WhatsApp cs yang Bikin Operator 'Menangis'

WhatsApp cs yang Bikin Operator 'Menangis'

- detikInet
Jumat, 23 Mei 2014 14:53 WIB
Ilustrasi (Ist.)
Jakarta -

Coba cek smartphone Anda, aplikasi apa yang wajib ada? Pasti di antaranya ada WhatsApp, Facebook, Twitter dan YouTube. Di industri telekomunikasi, aplikasi-aplikasi tersebut disebut layanan over the top (OTT).

Idealnya, pemain di layanan OTT, vendor ponsel dan operator telekomunikasi saling melengkapi. Hanya saja, kenyataan berkata lain. OTT melesat dengan cepat, sementara yang lain -- khususnya operator telekomunikasi -- jika salah langkah membaca perkembangan industri justru malah akan dibuat kalang kabut.

Singkatnya, layanan OTT perlahan mulai menggantikan layanan dasar operator seperti telepon dan SMS. Akibatnya, revenue operator tergerus habis-habisan. Padahal operator sudah investasi besar-besaran.

Menurut Chairman Lembaga Riset Telematika Sharing Vision Dimitri Mahayana, fenomena inilah yang harus diwaspadai oleh operator agar dapat tetap hidup.

Dimitri mengungkapkan, kecepatan masuknya Indonesia ke broadband, akan diiringi oleh transformasi telekomunikasi, dimana infrastruktur telekomunikasi berubah menjadi pipa.
 
Pertumbuhan trafik broadband atau trafik data sangat cepat sekali, dan hal ini juga di-drive oleh peningkatan tajam pengguna smartphone di Indonesia.

"Di sisi lain, namun harga yang dapat dibayarkan pelanggan tidak dapat mengikuti. Malah harga cenderung turun karena persaingan dan kompetisi," kata Dimitri.
 
Peningkatan pelanggan dan kebutuhan kapasitas broadband di darat akan disertai dengan tekanan pada bisnis telekomunikasi dan industri.

Juga tekanan terhadap kualitas layanan broadband yang dirasakan masyarakat. Peningkatan kebutuhan bandwith dan peningkatan pengguna internet dan smartphone serta peningkatan penggunaan rich application memiliki potensi membuat kualitas layanan broadband yang dirasakan masyarakat semakin rendah.



"Jika tidak ada langkah dari pemerintah, industri telekomunikasi kita terancam akan runtuh. Dan bisa jadi dalam jangka 10 tahun ke depan, akan benar-benar runtuh," tegas Dimitri, mewanti-wanti.

Jelas, tekanan utama terhadap industri telekomunikasi dunia muncul dari OTT. Diperkirakan dari 1,6 miliar pengguna smartphone di dunia pada tahun 2013, 1 miliar di antaranya adalah pengguna OTT. Dan dari 3,1 miliar pengguna smartphone di dunia pada tahun 2017, sebanyak 2,1 miliar adalah pengguna OTT.

"Yang digerus revenue-nya langsung oleh OTT adalah voice dan messaging. Coba lihat sekarang, seberapa sering Anda menggunakan SMS dan chatting? Pasti lebih sering pakai WhatsApp, Line dan lainnya," Dimitri melanjutkan.
 
Dalam sebuah riset, 43% operator melihat Skype sebagai ancaman utama. Profil skype saat ini adalah 280 juta user aktif (2013) dengan total penggunaan 2 miliar menit per hari (7 menit per hari per user) yang setara dengan 730 miliar menit
per tahun (2.555 menit per tahun per user).



"Dengan kondisi seperti ini, Skype membebani operator telekomunikasi dunia sekitar Rp 1,2 triliun per hari (Rp 438 triliun per tahun)," papar Dimitri.



Pergeseran voice dan messaging ke OTT seperti WhatsApp, Line, Skype dan lainnya ternyata sudah dirasakan dampaknya oleh industri operator mobile dunia. Voice diperkirakan turun dengan CAGR -2,5 %, sedangkan SMS -4,2 %.



Riset lain menyebut jika YouTube saat ini menyumbang setidaknya kira-kira 24% global mobile trafik. "Nah, dengan trafik yang tinggi ini maka iklan YouTube juga banyak. Apa gak nangis itu operator," Dimitri berkelakar.

Terlebih, operator sudah mengeluarkan investasi yang sangat besar untuk menggelar layanan. Setelah jadi, jaringan tersebut di atasnya digunakan oleh WhatsApp, YouTube, Facebook dan pemain OTT lainnya tanpa membayar pajak. Sebaliknya, mereka mendapatkan banyak pemasukan dari layanannya.



"Contohnya YouTube, mereka punya trafik tinggi dan menggaet iklan yang ditargetkan untuk konsumen di Indonesia. Tapi apa mereka bayar pajak? SMS saja kita bayar pajak lho!" Dimitri menyindir.

Lebih lanjut, ia memaparkan, secara menyeluruh industri telekomunikasi di dunia masih mungkin kelihatannya revenue-nya naik sedikit. Namun, kenaikan tersebut sebetulnya semu. Bukan kenaikan sebenarnya.
 
Kenaikan didorong kebutuhan akses broadband yang meningkat tajam. Mungkin mencapai double digit. Namun kenaikan ini bisa jadi disertai dengan penurunan dalam revenue voice dan SMS yang akan bergeser menuju OTT.

Lantas, Harus Bagaimana?

Pemerintah pun diimbau untuk turut campur dalam medan persaingan ini. Jika tidak ada langkah dari pemerintah, industri telekomunikasi dikhawatirkan terancam runtuh.

Menurut Dimitri, untuk mencegah keruntuhan ini, pemerintah perlu memiliki strategi yang di satu sisi bisa mengumpulkan kekuatan infrastruktur dan kekuatan infostruktur telekomunikasi dan IT nasional.

"Kemudian, memimpin industri telekomunikasi nasional untuk menghadapi OTT. Pemerintah perlu memiliki arahan regulasi yang jelas dalam rangka penyatuan kekuatan infrastruktur dan kekuatan infostruktur telekomunikasi dan IT nasional, agar memiliki bargaining position dalam berpartner dengan OTT," jelas dosen ITB ini.

Dari sisi operator pun ada tiga jalan yang bisa dipilih untuk menghadapi OTT. Pertama, memblok OTT secara menyeluruh, dimana hal ini sama saja dengan bunuh diri dan berdampak pelanggan kabur.

Kedua, mengikut operator mobile di dunia yang cenderung lebih toleran. Terakhir adalah dengan melakukan partnership dengan pemain OTT.

"Di Indonesia sebenarnya tertolong juga karena broadband kita masih jelek. Tapi mempertahankan yang jelek kan salah juga," Dimitri menandaskan, sembari mewanti-wanti jika internet Indonesia sudah sangat cepat tentunya OTT bakal lebih mengancam revenue operator.

(ash/ash)