Selasa, 05 Mar 2019 09:27 WIB

Ide Sederhana di Balik 'Fintech Para Raksasa' LinkAja

Ardhi Suryadhi - detikInet
LinkAja. Foto: LinkAja LinkAja. Foto: LinkAja
Barcelona - Industri Fintech Indonesia telah kedatangan pemain baru yang disokong para raksasa BUMN. Ya, dia adalah LinkAja.

LinkAja merupakan merek layanan uang elektronik yang dioperasikan PT Fintek Karya Nusantara (Finarya), perusahaan baru yang berada langsung di bawah komando Meneg BUMN Rini Soemarno selama proses kelahirannya.

Kepemilikan LinkAja saat ini masih dikuasai Telkom melalui Telkomsel. Namun nantinya, saham perusahaan ini akan dibagi-bagi kepada Telkom melalui Telkomsel, serta Bank Mandiri, BNI, BRI, Pertamina, dan beberapa perusahaan BUMN lainnya.

Dengan kata lain, LinkAja merupakan penyatuan seluruh produk fintech BUMN: yakni T-cash milik Telkomsel, Yap! BNI, e-Cash Bank Mandiri dan T-bank dari Bank BRI.

Direktur Utama Telkom Alex J. Sinaga menceritakan bahwa ide awal dari kelahiran LinkAja sebetulnya sederhana. Pertama, terkait kondisi kebijakan di Indonesia yang saat ini relatif masih cukup tertinggal. Kedua, ada visi cashless society Bank Indonesia yang harus disokong banyak pihak.



"Khususnya soal finansial inclusion, dimana itu menjadi tanggung jawab pemerintah," ujarnya saat berbincang dengan detikcom dalam agenda Mobile World Congress di Barcelona, Spanyol.

Menurut Alex, kedua hal ini sebetulnya bicara barang yang sama cuma dilihat dari dua angle berbeda. Nah, berdasarkan temuan itu kemudian dilakukan dengan kondisi yang terjadi di pasar Indonesia. Dimana jawabannya justru inisiatif tersebut sangat siap sekali dari luar Indonesia.

"Saya sebut contoh Alipay. Sementara sebetulnya pemerintah cq Kementerian BUMN punya kendaraan cukup banyak, empat bank negara punya masing-masing produk fintech. Telkom dan Telkomsel bahkan punya masing-masing, T-Cash dan T-Money," lanjutnya.

Pun demikian, hal ini (BUMN punya produk fintech sendiri-masing) jangan lantas dibilang salah langkah, tergantung dari bagaimana melihatnya.

"Pada saat inisiatif masih sangat mudah ide itu maka ada dua pendekatan, langsung bicara efisiensi atau kita bicara kebebasan. Nah, di IT kebanyakan kecenderungannya itu di relaksasi. Jadi kalau ada inisiatif baru itu biasanya kalau langsung diatur, 'oh kita harus efisien', biasanya gak lahir-lahir tuh," kilah Alex.



Terlebih dulu yang namanya e-money dengan pendekatan Telkom Group yang nanti ujung-ujungnya bicara konsolidasi. Contohnya big data analytics, di Telkom Group itu Telkom punya pelanggan banyak, Telkomsel juga, belum lagi dengan ada anak perusahaan lainnya yang yang punya pelanggan tak kalah banyaknya.

"Dengan kondisi seperti itu (pelanggan banyak dari sejumlah anak perusahaan-red.) kira-kira kita mau berpikir dari awal gak? Lah wong pengalaman mengerjakannya saja belum pernah di data analytics ini, gimana mau langsung ngomong konsolidasi dulu?" Alex memberi contoh.

Gaya pendekatan 'tak belajar dari pengalaman' seperti inilah yang biasanya di industri IT akan membuat inovasi mati. Untuk itu di kalangan BMUN dulu dibebaskan membuat produk uang digital.

Meskipun 'pelajaran yang berharga' ini pada akhirnya mesti dibayar dengan harga mahal lewat nilai investasi yang sudah kadung digelontorkan. Namun, hal ini dianggap sebagai hal biasa di tataran dunia digital. Dimana ketika waktunya sudah tepat maka konsolidasi akan menjadi pilihan selanjutnya.

"Hal seperti ini sebenarnya mirip, 'kenapa gak dari dulu Bank Himbara (Himpunan Bank Milik Negara) konsolidasi dengan BUMN, dari awal digitalisasi itu muncul? Mungkin kalau pendekatan itu digunakan mungkin gak ada yang jadi tuh. Nah sekarang udah ada pada punya dan Kementerian BUMN melihat ini waktu yang tepat untuk konsolidasi. Skalanya jadi bisa lebih nendang," papar Alex yang juga merupakan Komisaris Utama Telkomsel.

Ego BUMN

Pun demikian, harus diakui bahwa menyatukan para raksasa BUMN dengan masing-masing egonya tentu bukanlah hal mudah. Hal ini pun diakui Alex. Tetapi lain cerita jika hal ini diorkestrasi oleh tangan tegas Kementerian BUMN.

"Karena mereka (Kementerian BUMN-red.) yang punya. Termasuk pembagian sahamnya sudah diputuskan pembagian sahamnya sesuai peran masing-masing. Tapi tidak selamanya akan begitu, karena terserah yang punya (Kementerian BUMN-red.)," lanjutnya.

Peran di sini misalnya, Telkomsel akan diandalkan teknologi T-cashnya sebagai backbone LinkAja. Pertamina ikut serta lantaran lewat SPBU-nya akan menjadi merchant yang cukup besar dari penggunaan LinkAja. Hal ini tentu jadi peluang termasuk mendorong layanan Pertamina masuk untuk lebih melek digital.

Termasuk rencana memasukkan perusahaan asuransi BUMN untuk berada di balik kepemilakan saham. Hal ini diyakini karena industri micro insurance Indonesia salah satu yang paling rendah di dunia.

"Jadi pemegang saham itu melihatnya dari helicopter view. Dan mungkin tahu depan bisa berubah kepemilikan sahamnya tergantung perkembangan, dan apa yang paling penting untuk negara," tutup Alex.



Sejauh ini, baru pelanggan Tcash Telkomsel yang mulai diintegrasikan dengan LinkAja. Sementara itu untuk pelanggan banking lainnya, direncanakan dilakukan pada bulan Maret 2019.

Nantinya LinkAja bakal menyediakan berbagai layanan, seperti pembayaran tagihan (listrik, PDAM, BPJS, internet); transaksi di merchant seperti Pertamina, pembayaran moda transportasi, hingga pembelian online. (ash/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed