FBI Perluas Penggunaan 'Software Cerdas'
- detikInet
Jakarta -
Biro penyelidikan Amerika Serikat, Federal Bureau of Investigation (FBI), memperluas penggunaan aplikasi business intelligence dari MicroStrategy. Piranti lunak 'cerdas' itu bisa dipakai di seluruh unit FBI. Penggunaan piranti lunak itu secara luas tertuang dalam kesepakatan antara FBI dengan MicroStrategy. Kesepakatan itu bernilai US$ 1,6 juta (Rp 15,7 miliar). Seperti yang dilansir detikinet, Senin (15/8/2005) dari TechWeb, software ini digunakan untuk akses data yang dibutuhkan FBI. Baik untuk operasional sehari-hari maupun untuk investigasi dan aktivitas intelijen.FBI mulai mengimplementasikan software MicroStrategy tahun 2004. Software ini digunakan untuk mendukung sistim Investigative Data Warehouse. Yaitu sistem yang memungkinkan penyelidik menyadap banyak database.Software dari MicroStrategy itu akan diterapkan sebagai standar. "Baik untuk proyek jangka pendek dan proyek lainnya yang sedang berjalan, serta untuk beberapa proyek jangka panjang," ujar Gary Monroe, direktur MicroStrategy untuk pemerintahan.Investigative Data Warehouse itu dikembangkan pada awal 2004. Hal itu tak lama sesudah FBI menutup sistim Virtual Case File. Padahal, Virtual Case File dicanangkan sebagai 'batu loncatan' untuk modernisasi di FBI.Sistem Virtual Case File itu pada akhirnya dibatalkan dan akan diganti oleh sistem manajemen informasi bernama Sentinel. Sistim baru itu akan menggunakan arsitektur berorientasi layanan dan akan dikembangkan bertahap dalam waktu empat tahun.Pekan ini, FBI membuka diri bagi pihak yang ingin mengajukan proposal untuk mengembangkan Sentinel. Sebanyak 40 perusahaan diminta FBI untuk mengajukan proposal. Kemungkinan kontrak itu akan disetujui akhir tahun ini.Monroe, dari MicroStrategy, mengatakan belum pasti bahwa produk business intelligence perusahaannya akan menjadi bagian dari Sentinel. Namun ia memuji keputusan FBI untuk mulai menstandardisasikan aplikasi yang digunakan.
(wicak/)