Sabtu, 20 Mei 2017 17:40 WIB

Kecepatan Super 5G Bukan untuk Manusia

Ardhi Suryadhi - detikInet
Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah Foto: Ardhi Suryadhi/detikINET Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah Foto: Ardhi Suryadhi/detikINET
Malang - Teknologi 5G memang menawarkan kecepatan transfer data berlimpah, bisa tembus 1 Gbps. Namun meski sudah di depan mata, 5G sayangnya tidak diperuntukkan untuk manusia. Lantas untuk siapa?

Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah menjelaskan, kecepatan super cepat yang dihadirkan 5G dirasa akan kurang optimal jika cuma digunakan untuk keperluan sehari-hari pengguna, seperti transfer foto, video streaming dan lainnya. Dimana aktivitas tersebut sejatinya sudah cukup terlayani dengan 4G yang saati ini semakin merakyat.

"Jadi ke depannya implementasi 5G akan lebih kepada IoT (internet of things), yang dipakai mesin, bukan untuk manusia. Karena kalau speed-nya sudah tembus 1 Gbps itu menikmatinya pun ya begitu-begitu saja, 'tidak ada gunanya' kalau cuma untuk menonton video atau membuka foto, tak terasa (kesaktian 5G)," paparnya di sela uji jaringan Telkomsel di Malang.

Maka dari itu, 5G dirasa akan lebih optimal untuk layanan IoT. Dimana dalam sebuah demonstrasi yang pernah disaksikan detikINET, teknologi 5G bisa dipakai untuk menggerakkan robot dan dipadukan dengan teknologi augmented reality (AR).

Kecepatan Super 5G Bukan untuk ManusiaIlustrasi 5G. Foto: Ardhi Suryadhi/detikcom
Layanan 5G sendiri saat ini pun memang masih belum tersedia, baru sebatas uji coba yang mulai dilakukan para operator telekomunikasi dunia. Dari sisi ketersediaan network juga masih belum siap, termasuk soal handset.

"Waktu di Barcelona (dalam acara Mobile World Conggress 2017) handset 5G itu (sudah dipamerkan) dengan ukuran 0,5x0,5 meter. Begitu pula dengan spektrum belum siap," tambah Ririek.

Telkomsel sendiri sudah pemanasan 5G dengan melakukan uji coba akses internet of things (IoT) bersama Huawei. Dalam uji coba yang pernah dilakukan, mereka menerapkan teknologi teknologi 3rd Generation Partnership Project (3GPP), yakni Massive Internet of Things (IoT) dan teknologi Frequency Division Duplexing (FDD), Massive Multiple-Input and Multiple-Output (MIMO).

Adapun uji coba yang menggunakan teknologi radio akses Narrowband IoT (NB-IoT) ini dilakukan pada frekuensi 900 MHz dengan metode stand alone sehingga jangkauannya lebih dalam atau lebih luas.

Selain itu, NB-IoT ini merupakan salah satu jenis teknologi jaringan Low Power Wide Area (LPWA), memungkinkan perangkat beroperasi hingga 10 tahun tanpa pengisian daya ulang baterai.

Untuk membuktikan kemampuan teknologi NB-IoT ini, Telkomsel dan Huawei mencoba untuk memperagakan Smart Water dan Smart Parking.

Dalam pengujian Smart Water, meteran air mengirimkan data dan diterima oleh platform IoT yang kemudian meneruskannya ke aplikasi mobile secara real time. Lewat aplikasi inilah, pengguna bisa mengetahui ukuran dari meteran air.

Selain Smart Water, Telkomsel juga memberikan demo Smart Parking, dimana melalui sebuah alat yang ditanam di dalam tanah dan tersambung lewat platform IoT. Dengan alat ini, pengelola parkir dan pengunjung bisa mengetahui slot parkir mana yang kosong.

Ilustrasi 5GIlustrasi 5G Foto: Ardhi Suryadhi/detikcom
Adapun pemerintah — dalam hal ini Menkominfo Rudiantara — menilai layanan 5G diproyeksi akan mulai dijajal di Indonesia sejak 2020 mendatang. Untuk tahap awal, penggunaan jaringan seluler generasi kelima ini menyasar target industri.

Berdasarkan World Radiocommunication Conference (WRC), nanti 5G akan menggunakan pita frekuensi tinggi 28 GHz. "Kita akan ikut standar internasional, kalau WRC suruh alokasikan di 28 GHz, kita akan alokasikan di situ yang totalnya ada 2 GHz atau 2.000 Mhz, jauh dari tender yang dilakukan sekarang kan," ujar Rudiantara dalam suatu kesempatan berbeda.

Nantinya layanan 5G di spektrum 28 GHz ini hanya bisa diakses di daerah kota, sedangkan untuk kawasan pedesaan atau rural akan menggunakan spektrum 700 MHz yang dipakai untuk persoalan coverage atau jangkauan.

"5G ini cocok untuk industri seperti digunakan di pabrik atau manufaktur, misalnya penggunaan robot karena kecepatan rata-rata 5 Gbps," tandas pria yang disapa Chief RA ini. (ash/asj)