Muslim Pro, Tuduhan Jual Data dan Ancaman Blokir Kominfo - Halaman 2

Round-up

Muslim Pro, Tuduhan Jual Data dan Ancaman Blokir Kominfo

Tim detikINET - detikInet
Sabtu, 21 Nov 2020 08:00 WIB
Muslim Pro
Foto: Adi Fida Rahman/detikINET
Direktur Eksekutif Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) Nihad Awad mendesak agar dilakukan penyelidikan terkait dugaan jual-beli data pengguna aplikasi Muslim Pro ke Militer AS.

"Kami mendesak agar Kongres menyelidiki lebih dalam dan untuk memastikan bahwa lembaga pemerintah atau pemain lain tidak menyalahgunakan data atau memiliki akses ilegal yang melanggar kepercayaan dan privasi pengguna," ujar Awad dikutip Salaam Gateway.

Bahkan, CAIR mengajak umat Islam untuk berhenti menggunakan aplikasi Muslim Pro dan aplikasi lainnya sampai pemilik dari layanan tersebut menawarkan transparansi dan berjanji mengakhiri memanfaatkan data pengguna oleh pemerintah.

CAIR juga akan mengajukan petisi kepada Kongres untuk mengusut tuntas persoalan jual-beli data pengguna Muslim Pro ke Militer AS itu.

"Kami kejar masalah ini sampai kita mendapatkan jawabannya," tegas Awad.

Sementara di Tanah Air, suara kritis terkait kabar penjualan data pengguna oleh Muslim Pro datang dari Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Lewat akun Instagramnya, dia mengungkapkan kekecewaannya terhadap penyalahgunaan data privasi aplikasi Muslim Pro.

Ridwan Kamil sendiri mengaku sebagai salah satu pengguna dari aplikasi Muslim Pro. Ia menggunakan Muslim Pro karena ia menilai layanan tersebut bagus.

"Namun jika disalahgunakan, tentunya itu melanggar hal fundamental, yaitu privasi data dan lokasi pengguna," tulis Ridwan Kamil di akun Instagram yang diposting hari ini, Kamis (19/11/2020).

[Gambas:Instagram]

Pria yang disapa Kang Emil juga sudah mengetahui bahwa Muslim Pro sudah membantah laporan mengenai jual-beli data pengguna ke tangan Militer AS, di mana itu dilakukan bukan oleh Muslim Pro, melainkan oleh pihak ke-3 yang terikat kontrak dengan aplikasi ini.

"Selama hubungan dengan pihak ke-3 terduga ini belum diputus, maka kekhawatiran penyalahgunaan itu masih ada," ungkap Ridwan Kamil.

Sebagai pemimpin daerah yang ingin melindungi warganya dan di sisi lain belum ada kepastian transparansi dari pihak Muslim Pro. Ridwan Kamil mengajak agar berpindah ke aplikasi lainnya.

"Sementara mari pindah ke apps yang lain, sampai ada kepastian terkait perlindungan privasi pengguna. Namun, apapun itu, semua kembali ke pilihan masing-masing," ucap pria berkacamata ini.

Muslim Pro Membantah

Setelah digemparkan dengan laporan jual-beli data pengguna, Muslim Pro langsung buka suara dan membatas kabar tersebut.

Muslim Pro menyatakan bahwa pemberitaan tersebut tidak benar. Muslim Pro telah berkomitmen untuk melindungi data privasi para penggunanya.

"Laporan media yang beredar bahwa Muslim Pro telah menjual data pribadi penggunanya ke Militer AS. Ini SALAH dan TIDAK BENAR," tegas mereka pada Kamis (19/11/2020).

Selang beberapa hari kemudian Muslim Pro kembali meluruskan kabar yang beredar. Mereka menjabarkan secara detail terkait data yang diolahnya.

1. Data apa yang dikumpulkan oleh Muslim Pro dan mengapa dibutuhkan?

Kami mengumpulkan, memproses, dan menggunakan informasi yang disediakan dan diberikan oleh para pengguna saat mengakses aplikasi dan layanan kami, misalnya seperti informasi yang Anda masukkan terkait dengan penggunaan aplikasi. Kami menggunakan informasi yang tersedia untuk meningkatkan layanan, mendukung riset lebih mendalam, serta mengembangkan aplikasi.