Asyik Main Clash of Clans, Rumah Pria Ini Dikepung Polisi
Hide Ads

Asyik Main Clash of Clans, Rumah Pria Ini Dikepung Polisi

Anggoro Suryo - detikInet
Senin, 09 Feb 2015 08:50 WIB
SWAT (istimewa)
Jakarta -

Nasib sial menimpa gamer yang satu ini. Di saat tengah seru-serunya bermain Clash of Clans sembari memberikan live report kepada sekitar 60 ribu pengikutnya di Twitch, rumahnya pun disergap oleh satu tim polisi anti huru-hara SWAT.

Dilaporkan ada sekitar sepuluhan orang polisi dengan persenjataan lengkap yang menyatroni rumah Joshua Peters, gamer dengan nickname Koopatroopa787 itu saat kejadian berlangsung.

Awalnya ia tak menyadari kedatangan tamu tak diundang itu karena sedang menggunakan headset kedap suara. Peters baru sadar setelah teriakan ibunya ikut 'tertangkap' mikrofon yang terdapat di headset.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peters pun meninggalkan siaran langsungnya di Twitch dan baru kembali 15 menit kemudian. Dengan wajah pucat dan bersimbah air mata, ia menjelaskan kepada para pengikutnya bahwa ia baru saja menjadi korban 'swatting'.

"Aku lihat kamu memposting alamatku. Aku melihat polisi menodongkan senjata ke adikku, gara-gara kamu. Mereka bisa saja tertembak, dan mati. Semua karena kamu memilih untuk swatting siaranku."



Aku tak perduli apa salahku padamu, namun jangan libatkan keluargaku di sini. Mereka tak tahu apa-apa," ujarnya geram.

Swatting -- diambil dari kata SWAT (Special Weapons And Tactics) -- merupakan istilah slang untuk sebuah laporan tindak kejahatan palsu kepada polisi. Laporan semacam ini sebelumnya sudah sering terjadi dan menimpa banyak orang.

Di kasus Peters, seorang anonim menelepon kepolisian St Cloud yang terletak di Minnesota, Amerika Serikat. Pelapor mengatakan bahwa telah terjadi penembakan di rumahnya. Dan si pelaku saat ini masih menodongkan senjatanya ke dua orang lainnya.

Sang penelepon menggunakan alamat rumah Peters sebagai alamat rumahnya. Padahal Peters sudah lama tinggal di alamat itu sejak ia pulang dari Kuwait dari tugas dinas untuk US Air Force.

Pihak polisi juga menyatakan bahwa mereka mendengar dua kali suara tembakan sebelum telepon itu terputus, demikian seperti dikutip detikINET dari The Guardian, Senin (9/2/2015).

Tindakan swatting ini biasanya hanya dilakukan untuk menakuti si korban. Namun pada praktiknya, aksi ini juga bisa mengancam jiwa seseorang. Itu karena semakin heboh ancaman yang dilaporkan, pihak kepolisian juga akan mengambil tindakan yang semakin agresif.

Tercatat seorang pria pernah tertembak oleh pihak kepolisian cuma gara-gara ia menelepon nomor khusus laporan bunuh diri. Pernah juga kepolisian melemparkan granat kejut ke dalam ranjang bayi, dan sudah lebih dari satu anjing yang tertembak gara-gara aksi swatting ini.

(rou/rou)
Berita Terkait