDM lokal dan menciptakan iklim industri yang sehat. "SDM harus dibayar pantas. Proyek untuk lokal harus ada," ujarnya.Bila dibandingkan dengan India, Ari merasa SDM TI Indonesia tidak kalah berpotensi. "Peluang Indonesia cukup besar," katanya. Namun, menurutnya, India sudah lebih dahulu menyiapkan tiga pilar utama tersebut untuk menjadikan software sebagai industri unggulan."Hampir semua perusahaan multinasional di India memberikan peluang untuk local talent," tandasnya.Kemudian, lanjutnya, pemerintah India dan industri (termasuk vendor) juga bahu membahu memfasilitasi SDM lokal yang kompeten, misalnya dengan pusat pengembangan software dan pusat riset. Kesemuanya itu perlu usaha dan biaya yang tidak sedikit."Banyak pekerjaan yang diperlukan untuk itu. Namun, effort yang disiapkan oleh India sebanding dengan pengeluaran untuk infrastruktur," jelas Ari.Sementara itu, Ketua Asosiasi Piranti Lunak Indonesia (Aspiluki) Djarot Subiantoro mengatakan, para pengembang software harus terus berinovasi dan membuat terobosan baru."Jangan berhenti di inovasi. Buat agar inovasi itu bermanfaat dan jadi commercial value," katanya pada detikINET, masih di kesempatan yang sama.Menurutnya ada dua hal agar pengembang software bisa bertahan di industri. Pertama, membuat usaha sendiri, kedua, bermitra dengan industri. (rou)(Catatan Redaksi:Bagi pemberi komentar, mohon tidak mengisi kolom nama dengan kata/kalimat yang tak lazim sebagai nama orang. Nama samaran diperbolehkan. Pengisian nama dengan nama milik orang lain (public figure), alamat situs, merek, nama institusi tertentu dan/atau cenderung vulgar/ofensif/SARA, tidak diperkenankan.)
(rouzni/)