Tahun ini, Indonesia Butuh 1.400 Pengembang Java
- detikInet
Jakarta -
Selama tahun 2005, Indonesia membutuhkan 1.400 pengembang aplikasi berbasis Java. Kebutuhan ini belum mampu terpenuhi, mengigat minimnya pendidikan Java berstandar internasional di Indonesia.Hal tersebut disampaikan Harry Kaligis, Business Development General Manager, PT. Sun Microsystems Indonesia, pada acara temu wartawan yang berlangsung di kantornya, Jakarta, Kamis (14/4/2005). Mengutip hasil penilitian lembaga riset IDC, Harry memaparkan, di Indonesia kebutuhan tenaga kerja TI untuk programer, pengembang dan analis mencapai 7.000 orang selama tahun 2005. Dari jumlah tersebut, 57 persen atau sekitar 3.990 diantaranya, masih lowong. Harry memperkirakan, 35-45 persen dari posisi lowong itu adalah untuk bidang Java."Artinya ada demand sekitar 1.400 orang yang harus diisi," kata Harry. Menurutnya, Java memang bukan hal baru di lingkungan kampus. Tapi, kurikulum yang ada belum berstandar internasional. "Kami perkirakan ada 2.000 sampai 3.000 mahasiswa yang belajar Java tiap tahunnya. Tapi itu belum bisa memenuhi kebutuhan industri," paparnya.Hal tersebut, menurut Harry, ingin dipenuhi melalui Java Education Center (JEC). Sun Microsystems -- perusahaan penyedia solusi teknologi komputasi jaringan dan pengembangan teknologi berbasis Java -- bersama-sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan (LIPI), merealisasikan keberadaan JEC di dua lembaga tersebut. JEC adalah pusat pelatihan dan pengembangan teknologi Java & Open Technology. Pusat pelatihan ini juga merupakan manifestasi dari komitmen Sun Microsystems, untuk mengembangkan kompetensi sektor teknologi informasi dari suatu negara."Hasilnya mungkin baru bisa tampak dalam dua tahun, kita tidak mau sistemnya berlangsung instan," katanya.Dalam perjalanannya, Harry menjelaskan, JEC akan dikembangkan menjadi Java Business Resource Center (JBRC). Ini merupakan inkubator bisnis untuk menghadirkan aplikasi yang bisa dijual. Seperti halnya JEC, JBRC juga dikembangkan di dua tempat yaitu ITB dan LIPI. Desktop untuk Warnet dan PemerintahPada kesempatan yang sama, Harry memaparkan bahwa JBRC yang ada di LIPI memiliki sasaran yang berbeda dengan JBRC yang ada di ITB. Keduanya memang diarahkan untuk menyediakan aplikasi berbasis teknologi Java, tapi LIPI mengarahkan aplikasi buatannya untuk memenuhi kebutuhan desktop untuk Warung Internet (Warnet) dan desktop untuk pemerintah."Arah JBRC yang di LIPI akan bergabung dengan inisiatif teknologi informasi milik pemerintah, seperti Indonesia Goes Open Source (IGOS)," kata Harry. "Salah satu yang dikembangkan adalah desktop untuk pemerintah dan Warnet," imbuhnya.Disampaikan Harry, pihaknya belum dapat mempublikasikan detil program tersebut, hanya saja dikatakan bahwa mereka akan mengambil basisnya dari Java Desktop Systems. "Langkah ini diharapkan dapat menumbuhkan kebanggaan lokal," katanya.Sementara itu, JBRC di ITB lebih mengarah pada pengembangan aplikasi-aplikasi nirkabel. Harry menjelaskan, pihaknya telah menggalang kerjasama dengan produsen ponsel, Nokia. Ini dilakukan agar aplikasi yang dikembangkan bisa langsung diuji pada platform yang nyata."Pola pengembangannya dibentuk oleh pasar, bukan kami," ujar Harry. "Jadi kita akan menjelaskan ke developer apa yang dibutuhkan pasar," imbuhnya.Harry menjelaskan, sampai saat ini ITB sudah memiliki lima proyek yang akan dikembangkan di JBRC. Kelima aplikasi tersebut adalah: Mobile Instant Messenger, platform MMS, mobile game dengan single/multi plyer, mobile chating lewat bluetooth dan enterprise mobile aplications.Secara keseluruhan, tegas Harry, kedua JBRC ini akan tergabung dalam jaringan JBRC internasional. "Sehingga harapannya bisa mengekspor aplikasi," tandasnya.
(rouzni/)