Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Menjawab Kebutuhan Enterprise Tanpa Batas

Menjawab Kebutuhan Enterprise Tanpa Batas


Achmad Rouzni Noor II - detikInet

Jakarta - Enterprise kerap dihadapkan pada masalah klasik antara departemen teknologi informasi (TI) dan para pengambil keputusan di perusahaan. Hal ini tentunya sangat mengganggu kinerja bisnis jika terus dibiarkan.

Departemen TI secara tradisional berfokus pada teknologi, penyediaan layanan, dan stabilitas. Sedangkan para pimpinan bisnis sangat ingin mengadopsi solusi yang mampu meningkatkan daya saing kompetitif secara cepat dan memenangkan lebih banyak pelanggan.

"Perspektif yang berbeda ini terkadang dapat menimbulkan ketegangan antara TI dan pimpinan bisnis, tetapi mereka bersepakat bahwa kesalahan berarti biaya. Entah dalam bentuk hilangnya pelanggan, menurunnya pendapatan, atau menurunnya produktivitas pekerja,” kata Arif Kareem, President Fluke Networks, Jumat (5/6/2015).

Untuk menjawab pergeseran fundamental terkait cara perusahaan membuat arsitektur jaringan TI dan data center, Fluke Networks meluncurkan strategi komprehensif untuk menyelaraskan portofolio produk seputar kebutuhan borderless enterprise.

Enterprise tanpa batas yang dimaksud bisa didefinisikan setiap organisasi yang penggunanya bergantung kepada kelancaran arus informasi digital untuk menjalankan bisnisnya.

Strategi Fluke Networks ini berfokus menempatkan kembali perusahaan sebagai pengendali kinerja dari seluruh lanskap IT -- baik layanan yang bekerja di lingkungan perusahaan maupun di cloud -- dengan membentuk portofolio tool yang kuat dan mudah digunakan.

Dengan peluncuran TruView Live, penawaran Software-as-a-Service (SaaS) yang baru, Fluke Networks juga memperluas pemantauan kinerja dan aktivitas jaringan real-time kelas-enterprise hingga mampu mencakup aplikasi-aplikasi cloud.

Pemantauan kinerja jaringan sangat penting karena kenurunnya kinerja jaringan menimbulkan risiko yang cukup besar berdasarkan riset dilakukan oleh Enterprise Management Associates yang baru-baru ini.

Survei ini menunjukkan bahwa mayoritas enterprise mengalami kinerja aplikasi yang buruk secara berkala. Konsekuensi dari kinerja yang buruk ini disebutkan memberikan dampak pada pendapatan perusahaan (67%), menurunnya produktivitas pengguna (77%), dan pengalaman buruk pelanggan (79%).

Laporan ini juga menggarisbawahi bahwa TI berjuang keras dalam menghadapi masalah kinerja aplikasi cloud, dimana 29% responden mengatakan memilki visibilitas yang buruk terhadap kinerja jaringan, 21% mengaku memiliki visibilitas buruk terhadap kinerja aplikasi, dan 41% melaporkan kesulitan dalam troubleshooting masalah kinerja saat mereka sadar ada masalah.

"TI tradisional telah mencapai titik belok dimana menyeimbangkan teknologi dan hasil bisnis merupakan hal yang sangat penting," lanjut Arif Kareem dalam emailnya kepada detikINET.

Dengan meningkatnya pengaruh unit bisnis dalam memilih dan menghadirkan layanan berbasis-cloud di dalam perusahaan, pimpinan TI saharusnya tidak lagi berperan sebagai mitra bisnis, tetapi juga berkewajiban menjamin kualitas layanan bagi semua aplikasi.

"Dengan mengambil alih tanggung jawab perbaikan pengalaman pengguna, TI dapat menunjukkan manfaat bisnis yang penting," pungkasnya.

(rou/rou)




Hide Ads