Waspada! Link Berbahaya Menyebar Masif di WhatsApp

Waspada! Link Berbahaya Menyebar Masif di WhatsApp

Agus Tri Haryanto - detikInet
Rabu, 14 Jul 2021 15:35 WIB
Hoax PPKM di WhatsApp
Ilustri link berbahaya menyebar masif di WhatsApp. Foto: Adi Fida Rahman/detikINET
Jakarta -

Teruntuk para pengguna WhatsApp, ada baiknya berhati-hati ketika menerima pesan yang isinya link atau tautan. Bisa jadi, link tersebut modus dari kejahatan siber.

Berdasarkan data anonim yang diperoleh secara sukarela oleh Kaspersky Internet Security, untuk pengguna Android, memperlihatkan bahwa aplikasi pesan instan populer jadi incaran para scammer phising.

Data yang terdeteksi Desember 2020 sampai Mei 2021, menunjukkan sejumlah besar tautan berbahaya beredar di WhatsApp (89,6%), Telegram (5,6%), Viber (4,7%), dan Hangouts kurang dari satu persen.

Adapun, negara yang menjadi korban link berbahaya berupa serangan phising ini terjadi di Rusia (46%), Brasil (15%), dan India (7%). Setidaknya secara global sebanyak 480 deteksi dicatat per hari.

Bagaimana dengan Indonesia? tentu tidak bisa dibilang aman. Kaspersky mengungkapkan untuk Indonesia menunjukkan sebanyak 738 deteksi untuk WhatsApp dan 39 deteksi untuk Telegram.

Kendati, Telegram memiliki jumlah deteksi paling sedikit, tetapi secara geografi, Kaspersky mengatakan, mirip dengan WhatsApp. Jumlah tautan berbahaya terbesar terjadi terjadi di Rusia (56%), India (6%), dan Turki (4%).

Viber dan Hangouts memang menerima lebih sedikit catatan deteksi. Perbedaan utama di antara mereka adalah representasi regional.

Kaspersky mengatakan, jumlah deteksi untuk aplikasi Viber diidentifikasi sebagian besar di Rusia dengan 89%, Ukraina (5%), dan Belarusia (2%). Sedangkan deteksi tautan berbahaya di Hangouts banyak terdeteksi di Amerika Serikat (39%) dan Prancis (39%).

Dalam hal jumlah serangan phising yang tercatat per pengguna WhatsApp, Brasil paling atas dengan 177 deteksi dan disusul Brasil (158). Rusia sjuga peringkat pertama jumlah deteksi berbahaya di Viber (305) dan Telegram (79) dibandingkan negara lainnya.

"Statistik menunjukkan bahwa phising di aplikasi pesan instan masih menjadi salah satu alat paling populer di kalangan scammer. Sebagian karena popularitas aplikasi ini semakin luas dai kalangan pengguna, serta kemampuan fungsionalitas bawaan pada aplikasi untuk meluncurkan serangan," tutur Analis Konten Web Senior Kaspersky, Tatyana Shcherbakova.

Untuk mengurangi risiko penipuang dan menerima tautan berbahaya di aplikasi pesan instan, berikut tips dari Kaspersky:

  • Waspada dan perhatikan kesalahan pada ejaan atau penyimpanan lainnya di sebuah tautan.
  • 'Skema rantai' adalah praktik umum, di mana scammer meminta pengguna untuk membagikan tautan berbahaya dengan kontaknya yang kemudian terlihat sah bagi pengguna lain, layaknya dari orang yang mereka kenal. Waspada dan jangan bagikan tautan berbahaya yang mencurigkan.
  • Scammers sering menggunakan WhatsApp dan aplikasi pesan instan lain untuk berkomunikasi dengan pengguna yang ditemukan dari sumber yang sah dan juga menggunakannya sebagai metode komunikasi dalam pesan berbahaya. Bahkan jika pesan dan situs web terlihat sah, hyperlink, kemungkinan besar akan memiliki ejaan yang salah atau mereka dapat mengarahkan Anda ke halaman yang berbeda.
  • Bahkan jika pesan data dari salah satu kerabat Anda. Ingatlah bahwa akun mereka juga bisa diretas. Tetap berhati-hati dalam situasi apapun, meskipun sebuah pesan tampak ramah.
  • Instal solusi keamanan terpercaya dan ikuti rekomendasinya. Solusi keamanan akan menyelesaikan sebagian besar masalah secara otomatis dan memperingati Anda dalam situasi genting.


Simak Video "WhatsApp Kembangkan Fitur Baru: Kirim Foto Jadi Stiker"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/afr)