Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin memudahkan orang membuat gambar, video, hingga berbagai konten kreatif. Namun, teknologi ini juga membuat konten buatan AI semakin sulit dibedakan dari materi asli. Karena itu, pengguna perlu lebih cermat saat membuat maupun menikmati konten digital.
Pengamat Teknologi Informasi dan Ahli Keamanan Siber, Alfons Tanujaya, menilai perkembangan AI generatif berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan masyarakat untuk mengenali hasilnya.
"Kecepatan perkembangan AI generatif jauh melampaui kecepatan masyarakat beradaptasi mengenalinya. Dulu, membuat sebuah video kreatif butuh waktu yang cukup lama, tapi sekarang, siapa pun bisa menghasilkan gambar atau video yang nyaris tidak terbedakan dari aslinya hanya dalam hitungan detik," ujar Alfons seperti dikutip dari keterangan tertulis.
Menurutnya, transparansi platform dan tanggung jawab pengguna menjadi semakin penting di tengah perkembangan tersebut. AI memang dapat membantu proses kreatif, tetapi hasilnya tetap membutuhkan penilaian manusia agar sesuai konteks dan tidak menyesatkan.
TikTok membagikan lima kebiasaan yang bisa diterapkan pengguna agar dapat memanfaatkan AI secara lebih bijak, sekaligus lebih kritis saat menemukan konten yang mencurigakan.
1. Jadikan AI sebagai asisten
AI dapat membantu mencari inspirasi, mengembangkan ide, dan mempercepat proses produksi konten. Meski begitu, pengalaman, perspektif, dan kreativitas manusia tetap berperan dalam memberikan identitas pada sebuah karya. Alfons menekankan bahwa konten yang dihasilkan dengan bantuan AI tetap membutuhkan campur tangan manusia.
"Nilai tambah yang sesungguhnya lahir ketika kita memberikan perspektif, empati, serta keahlian analitis untuk mengubah data mentah dari AI menjadi solusi yang bermakna dan berdampak positif bagi publik," katanya.
Karena itu, kreator perlu memeriksa kembali hasil AI dan memastikan karya akhirnya tetap mencerminkan gagasan sendiri. AI juga sebaiknya tidak digunakan untuk meniru karya atau gaya orang lain tanpa pertimbangan yang tepat.
2. Jujur jika menggunakan AI
Kreator juga perlu transparan ketika menggunakan AI dalam proses pembuatan konten. Jujur dan mengakui bahwa sebuah konten yang diunggah menggunakan bantuan AI akan membantu audiens memahami bagaimana sebuah karya dibuat dan menjaga kepercayaan terhadap pembuatnya.
Kreator TikTok Theresa (@theresalearns) mengingatkan bahwa AI dapat mendukung kreativitas jika digunakan secara bertanggung jawab. Kreator dapat mengaktifkan Label AI ketika mengunggah konten yang dibuat atau diedit secara signifikan menggunakan AI.
TikTok menyebut telah memberikan label pada lebih dari 3 miliar video buatan AI di seluruh dunia melalui kombinasi Content Credentials, perangkat pelabelan kreator, dan teknologi watermark tak terlihat. Platform ini juga menerapkan Kredensial Konten C2PA untuk membantu mengenali konten yang dibuat atau diedit secara signifikan menggunakan AI.
3. Gunakan AI sesuai kebutuhan
Tidak semua perangkat AI memiliki fungsi yang sama. Kreator disarankan memilih alat berdasarkan kebutuhan, alih-alih mengandalkan satu perangkat untuk seluruh proses produksi.
TikTok, misalnya, menyediakan fitur AI Outline untuk membantu menyusun kerangka konten, ide judul, hashtag, hingga hook video. Ada pula Smart Split di TikTok Studio yang dapat membantu membagi video panjang menjadi beberapa klip pendek secara otomatis.
Pemilihan alat yang tepat dapat membantu proses kreatif menjadi lebih efisien. Namun, kreator tetap perlu memeriksa kualitas hasilnya sebelum dipublikasikan.
4. Terapkan prinsip 3C sebelum membagikan konten AI
Konten AI yang terlihat meyakinkan belum tentu akurat. Kreator TikTok Evelyn Hutani (@hutanhutani) mengajak pengguna membiasakan diri untuk berpikir dua kali, sebelum mempercayai atau membagikan konten yang menarik perhatian. Hal ini sesuai dengan kampanye literasi AI yang sedang diusung TikTok, #PikirDuaKali.
Ia memperkenalkan prinsip 3C yang bisa digunakan saat menemukan konten mencurigakan:
- Cek: Periksa apakah konten dibuat atau diubah menggunakan AI, pahami konteksnya, dan telusuri sumber tepercaya jika diperlukan
- Cegah: Jangan terburu-buru mempercayai atau membagikan konten yang belum jelas kebenarannya
- Cegat: Gunakan fitur pelaporan jika menemukan konten yang dinilai melanggar aturan platform.
Pengguna juga dapat menyesuaikan jumlah konten buatan AI yang ingin muncul di feed TikTok melalui menu Pengaturan dan Privasi, lalu Preferensi Konten, Kelola Topik, dan Konten Buatan AI.
5. Terus belajar mengikuti perkembangan AI
Kemampuan AI terus berkembang, sehingga pemahaman pengguna terhadap teknologi ini juga perlu diperbarui. Edukasi menjadi bagian penting agar masyarakat dapat mengenali risiko sekaligus memanfaatkan teknologi secara lebih bertanggung jawab.
TikTok bekerja sama dengan sejumlah mitra, termasuk National Association for Media Literacy Education (NAMLE) dan pakar AI Henry Ajder, untuk mengembangkan panduan penggunaan AI yang bertanggung jawab. Platform tersebut juga mendukung organisasi seperti NoFiltr dan Raspberry Pi Foundation dalam mendorong literasi AI.
Menurut TikTok, sejak diluncurkan pada November 2025, program tersebut telah membantu berbagai organisasi mitra meraih lebih dari 200 juta views melalui konten edukasi tentang penggunaan AI secara bertanggung jawab.
Pada akhirnya, AI dapat menjadi alat bantu yang berguna untuk belajar dan berkarya. Namun, pengguna tetap perlu menetapkan tujuan, memilih alat yang sesuai, memeriksa hasilnya, dan memahami konteks sebelum membagikan informasi kepada orang lain.
Pengguna yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang pengelolaan konten AI di TikTok dapat mengetik kata AI di kolom pencarian TikTok untuk menemukan informasi dan panduan terkait.
Simak Video "Video AI Bikin Konsumsi Air Dunia Melejit: Dampaknya Bisa Kekeringan!"
(rns/rns)