Jumat, 08 Jun 2018 21:56 WIB

Mengenal NUMA, Hasil Evolusi dari Perintis Coworking Space di Paris

Achmad Rouzni Noor II - detikInet
Foto: Dok. Kibar Foto: Dok. Kibar
Jakarta - Perjalanan KIBAR & Digitaraya di Paris (28/05) berlanjut ke salah satu perintis coworking space disana yang bernama NUMA. Sebagai coworking space pertama di Prancis, sejarah tempat ini dimulai pada tahun 2008 dengan nama La Cantine, sebuah wadah kolaborasi terbuka antar anggotanya. Kolaborasi tersebut berkembang dengan diluncurkannya Le Camping pada tahun 2011, akselerator startup pertama yang ada di Prancis. Pada tahun 2013, barulah La Cantine dan Le Camping bergabung dan melakukan rebranding menjadi NUMA.

Kedatangan dari tim KIBAR disambut oleh Frederic Oru, Head of International NUMA. Beliau mengatakan, "Daya tarik NUMA dibanding tempat lain adalah kami memiliki sebuah venue khusus yang berfokus untuk memproduksi media imersif untuk keperluan profesional bernama
Le Pavillon."

Le Pavillon didirikan oleh NUMA bersama Antilogy dan memiliki misi untuk membantu perusahan-perusahaan memaksimalkan penggunaan media imersif seperti AR & VR dalam keperluan bisnisnya. Ditambah lagi, tempat ini juga mengundang para pemula untuk bereksperimen dengan teknologi tersebut untuk mengembangkan potensi mereka.

Secara garis besar, area di NUMA terbagi menjadi dua, yaitu kafe dan coworking space. Menariknya, NUMA merupakan salah satu kafe yang memiliki koneksi internet yang sangat cepat dan gratis, di mana hal tersebut cukup jarang ditemukan pada sebuah kafe di Paris. Internet cepat ini disediakan karena kebanyakan pengunjung kafe NUMA ini adalah penggiat teknologi dan startup yang membutuhkan koneksi internet diatas rata-rata.

Di area coworking space-nya, NUMA seringkali mengadakan workshop, seminar, dan diskusi mengenai ekosistem startup di Prancis. Pada awalnya, NUMA hanya mengadakan program dari tim internal saja.

Namun, sekarang mereka sudah memiliki beberapa partner yang terdiri dari sekolah-sekolah dan juga asosiasi yang berfokus pada business-to-business (B2B). Untuk pembagian ruangannya, lantai satu digunakan sebagai Google Studio yang disponsori oleh GFE (Google for Entrepreneurs). Lantai dua digunakan sebagai lokasi Corporate Innovation, tempat yang menghubungkan startup dengan perusahaan korporat. Saat ini, ada
sekitar 20 program yang sedang berjalan pada bagian Corporate Innovation ini.

Mengenal NUMA, Hasil Evolusi dari Perintis Coworking Space di ParisFoto: Dok. Kibar

Mengirim Beberapa Startupnya ke Amerika Menurut data yang diberikan, NUMA mengirim 20% dari startup yang menjadi anggotanya ke pusat teknologi dunia, yaitu Amerika, dengan membuka jalur koneksi kepada mereka. Kebanyakan startup yang melebarkan sayapnya ke sana membutuhkan waktu satu hingga dua tahun untuk mempelajari pasar di sana terlebih dahulu. Hal ini menjadi alasan NUMA membuka cabang di New York, untuk menjembatani celah dari perbedaan pasar yang ada.

Di sisi lain, NUMA juga berusaha untuk mengundang startup asing melakukan ekspansi ke pasar Eropa. Sejauh ini, belum banyak startup sukses dunia yang telah membuka cabangnya dinegara tersebut. Mereka melihat kesempatan untuk memfasilitasi startup asing untuk mencari co-founder lokal yang sudah paham pasar di Eropa terlebih dahulu.

Dalam kunjungan kali ini, KIBAR mendapatkan kesempatan untuk melakukan kerja sama dalam bentuk program bersama NUMA. Setelah ini, KIBAR dan Digitaraya akan melanjutkan studi banding ke kampus startup terbesar di dunia. Nantikan kisahnya! (jsn/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed