Skema Ideal Transisi 2G ke 4G Tanpa Korbankan 180 Juta Pelanggan

Skema Ideal Transisi 2G ke 4G Tanpa Korbankan 180 Juta Pelanggan

- detikInet
Kamis, 15 Jan 2015 14:25 WIB
Ilustrasi (gettyimages)
Jakarta - Relokasi atau penataan kanal di 1.800 MHz demi implementasi mobile broadband 4G LTE bisa saja memakan korban 180 juta pelanggan 2G yang telah lama bercokol di spektrum frekuensi itu. Lantas, bagaimana caranya agar transisi tetap mulus?

Dalam diskusi dengan pengamat telekomunikasi Teguh Prasetya, setidaknya ada tujuh fokus yang harus diperhatikan seksama agar transisi tetap berjalan lancar dengan meminimalisir resiko terganggunya layanan voice, SMS, dan data yang ada di 2G.

Pertama, penetapan alokasi yang diberikan pemerintah. Kedua, pelaksanaan persiapan migrasi oleh masing-masing operator dan kesepakatan waktunya. Ketiga, monitoring pelaksanaan migrasi satu demi satu operator.

Lalu keempat, penjelasan kepada para pelanggan atau sosialisasi terhadap pelaksanaan migrasi. Kelima, pelaksanaan migrasi dari area yang pelanggannya ataupun jumlah BTS-nya paling sedikit terlebih dahulu, baru kemudian ke area yang padat secara step by step.

Keenam, pengukuran dan evaluasi pelaksanaan hasil migrasinya. Dan terakhir ketujuh, laporan akhir dan penjelasan kepada semua stakeholder terhadap ketuntasan migrasi.

"Bisa juga dibentuk tim Task Force agar lebih fair dan independen," kata Teguh yang juga mantan petinggi operator telekomunikasi, saat berdiskusi dengan detikINET, Kamis (15/1/2015).

Seperti diketahui, di spektrum 1.800 MHz saat ini ditempati oleh Telkomsel dengan lebar pita 22,5 MHz, Indosat dengan 20 MHz, XL Axiata 22,5 MHz, dan Hutchison 3 Indonesia (Tri) dengan 10 MHz.

Sayangnya, blok frekuensi itu terpisah-pisah alias tidak contiguous (berdampingan). Itu sebabnya, perlu dilakukan relokasi untuk penataan frekuensi agar bisa berurutan sebelum akhirnya bisa menyelenggarakan 4G LTE di 1.800 MHz.

Ada tiga opsi untuk urutan kanal yang tengah dibahas Kementerian Kominfo, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia bersama para operator, yakni opsi pertama XL, Indosat, Telkomsel, Tri. Opsi kedua, XL, Telkomsel, Indosat, Tri. Dan opsi ketiga XL, Tri, Indosat, Telkomsel.

Namun yang jadi permasalahan di sini, ada lebih dari 180 juta pelanggan 2G di Indonesia yang masih terikat dengan network di spektrum di 1.800 MHz dengan rincian Telkomsel 90 juta, Indosat 35 juta, XL 30 juta, dan Tri 20 juta.

Untuk menjamin kelancaran penataan urutan kanal tersebut, menurut Teguh, diperlukan kesediaan dari setiap operator untuk menyediakan alokasi frekuensi penyangga terlebih dahulu selama migrasi, dari alokasi awal menuju alokasi yang ditetapkan oleh pemerintah.

"Tentunya hal tersebut memerlukan perencanaan yang matang dan harus dilakukan secara terkoordinir baik teknis maupun waktu implementasinya antar operator maupun dengan pemerintah sebagai regulatornya," imbaunya.

"Yang harus diperhatikan lagi adalah kepentingan komunikasi pelanggan yang menggunakan baik layanan suara, SMS, maupun data yang harus tetap terlayani dengan normal tanpa boleh ada interupsi layanan sedikitpun," jelasnya lebih lanjut.

Masalah pergeseran pelanggan 2G di 1.800 MHz ikut jadi perhatian pemerintah saat memutuskan untuk membuka akses 4G LTE di spektrum tersebut. Menkominfo Rudiantara pun akan terlebih dulu berdiskusi dengan petinggi seluruh operator agar bisa menyamakan visi sebelum mengumumkan kebijakannya.

"Saya akan diskusi dulu dengan semua dirut operator tentang teknis relokasinya. Saya juga tidak bisa lama-lama karena kita mengejar target broadband plan yang harus selesai 2019. Nanti akan kita relokasi per pulau agar bisa lebih cepat implementasinya," kata menteri saat ditemui detikiNET di kantor Kementerian Kominfo.

(rou/ash)