Bos Telegram Ngaku Sudah Lama Dimata-matai Spyware Pegasus

Bos Telegram Ngaku Sudah Lama Dimata-matai Spyware Pegasus

Virgina Maulita Putri - detikInet
Selasa, 27 Jul 2021 17:15 WIB
pavel durov
Bos Telegram Sadar Dimata-matai Spyware Pegasus Sejak 2018 Foto: Instagram @durov
Jakarta -

Nomor telepon milik pendiri Telegram Pavel Durov termasuk dalam daftar 50.000 nomor yang menjadi target spyware Pegasus. Rupanya Durov sadar telah diawasi oleh spyware buatan perusahaan Israel itu sejak tahun 2018.

Dalam blog yang diunggah di kanal Telegram-nya, Durov mengatakan ia sudah menyadari bahwa salah satu nomor teleponnya menjadi target software mata-mata, meski NSO Group selaku pencipta spyware Pegasus membantahnya. Tapi ia mengaku tidak khawatir.

"Secara pribadi, saya tidak khawatir: sejak 2011, saat saya masih tinggal di Rusia, saya sudah biasa dengan asumsi bahwa semua ponsel saya disusupi," tulis Durov dalam blognya di Telegram, seperti dikutip detikINET, Selasa (27/7/2021).

Durov mengaku siapapun yang membobol ponselnya tidak akan menemukan informasi pribadi yang penting. Karena ponselnya dipenuhi oleh desain konsep untuk fitur baru serta jutaan pesan terkait proses pengembangan produk Telegram.

Sebagai pendiri dan manajer produk Telegram, Durov memang bertanggung jawab untuk menjajal langsung semua fitur baru yang akan diluncurkan oleh layanan messaging tersebut.

Hal yang dikhawatirkan Durov adalah bagaimana spyware seperti ini digunakan untuk mengawasi orang yang lebih penting darinya. Dari bocoran daftar target spyware Pegasus saja terdapat nomor telepon milik 14 kepala negara, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Terkait kasus spyware Pegasus, Durov turut menyalahkan Apple dan Google. Ia merujuk pada temuan yang diungkap oleh Edward Snowden yang mengatakan Apple dan Google merupakan bagian dari program mata-mata global, yang mengindikasikan kedua perusahaan ini memiliki backdoor di sistem operasi mereka.

Durov mengatakan backdoor ini biasanya dimanfaatkan oleh pemerintah Amerika Serikat untuk mengakses informasi dari ponsel mana saja. Tapi jika pemerintah AS bisa mengakses backdoor ini, maka pihak lain juga bisa melakukan hal yang sama.

"Adanya backdoor dalam infrastruktur dan software krusial menciptakan tantangan besar bagi umat manusia," ucap Durov.

"Itulah mengapa saya menyerukan kepada pemerintah dunia untuk bertindak melawan duopoli Apple-Google di pasar ponsel dan memaksa mereka untuk membuka ekosistem mereka yang tertutup dan memungkinkan lebih banyak kompetisi," pungkasnya.



Simak Video "Gaet Jutaan User Baru, CEO Telegram: Migrasi Digital Terbesar"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/fyk)