Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Bandwidth Kantor Terbuang untuk Urusan Non-Bisnis

Bandwidth Kantor Terbuang untuk Urusan Non-Bisnis


- detikInet

Jakarta - General Manager Packeteer Inc. untuk kawasan Asia Selatan Michael See mengatakan, lebih dari 80 persen perusahaan korporasi dan multicompany menggunakan aplikasi dan jaringan yang berbasis Wide Area Network (WAN). "Namun sayangnya di banyak perusahaan tersebut, keberadaan bandwidth yang sangat mahal ternyata tidak digunakan untuk aplikasi-aplikasi bisnis, tapi lebih banyak untuk non-bisnis," kata Michael dalam keterangan tertulisnya yang diterima detikinet, Senin (26/12/2005). Aktivitas non-bisnis yang dimaksud Michael yakni seperti men-download lagu, video atau chatting di internet, yang tentunya sangat memerlukan bandwidth yang besar.Kondisi seperti itu tentunya sangat menguntungkan perusahaan yang menawarkan solusi peningkatan kapasitas bandwidth, termasuk Packeteer. Sedangkan di Indonesia, proses distribusi produk ditangani oleh Transition System Indonesia (TSID). Masih menurut Michael, dari tahun ke tahun permintaan kapasitas jaringan akan berkembang terus dengan adanya kebutuhan terhadap konvergensi, dimana data, suara dan video berjalan secara simultan di atas jaringan infrastruktur yang sama. Hal itu mengakibatkan trafik yang cukup tinggi hingga menimbulkan problem di dalam jaringan tersebut."Akibatnya aplikasi-aplikasi bisnis yang seharusnya mendapat prioritas utama menjadi tersendat atau terganggu karena tidak cukupnya kapasitas bandwidth yang tersedia. Hal ini tentu saja akan sangat mempengaruhi performansi bisnis itu sendiri," lugasnya.Melihat keadaan seperti itu, Country Manager Transition System Indonesia Agung Grahaputra mengaku optimis mengejar target pertumbuhan pelanggan antara 50-60 persen pada 2006 nanti dengan menggenjot penjualan produk-produk Packeteer. Paket solusi jaringan itu sendiri sejak diluncurkan pada Juni lalu hingga Desember 2005 ini, menurut Agung, telah berhasil didistribusikan TSID dengan angka penjualan sekitar US$ 1 juta.Di Indonesia, klaim Agung, beberapa perusahaan besar yang telah menggunakan Packeteer, antara lain yang bergerak di bidang jasa telekomunikasi dan ISP, penerbangan, perbankan dan keuangan serta lembaga pemerintah.Agung mengklaim ada beberapa keuntungan yang ditawarkan Packeteer seperti mengenali aplikasi yang lewat, berapa banyak bandwith yang dikonsumsi oleh aplikasi tersebut, mengatur prioritas aplikasi sehingga waktu responnya terjamin, serta dapat melakukan proses kompresi pada data yang lewat. (rouzni/)







Hide Ads