Minggu, 05 Jul 2015 13:25 WIB

Teller Masih Dipercaya Dibandingkan Online Banking

Ardhi Suryadhi - detikInet
Ilustrasi (gettyimages) Ilustrasi (gettyimages)
Jakarta - Meski internet banking semakin merakyat, ternyata masih banyak nasabah yang menyimpan kekhawatiran dari layanan ini. Ujung-ujungnya, datang langsung ke teller masih menjadi pilihan utama.

Menurut survei dari Kaspersky Lab dan B2B International, sebagian pengguna internet (46%) percaya bahwa transaksi langsung di loket kasir bank lebih aman daripada online banking.

Kendati ada kekhawatiran ini, namun bukan berarti transaksi online ditinggalkan. Hanya saja banyak yang tidak mempedulikan penggunaan keamanan yang paling mendasar sekalipun, sehingga membahayakan uang mereka serta reputasi bank.

Salah satu cara yang paling mudah bagi para penjahat cyber untuk mengakses rekening bank online adalah dengan berpura-pura menjadi si pemilik rekening. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memperoleh informasi mengenai rekening, membuat halaman phishing yang bisa membuat pengguna tanpa sengaja memberikan username dan kode sandinya, atau menyadap data tersebut dengan virus Trojan ketika pengguna login ke halaman resmi bank. Komputer dan telepon genggam sangat rentan terhadap ancaman-ancaman ini.

Survei Kaspersky menunjukkan bahwa sejumlah besar pengguna (49%) merasa rentan ketika melakukan transaksi finansial secara online. Selain itu, setengah dari pengguna (59%) menyatakan bahwa melakukan transaksi secara offline lebih dapat dipercaya dibanding online, dan 46% setuju bahwa offline banking lebih aman daripada online banking.

Namun, terlepas dari ketakutan ini, mayoritas pengguna internet yang melakukan pembayaran online: 79% dari responden menggunakan desktop atau laptop untuk pembayaran online, 52% menggunakan tablet, dan 45% menggunakan smartphone, serta 12% pemilik Smart-TV menggunakan Smart-TV mereka untuk melakukan transaksi tersebut.

Di saat yang sama, menurut survei, 1 di antara 5 pengguna tidak melakukan apa-apa untuk melindungi data finansial online mereka.

“Jika para nasabah memilih transaksi tradisional melalui loket kasir di bank, karena takut menjadi korban penipuan di internet, maka akan menghambat adopsi sistem pembayaran online dan mobile bermargin tinggi," kata Ross Hogan, Global Head of the Fraud Prevention Division di Kaspersky Lab.

Hal ini juga akan memaksa bank untuk menambah investasi sumber daya di cabang-cabang bermargin rendah. Sementara itu, ada kecemasan yang tinggi akan keamanan di antara para nasabah yang sudah mengadopsi pembayaran online dan mobile, karena ada kemungkinan mereka menempatkan uang – serta reputasi bank – pada risiko yang sebenarnya tidak perlu.

"Karena itulah, saat ini sangat penting bagi bank untuk berinvestasi di teknologi yang menjamin suasana yang aman di bank bagi para nasabah mereka. Pendekatan ini tidak hanya akan meyakinkan kembali nasabah yang lebih memilih bertransaksi langsung di loket kasir bank bahwa online dan mobile banking aman, tetapi juga akan mengurangi risiko bagi nasabah yang kurang berhati-hati, yang mungkin, jika bank tidak melakukan investasi ini, akan kehilangan data finansial penting,” jelasnya.

(ash/ash)