Menangkis 'Magis' Penjahat Siber - Halaman 6

Menangkis 'Magis' Penjahat Siber

Baban Gandapurnama - detikInet
Senin, 19 Okt 2020 22:00 WIB
Cyber Crime
Menangkis 'Magis' Penjahat Siber (Foto: internet)

Jurus JAGA

Dery, salah satu driver Gocar di Kota Bandung, bosan membaca pesan singkat berisi info pengumuman pemenang hadiah dan undian. Sudah sering ponselnya menerima pesan palsu dari sejumlah pihak yang mengaku pegawai Gojek.

"Saya sering baca berita soal modus penipuan. Ya kalau ada informasi seperti itu buat apa dituruti. Abaikan saja," ucap Dery.

Pelaku 'magis' bersikukuh merayu Dery mengirim atau menuliskan nomor OTP. Padahal, menurut dia, kode rahasia wajib dijaga dan jangan dibagikan kepada pihak manapun. Sekadar diketahui, seluruh penyedia jasa keuangan tidak pernah meminta kode verifikasi OTP.

"Jangan pernah membagikan OTP. Kalau terjebak, ya repot. Bisa-bisa habis saldo Gopay diambil si penipu," ucapnya.

Menurut Dery, pihak Gojek punya peranan penting menjaga keamanan driver dan mitra lainnya untuk mempersempit ruang gerak penipu. Sejauh ini, sambung dia, Gojek telah mempertebal ptoteksi dalam upaya menutup celah sindikat penjahat siber. "Sekarang aman dengan adanya fitur vermuk (verifikasi muka). Driver harus vermuk saat login akunnya. Fitur tersebut membuat akun driver tidak bisa dibuka atau diakses pihak lain," kata Dery.

Satu dekade atau 10 tahun menapaki bisnis, Gojek yang dinobatkan sebagai perusahaan startup unicorn pertama di Indonesia, tentu pernah menghadapi modus kriminal penjahat siber. Seabreg pengalaman soal keamanan digital terus diperbaiki platform teknologi karya anak bangsa ini.

Di Asia Tenggara, Gojek memelopori model super aplikasi (pelanggan, mitra driver dan mitra merchant) yang terintegrasi dalam satu ekosistem. Catatan per Februari 2020, total mengunduh aplikasi Gojek mencapai 190 juta. Pada tahun yang sama, tercatat ada lebih dari 2 juta mitra driver dan 500 ribu mitra Gofood. Jumlah mitra dan pengguna sebanyak itu perlu mewaspadai ragam modus penipuan 'magis'.

Inovasi berupa Gojek SHIELD menerapkan teknologi pendeteksi perangkat ilegal secara otomatis. Fitur Lapor Ofik (Order Fiktif) Gak Pake Lama membuat keamanan dan kenyamanan mitra dalam bekerja senantiasa terjaga.

"Teknologi machine learning dan kecerdasan buatan telah kami manfaatkan untuk mendeteksi serta menindak berbagai tindakan curang yang merugikan mitra driver, termasuk diantaranya order fiktif dan penggunaan perangkat ilegal," kata Head of Driver Operations-Trust & Safety Gojek Kelvin Timotius.

"Sebelumnya teknologi sejenis juga telah banyak membantu meningkatkan keamanan mitra, misalnya lewat fitur Verifikasi Muka dan penyamaran nomor telepon," Kelvin menambahkan.

Gojek terus mengimbau publik untuk tetap menjaga keamanan sepanjang beraktivitas di ruang digital, termasuk transaksi non-tunai. Jurus JAGA ala Gojek dapat menjadi perisai menangkis penjahat siber.

"JAGA ini merupakan akronim dari, Jangan transfer di luar aplikasi, Amankan data pribadi seperti kode rahasia OTP, Gunakan PIN dan fitur biometrik untuk verifikasi transaksi, dan segera Adukan hal mencurigakan kepada layanan pelanggan atau pihak berwajib," ucap Vice President of Corporate Communications Gojek Audrey Progastama Petriny.

GoPay Head of IT Governance, Risk and Compliance, Information Security - Genesha Saputra mengungkapkan usaha Gojek tidak berhenti di teknologi saja. Pihaknya terus mengedukasi komprehensif kepada mitra driver, mitra merchant dan masyarakat.

"Edukasi dilakukan melalui berbagai kanal komunikasi milik perusahaan dan kanal eksternal seperti sosial media dan webinar publik. Edukasi ini penting mengingat literasi digital masyarakat Indonesia yang masih rendah dan berbanding terbalik dengan penggunaan aplikasi digital yang makin meningkat," tutur Ganesha.

(bbn/fay)