5G Diklaim Lebih Murah Dibanding 2G

5G Diklaim Lebih Murah Dibanding 2G

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Minggu, 23 Agu 2020 17:29 WIB
BARCELONA, SPAIN - MARCH 03:  A logo sits illuminated outside the Huawei pavilion during the second day of the Mobile World Congress 2015 at the Fira Gran Via complex on March 3, 2015 in Barcelona, Spain. The annual Mobile World Congress hosts some of the wolds largest communication companies, with many unveiling their latest phones and wearables gadgets.  (Photo by David Ramos/Getty Images)
5G Diklaim Lebih Murah Dibanding 2G (Foto: Gettyimages)
Jakarta -

Chief Technology Officer Huawei Paul Scanlan punya pendapat soal teknologi 5G, yang menurutnya lebih murah dibanding 2G jika dilihat dari kemampuannya.

Menurut Scanlan, 5G jelas lebih bagus dibanding 4G, 3G, dan 2G, dan jika dilihat dari kemampuannya dalam jangka panjang, 5G malah lebih murah dibanding 2G, demikian dikutip detikINET dari Gizchina, Minggu (23/8/2020).

Alasan 5G lebih murah dari 2G ini bukan karena kecepatan ataupun latensi, melainkan karena kapasitas jaringannya yang 10 ribu kali lebih besar dibanding 2G, atau 20 sampai 30 kali lebih besar dari 4G. Padahal, konsumsi daya dari jaringan ini hanya sepersepuluh teknologi 2G menurutnya.

"5G adalah platform transformasi. Alasan utama penggunaan 5G ini adalah lebih murah dari 4G, 3G, ataupun 2G. Jika anda sedang bertumbuh di pasar data -- dan kami melihat pertumbuhan di setiap negara dalam hal data, dan angkanya sekitar 25% sampai 30% -- 5G akan selalu lebih murah dari 4G ataupun lainnya," ujar Scanlan.

"Alasannya utamanya adalah kapasitas. Ini bukan soal kecepatan. Bukan juga soal latensi. Ini mengenai kapasitas, dan 5G mempunyai 20 sampai 30 kali kapasitas lebih besar dibanding 4G," tambahnya.

Jika biaya hardware yang dibutuhkan sama dengan sebelumnya, maka tentu 5G akan lebih baik. Contoh kedua adalah soal efisiensinya, karena jika jaringan yang terus dikembangkan hanyalah 4G, 3G, atau malah 2G, maka jumlah emisi karbon yang dihasilkan akan dua kali lebih banyak dibanding 5G.

Bahkan, menurut Scanlan, jika ada negara yang membangun jaringan 5G dalam skenario paling buruk, yaitu dengan pertumbuhan yang paling lambat, maka emisi karbonnya pun tetap lebih baik. Maksudnya, emisi karbon yang dihasilkan akan tetap sama sampai dengan 2025, baru setelahnya mulai menurun.

Sebagai informasi, Huawei adalah salah satu produsen pembuat peralatan 5G. Namun keberadaannya ditolak di beberapa negara, utamanya di Amerika Serikat, yang menolak kehadiran Huawei karena hubungannya dengan pemerintah China.



Simak Video "Blokir Huawei, Inggris Gandeng Nokia Jadi Pemasok Jaringan 5G"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/fay)