Sabtu, 28 Sep 2019 21:07 WIB

Kolom Telco

5G Segera Hadir di Asia Tenggara, Apa Pengaruhnya?

JS Pan - detikInet
Foto: DW (News)
Jakarta - Jaringan-jaringan 5G segera hadir ke berbagai negara, membawa janji berbagai peningkatan revolusioner dalam teknologi dan kecepatan ultra-cepat.

Sebagaimana negara maju seperti Amerika Serikat, China dan Korea Selatan memimpin dalam menyediakan 5G, negara-negara di Asia Tenggara juga bekerja keras untuk memanfaatkan 5G dalam mengembangkan negaranya. Demikian juga dunia usaha memiliki peluang luar biasa dalam meningkatkan kemampuan teknologinya untuk proses bisnis internal dan penawaran produk atau software.


Peningkatan tajam dalam pengguna internet dan pemilik smartphone di negara-negara Asia Tenggara telah membantu mendukung peningkatan infrastruktur teknologi di negara-negara tersebut - seperti yang terlihat dalam persentasi penetrasi internet dan media sosial dan konektivitas mobile dari 2018. Riset mengatakan tren ini akan berlanjut dalam beberapa tahun ke depan.

Semua negara bergerak menuju ketersediaan komersil jaringan 5G di tahun-tahun mendatang. Laporan Ericsson Mobility terbaru memperlihatkan bahwa layanan-layanan 5G komersil pertama akan tersedia di wilayah ini di pertengahan tahun, dan pengguna 5G menjadi sebesar 12 persen dari total koneksi di tahun 2024.

Teknologi 5G diharapkan akan menyederhanakan infrastruktur jaringan dan menurunkan biaya deployment, dan ini ideal untuk komunikasi latensi rendah yang sangat handal. Teknologi ini juga diharapkan mampu mendukung miliaran perangkat terhubung dengan kebutuhan-kebutuhan berbeda, memperluas fleksibilitas dan keluwesan yang lebih dari jaringan LTE. Jaringan 5G akan menyediakan infrastruktur untuk kecerdasan buatan (AI - artificial intelligence), khususnya analisa real-time, dan juga memudahkan akses cepat ke berbagai sumber daya cloud bagi jaringan telekomunikasi.

Spektrum

5G tidak hanya mendorong pertumbuhan evolusioner dalam bandwidth, tapi juga penggunaan lebih baik dan akses ke spektrum di dalam pita frekuensi rendah, menengah dan tinggi, dan peningkatan keandalan koneksi.

Sebagai contoh, spektrum pita rendah (di bawah ~1GHz) menyediakan cakupan luas yang sempurna untuk cakupan LTE di daerah-daerah regional dan pedesaan dan juga di gedung-gedung. Spektrum pita menengah (antara ~2 - 5GHz) menyediakan mobile broadband seperti TDD 3,5GHz. Untuk percobaan, deployment dan peluncuran 5G di seluruh dunia, pita 3,5GHz (3300 - 3800MHz) adalah yang paling sering digunakan dan menjadi sebuah pita utama 5G.

5G Segera Hadir di Asia Tenggara, Apa Pengaruhnya?Foto: Getty Images
Gelombang pertama deployment layanan 5G menggunakan berbagai frekuensi untuk aliran data yang lebih baik, memanfaatkan deployment 4G yang sudah ada untuk migrasi yang lebih mulus. Di Asia Tenggara, Vietnam menyediakan lisensi percobaan untuk 5G di rentang 2575-2612MHz, 3700-3800MHz
dan 26,5-27,5GHz. Thailand mengesahkan peraturan yang menarik kembali spektrum yang tidak digunakan di pita 1500MHz, 2300MHz, dan 2600MHz, untuk dialokasi ulang bagi layanan 5G lewat lelang. Regulator di Thailand juga mengumumkan bahwa di akhir 2019 akan menghentikan layanan-layanan 2G guna membuka spektrum bagi layanan-layanan 5G.

Seiring dengan komunitas global yang terus membuat keputusan dalam hal spektrum yang akan digunakan untuk layanan-layanan 5G, MediaTek telah mulai berkolaborasi dengan pembuat perangkat dan pemimpin dalam frekuensi radio (RF) untuk mendorong inovasi smartphone 5G dan mendefinisikan sebuah solusi modul front-end (termasuk rancangan front-end frekuensi radio) yang mengakomodasi komponen-komponen 5G tanpa berdampak pada rancangan smartphone.

5G bisa menjadi katalis bagi masyarakat terhubung dan transformasi ekonomi di Asia Tenggara. Pengembangan populasi dan perekomonian wilayah ini akan sangat bergantung pada infrastruktur komunikasi untuk membantu digitalisasi vertikal termasuk pita lebar nirkabel tetap, pendidikan, kota cerdas dan pengelolaan kota, pertanian, layanan kesehatan, transportasi, dan IoT industrial.

