Kamis, 24 Okt 2019 18:42 WIB

Menristek Gandeng Pakar Inggris Tingkatkan Kualitas Publikasi Ilmiah RI

Angling Adhitya Purbaya - detikInet
Foto: detikINET/Angling Adhitya Purbaya Foto: detikINET/Angling Adhitya Purbaya
Semarang - Kemenristek saat ini berupaya meningkatkan kualitas publikasi ilmiah dengan meningkatkan jumlah artikel di jurnal bereputasi internasional. Untuk mencapai tujuan tersebut, digandeng pula pakar dari Inggris agar kualitas publikasi meningkat.

Workshop Peningkatan Kualitas Output Penelitian dengan Tema "How to Write International Quality Publications" pun digelar Kemenristek di Hotel Ciputra, Semarang hari ini.

Kepala Sub Direktorat Riset Dasar, Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kemenristek, Adhi Indra Hermanu mengatakan, dari data tahun 2018, kuantitas publikasi di Indonesia sudah melebihi Malaysia dan Singapura, namun komposisinya 40% artikel dan 60% prosiding.


"Sedangkan Malaysia kebalikannya, 70% artikel, 30% prosiding. Kita harus meningkatkan kualitas publikasi dengan meningkatkan jumlah artikel di jurnal internasional, khususnya jurnal Q1," kata Adhi di Hotel Ciputra Semarang, Kamis (24/10/2019).

Salah satu upaya yang dilakukan, lanjut Adhi menggandeng Newton Fund untuk join research yang sudah berjalan 5 tahun dan juga menggelar workshop peningkatan kualitas publikasi yang masuk tahun kedua.

"Workshop ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas publikasi, khususnya artikel di jurnal internasional. Pakar dari universitas di Inggris didatangkan untuk membagi ilmunya dengan dosen-dosen di Indonesia," lanjut Adhi.


Rektor Undip Semarang, Yos Johan Utama yang juga menjabat ketua forum rektor Indonesia ikut hadir dalam acara tersebut. Ia menyampaikan produktivitas publikasi Undip tahun 2014 sekitar 100 publikasi, dan saat ini sekitar sudah 1.700 publikasi. Undip memiliki program-program untuk meningkatkan publikasi. Terlihat dari peningkatan anggaran penelitian di Undip.

"Namun, yang jadi pertanyaan, terkait penelitian, sampai saat ini tidak menghasilkan sesuatu. Universitas hanya mengeluarkan anggaran, tidak ada refund yang dihasilkan dari hasil riset. Seharusnya riset menghasilkan produk agar perguruan tinggi tidak hanya hidup dari jumlah mahasiswa, tetapi dapat hidup dari hasil penelitian yang menghasilkan produk," jelas Yos.

"Jangan terjebak pada peringkat-peringkat, karena mahkota tertinggi penelitian adalah produk yang bermanfaat bagi masyarakat serta bermanfaat juga bagi pendapatan institusi penelitian, termasuk perguruan tinggi," imbuhnya.

Femmy Soemantri selaku senior program manajer science British Council menambahkan, pakar yang memberikan materi hari ini merupakan pakar dari Liverpool John Moores University, Amos Akintayo Fatokun dan pakar dari De Montfort University, Leicester, UK - Oluwaseun Oladipupo Kolade.

"Workshop ini diselenggarakan oleh Kemenristekdikti bekerja sama dengan Undip dan British Council yang dihadiri oleh 66 peserta dari perguruan tinggi di Semarang dan sekitarnya.


Femmy menyebut, para pakar beranggapan banyak tema menarik di Indonesia yang bisa diangkat untuk publikasi Internasional. Sehingga menurutnya banyak kesempatan bagi peneliti untuk membuat penelitian yang berkualitas.

"Riset Indonesia topiknya menarik, peneliti Indonesia banyak kesempatan," ujarnya.

Sementara itu, terkait pemisahan Kemenristek dan Dikti yang kini Dikti bergabung dengan Kemendikbud, baik Adhi maupun Femmy akan siap menyesuaikan dengan cepat.

"Semua yang diputuskan Presiden sudah ditelaah matang, harusnya jalannya ke depan sesuai harapan," kata Adhi.

"Kami akan ikuti konfigurasinya bagaimana. Kalau harus kerjasama dengan 2 institusi akan kami ikuti," ujar Femmy.

Simak Video "Kemenristekdikti Siap Beri Dana Startup yang Jadi Scale-up"
[Gambas:Video 20detik]
(jsn/rns)