Ekspor Software Lokal Jajakan Aplikasi Syariah
- detikInet
Jakarta -
Industri software memang bukan komoditas andalan di tanah air. Meski begitu, para pelaku di industri ini tetap semangat untuk mengekspor produknya.Di tahun 2006, perusahaan software lokal mulai mengusahakan agar produknya mampu menembus pasar luar negeri. "Beberpa perusahaan software lokal mulai mencari cara bagaimana produknya mampu menjangkau pasar regional, seperti Malaysia, Filipina dan Sri Langka," kata Djarot Subiantoro, Ketua Umum Asosiasi Piranti Lunak Indonesia (Aspiluki), saat dihubungi detikinet, Selasa (3/1/2006).Karena bukan penghasil sistem operasi, Djarot mengatakan, pengusaha software Indonesia akan banyak mengandalkan software-software aplikasi dan konten."Contoh aplikasi yang akan jadi andalan ekspor adalah aplikasi untuk syariah, baik aplikasi lembaga keuangan syariah maupun bank syariah," papar Djarot. "Untuk aplikasi semacam ini kita dianggap punya pengetahuan yang lebih luas," ujarnya.Selain itu, menurut Djarot, aplikasi agriculture seperti sistem pembenihan, juga banyak diminati negera tetangga. Itu terjadi karena di negara lain pasarnya tidak seluas di Indonesia. "Jadi mereka mempercayakan pengembangan software pada negara yang pasarnya memang luas," ujar Djarot.Sedangkan untuk konten, Indonesia banyak mengandalkan pada konten-konten yang banyak memuat grafis dan animasi. Disampaikan Djarot, selama ini 90 persen produk software lokal masih ditujukan untuk pasar dalam negeri. Penguatan Industri SoftwareHal lain yang juga jadi fokus Aspiluki di tahun 2006 adalah penguatan industri di dalam negeri sendiri. Diakui Djarot, industri software memang belum bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri. Oleh karena itu, asosiasi ingin agar industri ini tumbuh dalam kondisi pasar dalam negeri yang kuat."Kita akan melakukan pengembangan mutu developer dan standarisasi mutu pengembang software," ungkap Djarot. "Standarisasi selama ini lebih kepada individu, nantinya lebih mengarah pada organisasinya, perusahaannya." Karena menurut Djarot, kualitas output sangat tergantung pada proses atau standar bisnis yang dijalankan dalam perusahaan software. "Kita akan menerapkan Capabality Maturity Model (CMM) yang selama ini memang dipakai oleh pengembang software internasional," ujarnya.Dari segi bisnis, Aspiluki berharap penjualan software banyak terbantu dengan penggunaan software di kalangan pemerintah. "Perlu adanya regulasi agar ada keseimbangan antara sumber daya manusia, infrastruktur, regulasi dan pemanfaatan teknologi informasi (TI) di kalangan pemerintah," papar Djarot.
(ketepi/)