Data Vaksin Corona Diduga Dicuri Hacker Rusia

Data Vaksin Corona Diduga Dicuri Hacker Rusia

Virgina Maulita Putri - detikInet
Jumat, 17 Jul 2020 13:40 WIB
Hacker Rusia Berhasil Membobol Jaringan Komunikasi Pemerintah Jerman
Hacker Rusia Diduga Curi Data Vaksin Virus Corona Foto: DW (News)
Jakarta -

Hacker dari badan intelijen Rusia disebut mencoba mencuri data soal pengembangan vaksin Corona, berdasarkan informasi dari otoritas Amerika Serikat, Inggris dan Kanada.

National Cyber Security Centre (NCS) dari Inggris mengutuk serangan ini. Mereka meyakini serangan ini datang dari kelompok APT29 yang juga dikenal sebagai 'the Dukes' dan 'Cozy Bear', organisasi spionase yang terkait dengan badan intelijen Rusia.

Dikutip detikINET dari The Verge, Jumat (17/7/2020) agensi keamanan lainnya juga mendukung temuan ini, termasuk Communications Security Establishment, US Department of Homeland Security, Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA), dan National Security Agency.

NCSC meyakini hacker mencoba untuk mengumpulkan penelitian seputar COVID-19, termasuk informasi seputar pengembangan vaksin.

"Kami mengutuk serangan tercela seperti ini terhadap mereka yang melakukan pekerjaan vital untuk memerangi pandemi virus Corona," kata Director of Operations Paul Chicester dalam keterangannya.

Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab dalam keterangannya juga mengutuk aksi kelompok hacker ini.

"Benar-benar tidak bisa diterima bahwa Badan Intelijen Rusia menargetkan mereka yang bekerja untuk melawan virus Corona," kata Raab.

"Sementara orang lain mengejar kepentingan yang egois mereka dengan perilaku sembrono, Inggris dan sekutunya melanjutkan kerja keras untuk menemukan vaksin dan melindungi kesehatan global," sambungnya.

Sementara itu, petinggi intelijen AS mengatakan hacker Rusia mencoba mencuri hasil riset untuk mengembangkan vaksin Corona mereka sendiri dengan lebih cepat, bukan untuk menyabotase usaha negara lain.

Berdasarkan laporan NCSC, APT29 menggunakan beragam tools dan teknik dalam operasi pembobolan mereka, termasuk dengan phishing dan menyusupkan malware.

"Kelompok ini sering menggunakan celah yang sudah tersedia untuk umum untuk melakukan pemindaian dan eksploitasi terhadap sistem yang rentan, kemungkinan dalam upaya untuk memperoleh kredensial otentikasi untuk mendapatkan akses lebih lanjut," tulis laporan tersebut.

Kelompok hacker ini diduga menyimpan informasi login dalam jumlah banyak. Setelah berhasil membobol organisasi yang menjadi target, APT29 kemudian meluncurkan malware khusus untuk melakukan operasi lebih lanjut di dalam sistem.

Petinggi pemerintah ketiga negara tersebut tidak menyebutkan organisasi yang menjadi korban pembobolan. Tapi menurut mantan kepala badan intelijen Inggris GCHQ, Robert Hannigan, target utama serangan ini adalah Universitas Oxford dan perusahaan farmasi AstraZeneca, yang telah berkolaborasi mengembangkan vaksin COVID-19.

Selagi pandemi virus Corona semakin menyebar luas, beberapa negara telah mengeluarkan peringatan tentang serangan siber yang menargetkan penelitian kesehatan, terutama yang berkaitan dengan vaksin Corona.

Pada bulan Mei lalu, FBI dan CISA menuduh China telah membiayai dan menjalankan upaya peretasan untuk mencuri informasi tentang vaksin virus Corona dari AS dan sekutunya. Pada awal tahun ini, Inggris dan AS mengeluarkan peringatan tentang kelompok dari China, Iran, Korea Utara dan Rusia yang menargetkan organisasi layanan kesehatan, perusahaan farmasi, kelompok penelitikan dan pemerintah lokal.



Simak Video "Polisi Ringkus Hacker Peretas Ribuan Situs di Dalam dan Luar Negeri!"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/fay)