Siapa pun, cukup bermodalkan Rp 100 juta saja, sudah bisa jadi bos ponsel dengan merek dagang sendiri. Fenomena ini belakangan merebak dalam bisnis ponsel merek lokal di Tanah Air.
Demikian diungkap Shirley Imanata, Marketing Manager Mito Mobile. Perusahaan yang dikelolanya memang mengakui ponsel yang dipasarkan asli buatan China dan Taiwan. Hanya saja, kemudian dikemas lagi dalam balutan ponsel bermerek dagang lokal.
Shirley menuturkan, siapa saja bisa membeli ponsel secara gelondongan dengan biaya minimal Rp 100 juta di China, dan mengangkutnya pulang ke Indonesia dengan bubuhan merek ponsel sesuka hati sang pembeli.
"Ini yang banyak terjadi sekarang. Mereka pergi cuma modal seratus juta kemudian pulang bawa 70-80 unit. Sayangnya, ponsel tersebut kemudian dijual tanpa disertai layanan pelanggan seperti service center. Pemasaran tak serius ini yang akhirnya mencoreng image ponsel merek lokal," jelasnya ketika ditemui di Club 3 Degrees, FX Plaza, Jakarta,
Di pasaran ponsel saat ini, sudah lebih dari seratus merek lokal yang bertebaran. Penyebaran bisa dilihat kian marak terjadi di hampir seluruh pusat perbelanjaan ponsel.
Namun, fenomena ini tak menyurutkan langkah Mito untuk bersaing dengan ratusan ponsel merek lokal lainnya. "Kami optimistis karena kami serius dan profesional. Terlebih, kini kami telah melengkapi portofolio produk dengan meluncurkan ponsel PDA berbasis Windows Mobile 6.0 dari Microsoft. Ini yang pertama kalinya di Indonesia," Shirley menandaskan.