Pemerintah Israel Jaga Jarak dari Pembuat Spyware Pegasus

Pemerintah Israel Jaga Jarak dari Pembuat Spyware Pegasus

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Senin, 08 Nov 2021 16:12 WIB
Ilustrasi malware
Ilustrasi malware. Foto: Dok. NordLocker
Jakarta -

Pemerintah Israel enggan dikaitkan dan menjaga jaraknya dari NSO Group, pembuat spyware Pegasus, yang baru-baru ini dimasukkan dalam daftar hitam oleh Pemerintah Amerika.

NSO Group adalah perusahaan di balik spyware Pegasus, yang sering dipakai untuk meretas ponsel berbagai pihak, dari mulai wartawan, aktivis, sampai pejabat pemerintah. Kini mereka kena batunya.

Kementerian Perdagangan AS memasukkan NSO ke dalam Entity List karena software buatannya mengancam aturan-aturan internasional saat dijual ke pemerintah yang represif.

NSO mengekspor produknya ke luar Israel dengan izin Kementerian Pertahanan Israel, yang kemudian juga melakukan investigasi terhadap NSO setelah tudingan penyalahgunaan pemakaian software buatannya.

Sejauh ini penyelidikan tersebut belum membuahkan hasil dan Pemerintah Israel sejauh ini tampaknya belum berniat membatasi ekspor produk buatan NSO, demikian dikutip detikINET dari Reuters, Senin (8/11/2021).

"NSO adalah perusahaan swasta, ini bukan proyek pemerintah dan karena itulah kalaupun mereka sengaja, itu tidak ada hubungannya dengan kebijakan Pemerintah Israel," ujar Yair Lapid, Menteri Luar Negeri Israel.

"Saya pikir tidak ada negara yang punya aturan lebih ketat terkait perang siber dibanding Israel dan juga menegakkan aturan tersebut, kami akan terus melakukan itu," tambahnya.

Ini adalah pernyataan resmi pertama dari Pemerintahan Israel sejak Pemerintah Amerika memasukkan NSO ke dalam Entity List.

Pihak NSO sendiri menyatakan kekecewaannya terhadap keputusan Amerika tersebut dan mereka mengaku sudah mengakhiri kontraknya dengan badan pemerintahan yang menyalahgunakan produk buatannya, yang mereka klaim ditujukan untuk membantu penegakan hukum dan memerangi terorisme.

Pegasus adalah program yang didesain untuk menginfeksi targetnya tanpa ketahuan, jadi penggunanya bisa mengakses ponsel target dan mengambil data-data seperti SMS, foto, password, dan lain sebagainya tanpa jejak

Cara bekerjanya bermacam dan terus berubah. Seperti misalnya pada Juli lalu Pegasus bekerja lewat satu SMS yang dikirim ke ponsel korban. Cara infeksinya ini zero click, alias korbannya tak perlu membuka pesan, mengklik link, ataupun hal lainnya. Cukup menerima kiriman pesan atau sebelumnya menyebar lewat satu panggilan telepon di WhatsApp.

Baru-baru ini nama Pegasus kembali naik daun setelah adanya The Pegasus Project yang mengungkap nama-nama yang terhubung dengan spyware ini, termasuk jurnalis aktivis, bahkan kepala pemerintahan, di seluruh dunia. Yaitu, daftar orang yang diklaim NSO seharusnya tak menjadi target Pegasus.



Simak Video "Khawatir Pengembangan Nuklir Iran, Israel Minta Dukungan Dunia"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/fay)