Fokus 2016: 4G Sudah, Kini Giliran 'True Broadband'

Fokus 2016: 4G Sudah, Kini Giliran 'True Broadband'

Achmad Rouzni Noor II - detikInet
Rabu, 23 Des 2015 19:40 WIB
Rudiantara (rou/detikINET)
Jakarta -

Setelah sukses menggelar internet broadband lewat jalur nirkabel (wireless) melalui akses seluler 4G di spektrum 900 MHz dan 1.800 MHz, kini giliran ekspansi jaringan broadband berbasis kabel optik yang jadi fokus utama Menkominfo Rudiantara di 2016.

"Untuk program di 2016, kami akan shift sedikit ke fixed broadband, karena fixed broadband merupakan true broadband," kata menteri yang akrab disapa Chief RA itu saat ditemui di Gedung Indosat, Jakarta, Rabu (23/12/2015).

Terkait rencana ekspansi fixed broadband, pemerintah akan memfasilitasi para operator yang membangun fixed broadband melalui kemudahan penarikan kabel dan juga regulasi.

Sebab, pembangunan fixed broadband jauh lebih sulit ketimbang mobile broadband. Kesulitan yang pada umumnya ditemukan di lapangan oleh para pengembang fixed broadband adalah soal perizinan.

"Kalau kita bicara soal fixed broadband, pembangunannya relatif lama dan biayanya lebih mahal, karena harus menggali tanah, narik kabel ke gedung atau perumahan, dan itu sering mengalami hambatan dari sisi perizinan oleh pemilik lahan.

"Makanya, kita akan bantu dari sisi perizinan dan juga regulasi. Sehingga, true broadband itu benar-benar dirasakan oleh masyarakat," papar menteri urusan ICT ini.

Rudiantara menuturkan, pengembangan fixed broadband juga sejalan dengan program Indonesia Broadband Plan atau Rencana Pita lebar Indonesia yang ditargetkan selesai pada 2019.

Di Jakarta, lanjut Rudiantara, gedung-gedung yang dikategorikan sebagai high-rise buildings, terutama di kawasan bisnis, pada 2019 harus memiliki kecepatan kapasitas broadband mencapai 10 Gbps. Bahkan, di kawasan tertentu diwajibkan untuk memiliki kapasitas kecepatan 100 Gbps.

Oleh karena itu, Rudiantara juga mendesak Gubernur DKI Jakarta Basuki T. Purnama (Ahok) untuk mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) terkait pengembangan fixed broadband tersebut demi menopang implementasi Smart City.

"Saya janji dengan Pak Ahok, 2019 ini antara Jakarta dan Singapura itu harus 11-12 dalam konteks broadband," kata dia.

"Saya juga masih nunggu Ahok untuk mengeluarkan Pergub yang mewajibkan semua high-rise buildings di kawasan bisnis distrik untuk menyediakan akses untuk penarikan kabel fixed broadband. Karena sekarang, tidak semua high-rise buildings di kawasan bisnis itu membolehkan operator untuk menarik kabel fiber optik ke gedungnya," jelasnya lebih lanjut.

Rencana pemerintah untuk fokus ke area pengembangan fixed broadband juga disambut hangat oleh Telkom. Menurut Jemy Cofindo, Vice President Consumer Marketing and Sales Telkom, kebijakan pemerintah untuk memudahkan akses pembangunan jaringan fixed broadband akan berimbas positif terhadap ekspansi program Indonesia Digital Network.

"Sejauh ini kami sudah jalan sendiri membangun fiber optik ke rumah-rumah. Imbasnya, kami bisa membukukan satu juta pelanggan Indihome. Rencana pemerintah untuk fokus ke fixed broadband tentu saja kabar baik bagi kita semua," katanya.

Lanjutan Seleksi 3G dan 4G

Selain mendorong pengembangan infrastruktur fixed broadband, Kemenkominfo di 2016 mendatang juga akan menggelar seleksi peminat pita spektrum 2,1 GHz untuk memperebutkan sisa 10 MHz dan 2,3 GHz untuk sisa 30 MHz.

Rudiantara mengatakan, program seleksi 3G dan 4G tersebut pasti akan digarap menyusul keberhasilan yang diraih selama 2015, yaitu refarming 1.800 MHz, dan implementasi teknologi 4G LTE pada akhir 2015.

"Kami juga akan fokus penataan di 2,1 GHz, dan juga 2,3 GHz. Nanti, untuk frekuensi 2,1 GHz dan 2,3 GHz kita melalui proses seleksi, bukan evaluasi," kata Rudiantara masih dalam kesempatan yang sama.

(rou/rns)