Senin, 28 Okt 2019 14:22 WIB

Transformasi Digital Perusahaan Bukan Soal Adopsi Teknologi Canggih

Agus Tri Haryanto - detikInet
Foto: iStock Foto: iStock
Jakarta - Pesatnya penggunaan ICT di Indonesia disambut optimisme dan harapan tinggi dari para pelaku bisnis akan pentingnya transformasi digital. Di sisi lain ada tantangan ketika suatu perusahaan melakukan transformasi digital.

CEO Markplus Inc, Iwan Setiawan memaparkan kajian pihaknya terkait tantangan digital yang dihadapi perusahaan saat ini, yaitu mulai dari terlampau tingginya intensitas iklan dan promosi di channel digital yang memunculkan tantangan 'battle for attention'.

Selain itu, tingginya Generation Gap, Digital Divide, New CX Imperative hingga terjadinya polarisasi market yang merubah paradigma branding.



"Keseluruhan tantangan transformasi tersebut memerlukan strategi yang tepat untuk dapat dijadikan peluang dalam mengembangkan bisnis perusahaan," kata Iwan dalam keterangan tertulisnya.

Senada dengan hal tersebut, VP Marketing Infomedia Widi Sagita mengungkapkan, temuan dari MIT yang menyatakan bahwa kegagalan dalam melakukan transformasi digital akan berdampak pada turunnya pendapatan perusahaan hingga mencapai 30% dalam kurun waktu lima tahun mendatang. Bahkan, dampaknya akan lebih besar bagi Fortune 500 Company.

Tantangan tersebut, dikatakan Iwan, dapat dilakukan dengan menentukan strategi yang tepat dalam transformasi digital. Perlunya perusahaan mengenal customer-nya dengan baik sampai dapat menemukan bottle neck dari proses pengembalian keputusan pelanggan dalam melakukan proses pembelian.



Widi juga mengatakan transformasi digital tidak hanya terpatok pada kecanggihan teknologi yang digunakan. Transformasi yang berhasil harus mampu mewujudkan objektif perusahaan dalam menciptakan happy customer, lower cost, dan memunculkan potential new revenue bagi kelangsungan pertumbuhan bisnis perusahaan.

Salah satu implementasi keberhasilan transformasi digital yang mampu menjawab ketiga objektif tersebut dipaparkan dalam sharing session oleh EVP Center of Digital BCA, Wani Sabu.

Ia menjelaskan transformasi Halo BCA dari masa ke masa, dan menggambarkan bagaimana sebuah transformasi digital yang berawal dari insight melalui voice of customer, lalu didukung penuh oleh pucuk pimpinan tertinggi perusahaan.

"Hal ini mampu membawa BCA menjadi perbankan yang besar dan dicintai pelanggannya, meningkatkan efektivitas proses, hingga memunculkan potensi revenue baru melalui terobosan-terobosan menarik, dan sesuai kebutuhan pelanggan," ujarnya.

Simak Video "Social Media Week Jakarta, Optimalkan Medsos Jadi Umpan Positif"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/fay)