Rabu, 30 Jan 2019 20:45 WIB

Amerika Sudah Terlambat Jegal Laju Huawei, Kecuali...

Fino Yurio Kristo - detikInet
Logo Huawei. Foto: Reuters Logo Huawei. Foto: Reuters
FOKUS BERITA Bos Huawei Ditangkap
Jakarta - Laju Huawei sebagai perusahaan teknologi global terancam oleh Amerika Serikat. Mulai dari pemblokiran perangkat 5G Huawei sampai penahanan sang Chief Financial Officer, Meng Wanzhou. Akan tetapi jika memang tujuan AS untuk menjegal Huawei, mereka mungkin sudah terlambat.

Pasalnya, dikutip detikINET dari CNN, Huawei telah berada di posisi dominan dalam pengembangan teknologi 5G. Mereka juga sudah punya konsumen loyal di negara-negara berkembang serta sebagian Eropa. Bisnis smartphone sudah pula nomor dua di dunia.

"Kampanye ini hanya memperlambat bisnis Huawei di beberapa negara Eropa dan Asia Pasifik. Tapi saya pikir mereka tidak akan mundur dari pasar lain dalam waktu dekat," sebut Charlie Dan, analis di Forrester.




Memang tekanan AS sangat signifikan dan jika Huawei dicekal tak boleh membeli teknologi AS, bisa runyam akibatnya. "Huawei tak terlalu bergantung pada pemasok AS seperti ZTE, tapi tanpa akses pada teknologi AS, mereka takkan survive lama," ujar Dan Wang, analis biro riset Gavekal.

Untuk saat ini, Huawei tetap dalam posisi kuat dalam pengembangan jaringan 5G. Mereka menyatakan telah menandatangani 30 kontrak 5G dan bekerja sama dengan 50 operator untuk tes komersial. Huawei juga salah satu pemegang terbanyak paten 5G.

Amerika Sudah Terlambat Jegal Laju Huawei, Kecuali...Foto: CNN

Huawei memang telah menghabiskan waktu beberapa dekade untuk menguasai pasar dengan strategi hardware bagus dan harga kompetitif. Sehingga mereka berhasil melampaui Ericsson dan Nokia sebagai penyedia infrastruktur telekomunikasi terbesar.

Meskipun dicekal beberapa negara, pasar Huawei di negara berkembang diprediksi tak terganggu. Pasalnya, operator di negara-negara berkembang tentu banyak mempertimbangkan soal harga.




"Operator akan menekan ongkos dalam apapun dan salah sau caranya adalah dengan menggunakan perangkat dari China yang lebih murah tapi sudah terbukti," ujar Kenny Lew, analis di Fitch Solution.

Huawei terbantu karena mau berinvestasi awal di negara seperti Nigeria. "Ada negara-negara di Afrika di mana Huawei mengambil risiko berinvestasi ketika vendor lain merasa khawatir," tambah Kenny.

Negara yang mendapat investasi dari China mungkin juga takkan melarang Huawei karena cemas akan adanya tindakan balasan. Semua faktor tersebut mendukung masa depan Huawei kecuali AS memainkan kartu as dengan melarang teknologinya dipakai Huawei. Jika begitu, ceritanya bisa berbeda.


(fyk/krs)
FOKUS BERITA Bos Huawei Ditangkap