Duh! 298.892 Ransomware Infeksi Indonesia Semester I 2020

Duh! 298.892 Ransomware Infeksi Indonesia Semester I 2020

Adi Fida Rahman - detikInet
Rabu, 02 Sep 2020 19:33 WIB
Human hand on keyboard,isolated, selective focus, shallow depth of field, concept of work & technology.
Serangan ransomware tidak berhenti meski ada pandemi. Foto: Thinkstock
Jakarta -

Kendati ada pandemi, serangan Ransomware tak berhenti. Buktinya, ada 298.892 serangan Ransomware yang terdeteksi di Indonesia sepanjang semester pertama 2020.

Demikian diungkap Dony Koesmandarin, Territory Channel Manager untuk Indonesia di Kaspersky saat membeberkan landscape ransomware di Tanah Air. Untuk di Asia Tenggara sendiri jumlah serangan yang terdeteksi dan berhasil diblokir sebanyak 831.105.

Kendati angka serangan di Indonesia begitu tinggi, Dony menegaskan tidak ada sangkut paut soal negara. Ini lebih pada kesadaran masyarakat kita yang masih rendah akan serangan ransomware.

"Masyarakat kita keingintahuannya tinggi alias kepo. Ada tulisan jangan dibuka, malah dibuka. Jangan diklik malah diklik," kata Dony.

Kaspersky mencatat siapa yang menjadi target serangan ransomware. Sebanyak 2,13% adalah UKM, 39,94% pengguna individu atau konsumer. Paling banyak kalangan enterprise sebanyak 49%.

Serangan ransomware ini menginfeksi lewat beragam metode, paling sering menggunakan phising dan attachment. Tercatat ada lima ransomware paling banyak menyerang, yakni:


- Trojan-Ransome.Win32.Wanna
- Trojan-Ransome.Win32.Stop
- Trojan-Ransome.Win32.Cryakl
- Trojan-Ransome.Win32.GrandCrypt
- Trojan-Ransome.Win32.Gen

Bila mana komputer sudah terinfeksi ransomware ada sejumlah langkah yang harus dilakukan. Pertama jauhkan perangkat yang terinfeksi tadi dari komputer lain, sebab ransomeware dapat menyerang bila saling terhubung.

Kembalikan data dengan decyrptor tools, salah satu yang menyediakan nomoreransom.org. Tak kalah penting melakukan investigasi sehingga dapat ke depannya kejadian serupa tidak terulang.

Bilamana setelah terjadi serangan ada permintaan uang untuk membuka enkripsi disarankan untuk tidak memenuhinya. "Hasil evaluasi kami, 20% dari target, walaupun sudah membayar tidak mendapat filenya kembali," kata Dony.

Dony menegaskan langkah preventif sebenarnya jauh lebih penting. Lakukan proteksi dan rajin melakukan update software agar tidak ada celah keamanan yang bisa dimanfaatkan.

"Selalu backup, backup dan backup, itu paling penting. Tapi jangan backup di komputer yang sama," pungkas Dony.



Simak Video "Tips Cegah Kejahatan 'Phising' Bagi UMKM di Masa Pandemi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(afr/fay)