Kamis, 23 Mei 2019 15:18 WIB

Kolom Telematika

Konektivitas Cepat Jadi Kunci UKM Wujudkan Transformasi Digital

Penulis: Lawrence Lim - detikInet
Ilustrasi. Foto: istock Ilustrasi. Foto: istock
Jakarta - Indonesia menargetkan delapan juta pelaku industri kecil dan menengah (SME) atau UKM akan masuk ke pasar digital pada 2019. Ini sebuah langkah yang logis mengingat Indonesia tahun lalu sudah menjadi pemimpin perekonomian internet Asia Tenggara dengan nilai sebesar USD 27 miliar dari total nilai perekonomian internet kawasan Asia Tenggara USD 72 miliar, menurut laporan e-Conomy SEA 2018 oleh Google-Temasek.

Perekonomian internet Indonesia diprediksikan akan mencapai USD 100 miliar pada 2025 atau 40% dari nilai total di kawasan Asia Tenggara yang akan mencapai USD 240 miliar pada tahun tersebut. Karena itu, peluang SME Indonesia untuk memasuki perekonomian digital menjadi terbuka lebar. Namun, mengubah peluang menjadi kesuksesan nyata tidaklah mudah. Apalagi Indonesia juga tengah menghadapi transformasi digital, sebuah tren global yang memunculkan banyak disrupsi di berbagai sektor bisnis.

Transformasi digital tak sekadar menuntut SME Indonesia untuk mengikuti tren pasar, tapi juga mengadopsi strategi yang tepat agar bisa meraih keuntungan dari terbukanya berbagai peluang di perekonomian digital. Kesiapan infrastuktur TI adalah salah satu hal terpenting yang harus dipertimbangkan oleh SME Indonesia di era perekonomian digital.

Teknologi-teknologi digital baru seperti augmented reality atau virtual reality (AR/VR) serta video streaming 4K atau bahkan 8K kini menjadi sesuatu yang mainstream. Meski beberapa penyedia broadband sudah menyediakan koneksi bandwidth yang cepat untuk para pemain SME, aplikasi-aplikasi yang haus bandwidth menjadi tantangan tersendiri bagi infrastruktur jaringan yang tersedia saat ini.

Di ranah mobile, industri telekomunikasi menjawab persoalan kepadatan jaringan akibat kemunculan teknologi-teknologi digital baru tersebut dengan memperkenalkan teknologi 5G yang lebih cerdas, lebih cepat dan lebih efisien ketimbang 4G. Dengan kecepatan hingga 100 gigabit per detik, 5G menjadi 100 kali lebih cepat dari 4G.

Pengalaman video streaming 4K maupun 8K dijamin akan lebih memuaskan dalam jaringan 5G. Yang lebih penting lagi, dengan latensi (latency) yang lebih rendah, perangkat yang terhubung dengan jaringan 5G dapat menjadi pengganti kabel modem atau pun Wi-Fi.

Masalahnya, di mana pun di seluruh dunia, teknologi 5G masih pada fase uji coba. Di Indonesia, pemerintah bahkan belum mengalokasikan frekuensi untuk teknologi mobile terbaru ini. Namun, kepadatan jaringan akibat teknologi-teknologi digital baru sudah terasa. SME, yang kerap memiliki anggaran terbatas untuk meningkatkan paket langganan broadband mereka, termasuk diantara para pihak yang paling 'merana'.

Lalu muncullah Wi-Fi 6. Teknologi Wi-Fi generasi ke-6 ini kerap dijuluki sebagai 'sepupu' 5G karena seperti halnya 5G, Wi-Fi 6 merupakan sebuah lompatan teknologi konektivitas untuk menjawab tren ledakan data dan kebutuhan akan latensi rendah dalam pengalaman mobile saat ini.

Berbasis spesifikasi 802.11ax, Wi-Fi 6 akan membantu terwujudnya dekade baru dengan berbagai kemungkinan karena tidak hanya 4 hingga 10 kali lebih cepat ketimbang Wi-Fi generasi sebelumnya, tapi juga menjadi sebuah perangkat yang mumpuni untuk menghasilkan jaringan Wi-Fi dengan performa yang stabil dan berkecepatan tinggi di lebih banyak perangkat dengan cakupan yang lebih luas.

Dengan latensi yang jauh lebih rendah, Wi-Fi 6 mendukung video streaming 8K serta pengalaman AR/VR yang belum pernah dirasakan sebelumnya. EnGenius bangga menjadi vendor pertama yang memperkenalkan access point 2x2 Wi-Fi 6 (802.11ax) untuk SME, yakni, EWS357AP Managed Indoor Wireless Access Point dan EWS377AP Managed Indoor Wireless Access Point untuk SME dengan lingkungan berkepadatan tinggi.

Kedua perangkat ini tidak hanya menghadirkan pengalaman Wi-Fi baru dan terbaik bagi para pelaku SME, namun juga dapat memperkuat kapasitas dan jangkauan pita frekuensi 2,4 GHz dan 5GHz sehingga SME bisa mengatasi keragaman perangkat nirkabel yang terhubung ke jaringan broadband.

Dengan Diluncurkannya EnGenius EWS357AP dan EWS377AP, konektivitas 11ax kini tak lagi hanya bisa diadopsi oleh perusahaan-perusahaan besar, namun juga oleh SME baru yang ingin membangun jaringan nirkabel yang siap menghadapi tantangan konektivitas di masa depan untuk menjawab berkembangnya tekonologi-teknologi digital terbaru dan pertumbuhan bisnis mereka.

Indonesia memiliki 62,92 juta SME atau 99,92% dari total entitas bisnis yang beroperasi di negara ini. Kontribusi SME terhadap produk domestik bruto (PDB) negara mencapai lebih dari 60% dalam lima tahun terakhir. Kementerian Perindustrian memperkirakan, adopsi teknologi digital akan membantu para pelaku SME meningkatkan pendapatannya hingga 23-80%.

Penggunaan Wi-Fi 6 merupakan langkah pertama yang bisa ditempuh oleh SME Indonesia dalam mengatasi kepadatan jaringan di lingkungan IT mereka, demi terwujudnya pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

* Penulis adalah Regional GM (APAC dan Timur Tengah), EnGenius Networks (fyk/fyk)