×
Ad

5 Aplikasi yang Tak Direkomendasikan Ahli Android Meski Jutaan Diunduh

Aisyah Kamaliah - detikInet
Jumat, 17 Jul 2026 06:15 WIB
5 Aplikasi yang Tak Direkomendasikan Ahli Android Meski Jutaan Diunduh Foto: Dok. detikINET
Jakarta -

Ada daftar aplikasi populer yang tidak direkomendasikan ahli Android, salah satunya bahkan sudah ratusan juta kali diunduh. Pankil Shah Hardware Engineer di Cisco Systems mengatakan bahwa angka yang muncul pada jumlah unduhan suatu aplikasi tidak dapat dijadikan suatu patokan.

Melansir Android Authority, Jumat (17/7/2026), Shah menyebut telah melihat banyak aplikasi seperti VPN, antivirus, caller ID, bahkan password manager yang tidak layak untuk diunduh. Meski begitu, dia tak mengatakan bahwa semua aplikasi populer itu buruk, ya.

"Namun, ada banyak aplikasi yang saya sarankan untuk dihindari oleh kebanyakan orang, baik karena masalah privasi dan keamanan atau karena aplikasi tersebut mencoba menyelesaikan masalah yang sudah ditangani Android dengan sempurna," ujarnya.


Berikut ini lima aplikasi yang tidak direkomendasikan ahli Android untuk kamu unduh.

1. Turbo VPN


Turbo VPN tidak memiliki rekam jejak yang bersih. Selama bertahun-tahun, telah ada beberapa laporan tentang praktik data yang dipertanyakan dan hubungannya dengan entitas yang berbasis di China.

"Sejujurnya, Turbo VPN hanyalah satu contoh. Saya rasa hal yang sama berlaku untuk sebagian besar VPN gratis yang menawarkan data tak terbatas. Itu karena menjalankan layanan VPN tidak murah, jadi jika Anda tidak membayarnya, perusahaan tersebut mendapatkan keuntungannya di tempat lain," terangnya.

Agak ironis, ketika tujuan utama menggunakan VPN adalah untuk meningkatkan privasi, tetapi ketika salah memilih aplikasi justru bisa membahayakan. Jika kamu benar-benar menginginkan VPN yang tidak dikenakan biaya, pilihlah penyedia yang telah ada selama beberapa tahun dan memiliki rekam jejak yang solid, misalnya Proton VPN.

2. LastPass


LastPass sebenarnya nama besar di kalangan ahli keamanan, akan tetapi Shah tidak lagi mempercayainya. Menurutnya karena beberapa masalah yang dialami LastPass beberapa tahun terakhir.

"Masalah terbesar dengan LastPass adalah rekam jejak keamanannya. Pelanggaran keamanan tahun 2022 sangat serius. Dalam insiden tersebut, penyerang berhasil mencuri data pelanggan dan bahkan mendapatkan akses ke arsitektur keamanan LastPass," kata Shah.

Memang, tidak ada pengelola kata sandi yang sepenuhnya kebal terhadap serangan semacam itu. Kendati demikian, yang membuat LastPass sulit direkomendasikan ialah karena pelanggaran keamanan tahun 2022 bukanlah kejadian yang terisolasi.

"Lebih penting lagi, ada banyak aplikasi pengelola kata sandi yang jauh lebih baik daripada LastPass. Saya pribadi menggunakan Bitwarden karena bersifat open-source dan terjangkau hanya dengan $20 per tahun," ujarnya.




(ask/ask)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork