Kamis, 05 Mei 2016 15:31 WIB

Ekspedisi Langit Nusantara

Mau Bikin Aplikasi? Yuk Intip Tipsnya!

Muhammad Alif Goenawan - detikInet
Para pembicara di seminar Pengembangan Industri Kreatif Berbasis Digital. Foto: detikINET/M. Alif Goenawan Para pembicara di seminar Pengembangan Industri Kreatif Berbasis Digital. Foto: detikINET/M. Alif Goenawan
Malang - Di era persaingan teknologi yang semakin sengit, dibutuhkan strategi khusus agar aplikasi yang kita ciptakan tidak tenggelam dengan aplikasi pesaing. Nah ini caranya!

Menciptakan sebuah aplikasi atau platorm memang bukan perkara yang sulit. Namun, yang sukar di sini adalah bagaimana menjaga agar aplikasi yang sudah kita ciptakan tetap digemari dan dibutuhkan oleh masyarakat, sehingga mereka tidak berpaling ke aplikasi yang lain.

CEO Bahaso.com, Tyovan Ari Widagdo mengatakan jika suatu aplikasi ingin tetap digemari oleh masyarakat, maka aplikasi atau platform yang kita ciptakan harus memiliki nilai eksklusif. Ia pun mencontohkannya dengan platform belajar bahasa asing miliknya, Bahaso.com.

Tak cuma belajar bahasa asing melalui aplikasi, pengguna Bahasa.com yang berlangganan juga bisa mendapatkan sertifikasi dari Universitas Indonesia. Ya, dalam hal ini Tyovan memang bekerjasa dengan pihak Universitas Indonesia untuk memberikan sertifikasi pada pengguna Bahaso.com premium.

"Yang pertama mungkin bikin produk yang menarik. Setelah itu strategi bisnisnya adalah ciptakan sesuatu yang eksklusif. Jadi ketika nanti muncul aplikasi pesaing, aplikasi yang sudah Anda ciptakan punya nilai tambah," tutur Tyovan dalam seminar Pengembangan Industri Kreatif Berbasis Digital yang digelar Telkomsel di Hotel Santika Premiere, Malang, Jawa Timur, Kamis (5/5/2016).



Senada dengan Tyovan, CEO Kibar Kreasi Indonesia Yansen Kamto menambahkan jika seyogyanya pemilik platform harus royal pada penggunanya. Mengerti apa yang diinginkan oleh user itu penting, di samping tentunya adalah bagaimana aplikasi itu bisa memecahkan permasalahan di sekitar masyarakat.

"Yang paling organik adalah kalau kita bisa mengidentifikasi satu permasalahan yang dialami satu kelompok tertentu, maka fokus di situ. Seperti misalnya, membuat platform atau situs pencarian kerja untuk lulusan SMK. Nah, selain fokus di permasalahan, fokus juga di target market. Kepada siapa ditujukan? Kalau contoh tadi kan jelas, pasarnya anak SMK," papar Yansen di kesempatan yang sama.

Yansen juga memberi saran bilamana ingin memulai suatu startup alangkah baiknya dikerjakan pada saat usia muda. "Saya selalu menyarankan agar membuat startup dari semester tiga, bebannya belum terlalu banyak. Jadi, ketika nanti terjadi kegagalan tidak terlalu menyita waktu dan beban. Bayangkan kalau gagal sudah punya anak dan istri," papar Yansen.

Pria berkacamata ini turut berpesan kepada anak-anak muda tidak perlu takut terkendala modal bila ingin memulai sebuah perusahaan rintisan. "Jangan takut modal. Cuma butuh anak TI, bisnis, dan desain. Kalau di kepala cuma ada patokan modal ya susah. Raisa saja mulainya dari YouTube," papar Yansen panjang lebar.

Yansen dan Tyovan menjadi dua dari sejumlah narasumber yang berbicara di seminar Pengembangan Industri Kreatif Berbasis Digital yang digelar Telkomsel. Kegiatan ini juga merupakan bagian dari serangkaian pendaratan Elang Nusa di Malang pada tanggal 8 Mei 2016.

Elang Nusa merupakan cara Tekomsel untuk membuktikan keunggulan layanan broadband-nya di penjuru Indonesia. Dengan bentag sayap hingga 2,5 meter, Elang Nusa diberangkatkan dari timur dan barat.

Selama satu bulan penuh, keduanya akan menempuh total jarak mencapai 8.500 meter. Sebelum pada akhirnya akan mendarat secara bersamaan di Bali tanggal 14 Mei 2016 mendatang.

Ayo ikuti Ekspedisi Langit Nusantara dan jadilah saksi keindahan Bumi Indonesia. (mag/afr)