Menteri Curhat Alotnya Migrasi TV Digital

Menteri Curhat Alotnya Migrasi TV Digital

Achmad Rouzni Noor II - detikInet
Senin, 26 Sep 2016 19:52 WIB
Foto: Internet
Jakarta - Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengakui proses migrasi ke TV digital lumayan alot. Itu sebabnya, pemerintah dan DPR RI masih terus membahas rencana revisi UU Penyiaran.

"Harus kita akui, dinamika industri penyiaran luar bisa cepatnya. Sehingga UU Penyiaran pada saat dibuat 2002 belum mencakupi dinamika sekarang. Karenanya, pemerintah dan DPR sepakat untuk merevisi UU Penyiaran," ujarnya usai rapat dengan Komisi I DPR RI di Jakarta, Senin (26/9/2016).

Menurutnya, UU Penyiaran yang ada saat ini belum mengatur secara detail perubahan teknis, teknologi, hingga konvergensi penyiaran yang mencakup telekomunikasi dan internet.

"Jadi wajar kita nggak punya SOP (standard operating procedure) evaluasi perpanjangan izin TV. Izinnya kan 10 tahun. Harusnya tiap tahun ada catatannya. Praktis baru 2015 saja kita angkat, nggak bisa dari 10 tahun terakhir".

"Karena yang sifatnya teknis dan administrasi ada di Kominfo. Sementara kontennya ada di KPI (Komisi Penyiaran Indonesia). Dua-duanya harus sejajar, dan untuk sejajarkan perlu effort," curhat menteri yang akrab disapa Chief RA tersebut.

Dalam pembahasan revisi UU Penyiaran bersama DPR, nantinya akan ada turunan peraturan yang meregulasi pelaksanaan migrasi TV digital. Sembari menunggu revisi UU ini selesai, Kominfo juga tengah melakukan uji coba siaran TV digital.

Rudiantara menjelaskan pelaksanaan uji coba siaran TV digital akan dilakukan selama enam bulan dan telah dimulai sejak 15 Juni 2016 hingga 15 Desember 2016.

Uji coba TV digital dilakukan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara TVRI dengan Lembaga Penyiaran Swasta (LPS) penyedia konten.

Total LPS yang menandatangani MoU mencapai 36 badan usaha. Dari jumlah itu, sebanyak 26 LPS penyedia konten telah bersiaran digital (on air) di 12 wilayah layanan per 22 Agustus 2016.

"Sekarang siapa pun boleh uji coba dengan TVRI. Total ada 90 lokasi yang transmisinya sudah digital. Uji cobanya bagus dan masyarakat mulai antusias. Ini bagus agar masyarakat timbul confidence bahwa TV digital memang jalan dan bisa dinikmati masyarakat," kata Rudiantara.

Meskipun respons masyarakat atas uji coba TV digital ini cukup bagus, namun sayangnya belum semua lapisan masyarakat bisa menikmati. Menurut menteri hal itu wajar saja.

"Yang belum punya TV digital di Indonesia masih puluhan juta. TV yang masih pakai analog ini harus pakai set top box untuk konverter. Perangkat itu bisa dibeli dengan harga Rp 300 ribuan," kata Chief RA.

Demi Spektrum Broadband

Meskipun proses migrasi TV dari analog ke digital alot, namun Menkominfo Rudiantara tak kenal lelah terus mendorong agar migrasi ini bisa tuntas pada 2018 mendatang.

"Kenapa pemerintah dorong digitalisasi agar ada digital dividen buat broadband. Kalau berjalan dengan baik akan ada tambahan 100 MHz lebih dari spektrum 700 MHz," kata dia.

Tapi dari total digital dividen 100 MHz itu -- tepatnya 112 MHz -- sebagian akan dialokasikan untuk jalur telekomunikasi khusus untuk siaga bencana.

"Kita harus ada kebijakan keberpihakan atau affirmative policy untuk aplikasi kebencanaan 20 MHz, atau pendidikan, baru sisanya broadband. Ke depan kita tidak bicara telekomunikasi saja, tapi konvergensi di broadband," ujarnya.

Menkominfo Rudiantara.Menkominfo Rudiantara.


Migrasi analog ke digital ini ditegaskan olehnya akan menguntungkan industri dan masyarakat karena dari sisi pemanfaatan spektrum jadi lebih efisien. Selain itu, kualitas video pun jadi lebih bagus karena beralih ke high definition (HDTV).

"Lebih efisien karena dari sisi penyiaran TV penggunaan frekuensi jadi lebih sedikit tapi kualitas lebih bagus. Ini yang terus kami bicarakan dengan DPR karena harus dituangkan ke UU Penyiaran," jelasnya.

Indonesia Ketinggalan

Melihat lanskap televisi global, Indonesia jauh tertinggal dalam hal migrasi TV digital. Saat ini, sekitar 85% negara-negara di dunia sudah mengimplementasikannya secara nasional. Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina sudah tidak lagi menggunakan TV analog per akhir 2015 lalu.

Pola menonton masyarakat sendiri sudah mulai bergeser. Orang kini lebih suka mengakses konten melalui perangkat berbasis Internet. Masyarakat tidak lagi akan terfokus pada perangkat dan infrastruktur TV analog.

Oleh karena itu pengembangan konten digital akan menjadi area penting bagi industri pertelevisian di Indonesia. Lihat saja, jumlah pengunjung Youtube saat ini sudah mencapai satu miliar per bulan.

Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2015 menunjukkan 27,3% pengguna Internet di Indonesia mengunduh maupun mengunggah konten video.

"Oleh karena itu, keberadaan TV digital bagi pelaku industri TV menjadi suatu hal yang wajib," pungkas menteri.

(rou/ash)