6 Mata-mata Rusia Jadi Tersangka Peretasan

6 Mata-mata Rusia Jadi Tersangka Peretasan

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Rabu, 21 Okt 2020 20:15 WIB
kejahatan cyber
6 Mata-mata Rusia Jadi Tersangka Peretasan (Foto: Internet)
Jakarta -

Kementerian Hukum Amerika Serikat menjadikan enam mata-mata Rusia sebagai tersangka dalam berbagai aksi peretasan di seluruh dunia.

Ke-6 orang tersebut dipercaya adalah bagian dari sindikat hacker elit bernama Sandworm. Sindikat ini dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap sejumlah malware paling berbahaya di dunia.

Aksi peretasan tersebut termasuk serangan ransomware NotPetya yang menyerang banyak rumah sakit di seluruh dunia, serangan malware BlackEnergy, Industroyer, dan Kill Disk terhadap pembangkit listrik di Ukraina pada 2015, serangan spear phishing yang mengganggu pemilu Prancis pada 2017, sampai malware Olympic Destroyer yang menyerang jaringan komputer Olimpiade Musim Dingin 2018 di PyeongChang.

Nama ke-6 orang hacker itu adalah Yuriy Sergeyevich Andrienko, Sergey Vladimierovich Destistov, Pavel Valeryevich Frolov, Anatoiy Sergeyevich Kovalev, Artem Valeryevich Ochichenko, dan Petr Nikolayevich Pliskin.

Mereka dipercaya tinggal di Rusia, dan artinya, tujuan dari pemerintah AS untuk menjadikan ke-6 orang itu sebagai tersangka hanya untuk mempermalukan Rusia, karena kemungkinan besar Rusia tak akan menyerahkan intelnya itu ke AS untuk diproses secara hukum.

Dari sekian banyak serangan siber yang terjadi di banyak negara itu, memang belum pernah ada yang menuding secara terang-terangan kalau GRU -- badan intelijen militer Rusia -- ada di balik berbagai peretasan tersebut, demikian dikutip detikINET dari The Verge, Rabu (21/10/2020).

Namun memang GRU seringkali dikaitkan dengan serangan siber bernama 'Fancy Bear', yang beberapa kali pernah disebut oleh berbagai perusahaan keamanan siber. Namun dalam kasus ini, pemerintah AS secara detil menyebut kalau tim hacker GRU itu berkantor di 22 Kirova Street, Moskow, atau disebut sebagai 'The Tower'.

Dari sekian banyak serangan siber yang fatal itu, dampak paling besar terjadi pada peretasan terhadap pembangkit listrik di Ukraina. Sebabnya serangan tersebut terjadi pada musim dingin, yang dampaknya adalah ratusan ribu orang tak bisa menyalakan pemanas udara saat suhu sedang dingin-dinginnya.



Simak Video "Kasus Peretasan Tempo-Tirto, Polisi Analisis dan Periksa Saksi"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/fay)