Jumat, 29 Nov 2013 16:15 WIB

Indosat Melawan, Satelit Palapa-E Siap Mengangkasa

- detikInet
Alexander Rusli (rou/detikINET) Alexander Rusli (rou/detikINET)
Jakarta - Indosat menegaskan perlawanannya atas usaha pemerintah yang ingin menarik kembali slot orbit 150,5 Bujur Timur (BT) yang tengah dihuni satelit Palapa C2.

Operator yang identik dengan warna kuning itu telah menyampaikan surat kepada Menkominfo Tifatul Sembiring berisi laporan penandatanganan kerjasama Palapa-E in Orbit Delivery Contract dengan Orbital Sciences pada tanggal 27 November 2013 kemarin terkait pemanfataan slot orbit satelit di orbit 150.5° BT.

Penandatanganan kontrak yang dilakukan oleh President Director & CEO Indosat Alexander Rusli dan EVP & GM Orbital Sciences Michael E. Larkin ini merupakan tindak lanjut rencana Indosat dalam mempersiapkan peluncuran satelit Palapa-E di pada tahun 2016 mendatang.

"Penandatanganan kontrak ini merupakan wujud komitmen Indosat untuk memenuhi persyaratan Pemerintah. Dan, kami bergembira dan berterima kasih kepada berbagai pihak sehingga perjanjian kerjasama dengan Orbital Science dapat ditandatangani dalam tenggat waktu seperti yang dimintakan pemerintah," kata Alexander Rusli, dalam keterangannya, Jumat (29/11/2013).

Satelit Palapa-E akan menggantikan satelit Palapa-C2 yang mengorbit di slot 150.5° BT. Satelit Palapa-E yang akan dikendalikan dari Stasiun Bumi Jatiluhur ini menggunakan platform Satelit GEOStar-2 dari Orbital Sciences Corporation, memiliki kapasitas yang terdiri dari transponder C-Band standard dan extended serta transponder KU-Band (optional).

Satelit ini akan meng-cover wilayah Indonesia, ASEAN dan Regional Asia Pasifik. Satelit ini juga akan menjadi bagian dari jaringan backbone untuk mendukung seluruh layanan Indosat, baik layanan seluler, telekomunikasi tetap maupuan data tetap.

"Orbital Sciences siap mendukung Indosat sebagai pelanggan kami dalam rencana desain, produksi serta peluncuran satelit yang merupakan proyek yang penting bagi Indonesia. Dengan seluruh kapasitas yang dimilikinya, satelit GEOStar-2 dari Orbital Sciences adalah solusi optimal guna memenuhi kebutuhan satelit Indosat”, jelas Michael E. Larkin, EVP & GM Orbital Sciences.

Layanan Satelit yang disediakan Indosat antara lain adalah Transponder Lease sebagai basic service untuk memenuhi kebutuhan konektifitas korporasi dan pemerintahan (seperti untuk jaringan e-KTP, ISP, dan lain-lain melalui jaringan VSAT), serta DigiBouquet dan Telecast Service untuk memenuhi kebutuhan pelanggan akan layanan broadcasting.

Saat ini satelit Palapa-D di lokasi orbit 113° BT telah menyiarkan 55 channel TV dan 5 channel radio free-to-air (tidak berbayar) dari dalam maupun luar negeri termasuk di dalamnya sebagian besar TV-TV nasional dan dinikmati oleh sekitar 15 juta pesawat penerima (TVRO) di wilayah Indonesia.

Satelit Palapa-D juga menjadi andalan sarana penyiaran bagi 3 operator TV berbayar nasional dengan jumlah total channel berbayar sebanyak 200 channel.

Adapun layanan Telecast Service digunakan untuk melayani berbagai macam kebutuhan siaran acara-acara tertentu seperti siaran langsung Liga Super Indonesia, Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN dan PBB, SEA Games, dan lain-lain.

Indosat Grup memanfaatkan Satelit Palapa-D dan Palapa-C2 sebagai bagian dari jaringan backbone untuk mendukung seluruh layanan Indosat Grup, baik layanan seluler, telekomunikasi tetap, maupun data tetap dan juga anak perusahaan.

Dicabut Pemerintah

Langkah Indosat ini sekaligus untuk melawan sikap pemerintah melalui Kementerian Kominfo yang sebelumnya telah mengirimkan surat resmi untuk mencabut hak kelola slot orbit 150,5 Bujur Timur yang dikuasakan ke Indosat. Surat yang ditandatangani Menkominfo Tifatul Sembiring ini telah dikirimkan akhir September lalu.

Indosat yang mendapati kenyataan ini jelas tak rela slot orbitnya dicabut. Diakui oleh Alex, panggilan akrab Alexander Rusli, Indosat pun telah berupaya memperjuangkan slot orbit tersebut demi kepentingan Satelit Palapa E yang nantinya diluncurkan di 2016 untuk menggantikan Satelit Palapa C2 yang habis masa orbitnya.

"Kami telah mengirimkan surat untuk meminta klarifikasi lebih jauh soal rencana itu. Kalau ditanya kerugiannya, yang pasti besar banget. Bukan cuma Indosat yang rugi, tapi pemerintah juga. Di Indosat kan ada 14% saham negara," sesal Alex.

Ia pun mengingatkan, jika pemerintah akan menarik slot orbit itu maka Indosat akan menderita potensi kerugian sekitar USD 200 juta hingga USD 250 juta. Angka itu dari hitung-hitungan biaya pembuatan dan peluncuran satelit baru Palapa E.

"Angka yang pasti dari uang muka ke Orbital yang sudah kita setorkan untuk membuat satelit dan peluncurannya" pungkasnya, dalam suatu kesempatan kepada detikINET.

Joget Kaya Jupe

Menkominfo Tifatul Sembiring sendiri pernah mengingatkan bahwa slot orbit itu bukan punya perusahaan, melainkan negara. Adapun perusahaan atau operator cuma sebagai penyewa slot.

"Menurut economical lifetime satelit Indosat (di slot orbit 150,5 BT) itu sudah habis pada tahun 2011. Tapi sekarang yang berlangsung adalah functional lifetime-nya," jelas Tifatul.

"Kita memperingatkan Indosat dari tahun 2011, sampai sekarang mereka belum menyatakan kontrak untuk membeli satelit baru," lanjutnya.

Alhasil, Kominfo pun melayangkan surat peringatan kedua. Dengan ancaman jika mereka belum memenuhi maka slot orbit tersebut akan dicabut.

"Kini satelit di slot orbit 150,5 BT itu masih ada. Tapi itu sudah mengalami perubahan. Kalau istilah saya kaya Jupe (Julia Perez-red.), sudah 'joget-joget'. Di kiri kanannya kita batasi, jadi sudah kaya floater dia (satelit-red.) goyang ke sana ke mari," kelakar Tifatul.

"Indosat tidak optimal memanfaatkannya, terus kita melihat international default dari Ooredoo (induk usaha dari Indosat-red.), mereka tak ada rencana-rencana itu. Jadi wajar dong, sebagai regulator bertanya. (Slot orbit di 150,5 BT) itu sekarang masih dipakai Indosat. Tapi kita rencanakan juga menarik kembali karena mereka tak pakai," pungkasnya, saat ditemui detikINET di sela KTT APEC di Bali.


(ash/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed