"Tidak diragukan lagi Indonesia merupakan negara dan pasar yang besar. di Indonesia Fuji Xerox menunjuk Astragraphia sebagai partner eksklusif untuk memasarkan produk sekaligus melakukan layanan purna jual. Astragraphia merupakan bagian dari Astra Group, perusahaan besar yang reputasinya tidak diragukan lagi di Indonesia," demikian disampaikan Masashi Honda, President Fuji Xerox Asia-Pasific, dalam global press conference yang dihadiri lebih dari 30 media dari kawasan Asia Pasific termasuk detikINET, Rabu (30/9/2015).
Fuji Xerox memang belum punya perwakilan resmi di Indonesia. Namun dengan bantuan parner tersebut sejauh ini pemasarannya dianggap cukup baik.
Β
"Market share saya yakini sangat tinggi dan menjadi market leader di Indonesia terbagi dalam dua tipe customer mirip seperti China," kata Honda meneruskan jawabannya saat ditanya terkait Indonesia yang banyak disebut sebagai Pretty Woman di Asia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kesempatan ini Honda juga mengumumkan ekspansi lain di kawasan Asia Pasifik. Antara lain meluncurkan direct sales di Kamboja dan regional solution center di Singapura. Pembukaan kantor FX di Kamboja akan mulai beroperasi 1 Oktober 2015.
Semua itu dilakukan di tengah kerja keras Fuji Xerox memasuki bisnis baru yakni tidak hanya solusi dokumen namun mengarah ke teknologi informasi. Lalu apakah Fuji Xerox juga akan berinvestasi di Indonesia? Honda menuturkan perusahaannya memang belum berencana berinvestasi langsung di Indonesia namun peluang itu terbuka lebar.
"Apakah membangun pabrik, joint venture atau beli saham, banyak hal bisa dilakukan," katanya.
Menanggapi hal itu, Managing Director Astra Graphia yang juga eksklusif distributor Fuji Xerox di Indonesia Arifin Pranoto, menyambut jika memang perusahaan yang berbasis di Jepang itu berinvestasi di Indonesia.
"Kalau dipikirkan seperti itu kita juga dengan senang hati melanjut langkah mereka. Kalau mereka siap, kita juga siap," kata Arifin.
Arifin menuturkan meski kondisi krisis ekonomi namun bisnis Fuji Xerox di Indonesia cukup bagus. Karena dunia digital printing mengenal batas.
"Kenapa Astra Graphia mencapai rencana kerjanya yang dicanangkan tahun lalu karena dari sisi kantoran terjadi pengetatan luar biasa tapi dari sisi perkembangan industri kreatif desain printing melonjaknya luar biasa," kata Arifin.
"Dulu ada kutukan 3,000, jadi dari 10 penulis, 9 di antaranya gagal mencetak buku karena tidak mencetak 3.000 eksemplar. Kalau sekarang mau cetak satu atau seratus bebas, kreativitas itu adalah milik semua orang," imbuhnya.
Sementara itu mengikuti transformasi Fuji Xerox memasuki dunia IT solution, Astra Graphia juga mulai membuat software penunjang produk Fuji Xerox. Semuanya diarahkan untuk semakin memudahkan pengguna melakukan editing, sehingga industri kreatif yang menggunakan perlengkapan Fuji Xerox diharapkan semakin meningkat.
(van/ash)