Kebocoran Data Terjadi Lagi, Bukti Keamanan Siber Masih Lemah - Halaman 2

Kebocoran Data Terjadi Lagi, Bukti Keamanan Siber Masih Lemah

Tim - detikInet
Selasa, 03 Nov 2020 15:39 WIB
kejahatan cyber
Foto: Internet

Tindakan antisipasi

"Seharusnya WFH diikuti dengan memberikan sejumlah tools keamanan seperti VPN, berguna terutama saat pegawai sedang mengakses sistem kantor. Selain itu dengan pembatasan jam kerja, bukan berarti pengawasan terhadap sistem jadi berkurang," jelas Chairman CISSReC ini.

"Bahkan di luar negeri menurut Microsoft, pengawasan dan anggaran belanja untuk keamanan siber malah naik selama pandemi COVID-19 ini," ucapnya menambahkan.

Pratama menambahkan bahwa edukasi juga wajib dilakukan, seperti pegawai dilarang mengakses sistem kantor dengan jaringan yang beresiko, misalnya WiFi publik, WiFi kafe dan sumber jaringan lain yang tidak jelas siapa adminnya. Tanpa edukasi standar seperti ini, kata Pratama, sistem kantor akan terekspos dengan mudah.

"Marketplace memang diincar, karena salah satu yang menjadi pengelola data masyarakat paling banyak. Sasaran paling atas oleh peretas dewasa ini adalah sektor kesehatan dan juga farmasi. Namun karena tingginya transaksi lewat marketplace, membuat para peretas juga mengincar marketplace, apalagi mereka mengincar sistem yang menyimpan data kartu kredit, harganya jauh lebih mahal saat dijual di forum internet," terang Pratama.

Mengetahui fakta ini, sebaiknya keamanan siber harus menjadi salah satu yang diprioritaskan oleh Penyelenggara Sistem dan Transaksi Elektronik (PSTE) negara maupun swasta. CISSReC berharap, kejadian ini sampai hal seperti ini terus menerus terjadi.

Lazada dan Cermati memang lembaga swasta, tetapi sebelumnya juga ada website DPR yang diretas bahkan lembaga sebesar DPR saja, sebut Pratama, websitenya tidak ditambahkan SLL yang sekarang ini menjadi fitur standar sebuah website.

"PSTE juga harus melakukan penetration test berkala, kalau perlu sebulan sekali. Selain itu wajib melengkapi perlindungan data dengan enkripsi. Dari kebocoran data Tokopedia dan Cermati ini punya kesamaan, keduanya hanya mengaplikasikan enkripsi pada password saja. Padahal semua data masyarakat yang dikelola harus diamankan dan sebaiknya dienkripsi," pungkas Pratama.



Simak Video "3 Miliar Email dan Password Bocor di Internet, Apa Bahayanya?"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/fay)