BERITA TERBARU
Kamis, 04 Mei 2017 15:54 WIB

'Jangan Mau Untung di Kota Saja, Bangun Dong di Pelosok!'

Achmad Rouzni Noor II - detikInet
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Persaingan di industri telekomunikasi kembali memanas setelah Telkomsel yang situsnya dikerjai hacker karena keluhan tarif mahal internet, malah diolok-olok oleh pesaingnya, Indosat Ooredoo dan XL Axiata, di media sosial.

Hal ini dinilai oleh Ketua Program Studi Telekomunikasi ITB, Ian Joseph Matheus Edward, sebagai imbas dari persaingan tarif yang sempat sengit belum lama ini. Apalagi, Indosat sempat mengajak operator lain untuk memerangi Telkomsel.

Ian menilai, kondisi itu terjadi karena ada kesenjangan dukungan finansial antar para operator seluler untuk belanja modal atau capital expenditure (Capex). Kemampuan finansial Telkomsel yang didukung penuh oleh induk usahanya, Telkom Group, tak mampu disaingi oleh para kompetitornya -- yang padahal, mayoritas milik asing.

Memang, Telkomsel juga ikut dikuasai sahamnya oleh asing, yakni Singapura (SingTel), tapi hanya 35% saja. Tidak sebesar Indosat yang 65% sahamnya dikuasai Qatar (Ooredoo Group) atau XL yang 66% sahamnya dimiliki Malaysia (Axiata Berhad).

"Capex Telkomsel besar tak lepas dari komitmen induknya yaitu Telkom yang merupakan perusahaan BUMN. Sebagai perusahaan milik negara, Telkom dan Telkomsel mengemban tugas sebagai agen pembangunan," ujarnya, Kamis (4/52017).

'Jangan Mau Untung di Kota Saja, Bangun Dong di Pelosok!'Foto: detikINET/Achmad Rouzni Noor II


Dijelaskan olehnya, pembangunan infrastruktur jaringan telekomunikasi membutuhkan dana yang tak sedikit. Terlebih lagi untuk membangun jaringan telekomunikasi di daerah terpencil dan terluar Indonesia.

Dana yang tak sedikit tersebut dapat tercermin dalam besar atau kecilnya Capex. Semakin besar Capex yang dikeluarkan, maka akan semakin besar juga kemampuan operator untuk membangun infrastruktur telekomunikasinya.

Ian pun menilai, jika para pemegang izin lisensi selular nasional tersebut memiliki anggapan bahwa mereka sudah membayar Universal Service Obligation (USO) sehingga tak perlu lagi mengembangkan jaringan di daerah terluar dan terpencil, tidaklah tepat.

"Jika operator menjadi dominan di suatu wilayah, maka mereka harus berani menggeluarkan Capex untuk membuka di daerah yang baru. Bukan hanya mengeluh saja dan menggantungkan pada dana USO," terangnya.

Jangan Cuma Bangun Jaringan di Kota Besar

Lebih lanjut dipaparkan olehnya, operator yang mengalokasikan Capex sangat cekak, dapat mencerminkan mereka hanya mau membangun di daerah perkotaan yang menguntungkan saja dan telah memiliki infrastruktur sangat memadai.

Selain hanya mencari keuntungan, operator yang memiliki Capex minim juga bisa mencerminkan mereka hanya sebagai follower dari market leader yang telah terlebih dahulu membangun jaringan telekomunikasinya.

Jika dianggap daerah tersebut sudah menguntungkan, mereka baru mau menggelar jaringan. Melihat kondisi operator hanya sebagai follower dari market leader, Ian menilai, dominasi operator di suatu wilayah hingga lebih 70% merupakan hal yang wajar.

'Jangan Mau Untung di Kota Saja, Bangun Dong di Pelosok!'Foto: Grandyos Zafna


"Sebab operator tersebut sudah berani menggelontorkan Capex untuk membuka di suatu daerah yang dikategorikan terluar dan tak menguntungkan. Wajar saja jika ada operator yang menjadi dominan di daerah tersebut dikarenakan merekalah yang pertama kali menggarap pasar di wilayah tersebut. Sehingga operator yang menjadi follower harus bisa menerima konsekuensinya," demikian dijelaskan.

Jika mau merujuk pada UU No 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, kata dia, sudah sangat gamblang dijelaskan.

"Sesungguhnya yang dilarang itu adalah praktik monopoli seperti menghalangi operator lain masuk di daerah tersebut, bukan monopolinya. Sehingga praktik natural monopoli tidak dilarang dalam UU. Jika Indosat merasa ada dominasi Telkomsel di suatu wilayah, maka mereka harus berani membuka di daerah yang baru," tegas Ian.

Jika ada operator beranggapan tarif Telkomsel mahal di suatu wilayah, maka Ian menyarankan agar operator pesaingnya ikut membangun infrastruktur telekomunikasi di wilayah tersebut. Tujuannya, agar konsumen bisa memiliki pilihan, dan tarif pun jadi lebih bersaing.

"Sehingga terjadi persaingan usaha yang sehat. Jangan cuma mau membangun infrastruktur telekomunikasi dengan cara nebeng saja. Itu sangat tidak fair," sesal Ian. (rou/rou)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed