Rabu, 13 Feb 2008 20:10 WIB

Buntut Batalnya Tender USO

Postel dan ACeS Saling Gugat Rp 1,1 Triliun

- detikInet
Jakarta - Ditjen Postel dan PT Asia Cellular Satellite (ACeS) terlibat aksi saling gugat sebesar Rp 1,1 triliun terkait pembatalan tender telepon pedesaan dalam program universal service obligation atau USO.

Kepala Bagian Hukum Ditjen Postel Santoso Serad mengatakan, pihaknya terpaksa membalas gugatan yang diajukan ACeS melalui Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) karena operator telepon satelit itu dinilai telah menghambat proses tender ulang USO.

"Kami tak mengerti dengan jalan pikiran mereka. Kalau (ACeS) merasa dirugikan, kami juga dirugikan karena proses pengadilan bisa panjang. Ini jelas merugikan negara karena pembangunan USO tahun ini jadi molor," jelasnya pada detikINET ketika dihubungi, Rabu (13/2/2008).

Sebelumnya, alasan ACeS mengajukan gugatan ke pengadilan karena kecewa lelang proyek pengadaan sambungan telepon di 38 ribu desa itu dibatalkan setelah melewati tahap penawaran harga. Padahal, ACeS begitu yakin bisa memenangkan tender karena merasa paling murah menawarkan harga dibandingkan peserta tender USO lainnya.

Dalam sidang yang digelar 4 Januari lalu, majelis hakim PTUN pun akhirnya mengabulkan gugatan ACeS atas pembatalan tender tersebut, dan mengeluarkan putusan sela yang memerintahkan proses tender ulang USO dihentikan sampai ada kejelasan hukum.

Tak terima dengan putusan tersebut, Postel pun pada 17 Januari balas menggugat. "Jawaban atas gugatan kami baru akan dijawab pada sidang selanjutnya tanggal 21 Februari," kata Santoso.

Mengenai gugatan uang yang ditujukan ACeS pada Postel, menurut Santoso, hal itu berdasarkan asumsi potensi kehilangan (potential loss) yang diderita ACeS karena gagal mendapatkan nilai proyek yang setahunnya bisa menghabiskan Rp 1,1 triliun atau sekitar Rp 10 miliar per hari.

"Mereka beranggapan, dengan menawarkan harga lebih murah sudah pasti akan menang tender. Padahal itu tidak mutlak. Kami tidak melihat murahnya saja, namun, teknologinya comply atau tidak. Kalau nanti-nantinya lebih mahal, buat apa?" Santoso menandaskan.


(rou/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed