Jumat, 03 Mei 2019 10:40 WIB

Bos Telkomsel Blak-blakan Penyebab Pendapatan Turun

Adi Fida Rahman - detikInet
Para petinggi Telkomsel. Foto: Adi Fida Rahman/detikINET Para petinggi Telkomsel. Foto: Adi Fida Rahman/detikINET
Jakarta - 2018 bukanlah tahun yang menggembirakan bagi industri telekomunikasi di Tanah Air. Tantangan besar harus dihadapi para pemain, sampai-sampai membuat mereka ingin melupakan apa yang terjadi.

Tapi bagi Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah, apa yang terjadi tahun lalu tidak untuk dilupakan. Sebaliknya, bagi pihaknya, semua itu bisa dijadikan sebagai pembelajaran. Pada 2018, pendapatan Telkomsel turun 4,3% dibandingkan tahun sebelumnya. Ini mengikuti tren di Industri yang turun sekitar 7,3%.




Menurut Ririek, tercatat ada tiga hal yang membuat industri telekomunikasi mengalami penurunan tahun lalu.

1. Registrasi Kartu SIM

Kebijakan ini sebenarnya dilakukan di banyak negara. Indonesia sendiri sejatinya termasuk terakhir yang menjalankannya.

"Secara jangka pendek memang punya dampak negatif. Tapi jangka panjang malah memberikan dampak positif," ujar Ririek.

Dampak positif pertama bagi Industrinya. Kebanyakan pengguna di Indonesia pakai buang SIM Card. Dengan registrasi dan pembatasan, pelanggan lebih loyal, ini akan baik untuk industri.

Kedua adalah tentang keamanan negara. Kebijakan registrasi kartu SIM akan mengurangi penipuan lewat SMS atau telepon.

2. Perang Tarif

Indonesia menjadi salah satu negara yang layanan data termurah. Dalam jangka pendek bagus, tapi jangka panjang bagi pelaku tidak akan sustain. Pada 2018 tidak ada satu pun operator untung kecuali Telkomsel.

"Kalau nggak sustain layanan memburuk atau tutup. Yang rugi masyarakat mana kala fasilitas tak tersedia," kata Ririek.




3. Penurunan Legacy (voice dan SMS)

Terjadi penurunan dari layanan legacy karena adanya perubahan pada pengguna yang sebelumnya menggunakan layanan voice sekarang memakai OTT, seperti WhatsApp Call.

Pada 2018 menjadi tahun pertama bagi Telkomsel di mana pendapatan dari layanan legacy menurun sementara non legacy (data dan digital lebih dominan.

"Revenue legacy 47%, sementara non legacy 53%. Di akhir kuartal satu 2019, non legacy mencapai 61% sedangkan 39% legacy," jelas Ririek.


(fyk/krs)