Hal inilah yang coba diserukan FICO, perusahaan penyedia solusi analitik prediktif, kepada bank-bank di Asia untuk mengadopsi pendekatan baru guna melindungi para pelanggan dan mengelola risiko di seluruh lini produk, saluran dan tahapan-tahapan siklus hidup.
Rekomendasi ini juga menjadi tema dalam FICO Asia Pacific Head of Fraud Conference belum lama ini yang dihadiri oleh hampir 30 eksekutif di bidang fraud (kejahatan/penipuan di sektor jasa keuangan).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
FICO menegaskan bahwa untuk melawan ancaman fraud yang semakin beragam dan semakin inovatif, bank-bank harus menghindari implementasi sistem tunggal yang monilitik tapi menggunakan kombinasi sistem-sistem berbasis analitik baru dan yang sudah ada.
Pendekatan di seluruh lingkungan perusahaan ini harus didesain untuk melindungi setiap saluran, serta menghubungkan saluran-saluran tersebut untuk memberikan wawasan dan kontrol yang terpusat, serta kontinuitas pengalaman pelanggan.
Pendekatan baru ini menekankan penguatan pada titik terlemah dalam sistem perlindungan terhadap fraud di perbankan serta membangun perlindungan enterprise secara terstruktur dan bertahap.
"Kepercayaan konsumen telah menjadi diferensiator kunci bagi perbankan dan pengalaman pelanggan ketika dihadapkan pada fraud sangat kritikal," kata Dan McConaghy, Presiden FICO Asia Pasifik.
"Dengan mengambil pendekatan seluruh lingkungan perusahaan, perbankan dapat memperoleh kepercayaan pelanggan dengan pendeteksian dan kontak pelanggan yang cepat serta meminimalkan kerugian," imbuhnya, dalam keterangan tertulis, Rabu (7/11/2012).
Dalam pandangan FICO, cara terbaik bagi bank-bank untuk meminimalkan gangguan terhadap kehidupan para pelanggan mereka adalah dengan menggabungkan analitik prediktif untuk mengidentifikasi pola-pola fraud yang berubah-ubah.
Termasuk di antaranya peraturan bisnis untuk menghentikan jenis fraud yang diketahui, analisis hubungan untuk melihat pola-pola yang lebih luas yang mengindikasikan grup pelaku fraud dan manajemen kasus untuk menghentikan fraud.
Menurut laporan CEB TowerGroup 2012 yang bertajuk Adoption and Investment in Financial Services Technologies: Enterprise Fraud Management, 32% bank mengatakan mereka ingin mengadopsi atau mengganti sistem menejemen fraud enterprise mereka pada 2016.
"Para pelaku fraud menggunakan saluran-saluran baru dan berbeda untuk melakukan penipuan. Untuk mengurangi risiko yang diakibatkan ancaman seperti fraud aplikasi di negara seperti Indonesia, analitik dan data yang akurat merupakan sebuah keharusan," ujar Mohammad Helmi, General Manager Credit Card Business Bank Rakyat Indonesia.
Untuk memenuhi kebutuhan manajemen fraud enterprise, FICO sendiri berencana memperkenalkan rangkaian solusi dan kemitraan baru.
(ash/tyo)