Sebagai contoh, peluang pasar besar untuk 5G ada dalam mengganti pita lebar rumahan. Pita lebar rumahan bisa diganti dengan perangkat plug-in yang menawarkan akses nirkabel tetap (FWA - fixed wireless access) di mana saja di rumah, mengubah koneksi 5G menjadi Wi-Fi rumahan sehingga seluruh
perangkat (laptop, tablet, TV dan perangkat cerdas, bel pintu, kamera keamanan, konsol permainan) bisa memanfaatkan bandwidth multi-gigabit.

5G Segera Hadir di Asia Tenggara, Apa Pengaruhnya?Foto: detikINET/Adi Fida Rahman

Selain itu, 5G memampukan efisiensi spektrum dengan lebih baik. Artinya, ruang nirkabel yang tersedia bisa digunakan lebih baik. Ini sangat menguntungkan jika anda ada di sebuah tempat dengan ribuan orang (misalnya mal, bandara, stasiun kereta api, atau stadion olah raga) yang menggunakan smartphone. 5G dirancang untuk menyediakan kapasitas melalui penggunaan ruang nirkabel yang lebih baik, jadi semua orang di suatu tempat tidak merasakan perbedaan dalam pengalaman pengguna.

Pemain game juga akan senang karena 5G dirancang untuk bervariasi antara bandwidth sangat tinggi, latensi ultra-rendah dan konektivitas masif. Pemain game sangat sensitif terhadap latensi, sehingga sangat penting bagi mereka dalam memiliki kemampuan untuk membuat koneksi nirkabel menjadi ultra-responsif.

Kemungkinan-kemungkinan menjadi semakin futuristik ketika melihat apa yang bisa dibuat jika 5G digabungkan dengan teknologi canggih. Dalam pengembangan kota cerdas, misalnya, 'kecerdasan operasional', atau teknologi yang bereaksi terhadap kejadian sesungguhnya, harus menjadi dasar untuk
menawarkan berbagai keuntungan yang dijanjikan.

Sensor dan kamera akan menjadi inti pengumpulan data, dan konektivitas selular seperti narrowband IoT (NB-IoT) akan meneruskannya ke sebuah layanan cloud untuk pengumpulan dan pengolahan. Ini hanyalah sebuah bagian dari miliaran perangkat yang akan tergabung ke ekosistem IoT di dekade berikutnya; sebagian akan melakukan proses pinggir, namun sebagian besar akan membutuhkan bentuk kapasitas koneksi jarak jauh yang sangat mungkin mengandalkan selular alih-alih pita tidak terlisensi.

Di industri otomotif, internet of vehicles (IoV) mencakup berbagai aspek konektivitas. Sebagian kendaraan saat ini memiliki koneksi selular, tapi penggunaannya terbatas di aplikasi dasar seperti peta, musik, atau panggilan darurat. Kendaraan otonom yang sedang dikembangkan akan membutuhkan
konektivitas latensi rendah ultra-handal yang tidak akan tersedia tanpa 5G, dan ke depannya vehicle to everything (V2X) mungkin akan menjadi pertimbangan realistis.

5G Segera Hadir di Asia Tenggara, Apa Pengaruhnya?Foto: dok. Telkomsel

Juga ada aplikasi 5G yang lebih luas ke berbaga industri lainnya. Munculnya kerja jarak jauh dan layanan jarak jauh seperti pendidikan dan kesehatan merupakan berkat bagi berbagai alasan kemasyarakatan. Pindah dari layar datar ke pengalaman realistis mendalam - dengan teknologi-teknologi extended reality (XR) - akan membutuhkan koneksi selular latensi ultra-rendah dan ultra-efisien dengan bandwidth yang cukup untuk aplikasi tersebut.

Seiring dengan berbagai upaya untuk menghadirkan 5G ke Asia Tenggara, tujuan kami adalah menjadikan 5G bisa diakses, terjangkau dan tersedia sehingga para pelanggan bisa menikmati berbagai keuntungan yang ditawarkan. Pemangku kepentingan harus disemangati oleh kemajuan yang dibuat untuk 5G dalam hal standarisasi, peraturan, percobaan dan deployment, dan kesiapan produk - dan potensinya untuk meningkatkan akses pita lebar dan peluang bisnis bagi wilayah ini seharusnya meyakinkan mereka bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk menyiapkan deployment 5G.

Penulis : JS Pan, General Manager, Wireless Communication System and Partnership, MediaTek.


Halaman
1 Tampilkan Semua

(afr/fay)