×
Ad

Gurun Terkering di Bumi Mendadak Bersalju, Apa yang Terjadi?

Rachmatunnisa - detikInet
Kamis, 03 Sep 2026 05:45 WIB
Foto: NASA EOSDIS LANCE dan GIBS/Worldview.
Jakarta -

Salah satu tempat terkering di Bumi mendadak berubah menjadi putih. Badai musim dingin pada Agustus 2026 menyelimuti sebagian besar Gurun Atacama di Chile dengan salju, bahkan mencapai wilayah yang hampir mendekati pantai Pasifik.

Fenomena ini cukup langka. Atacama memang pernah mengalami salju pada 2011 dan 2025, tetapi badai Agustus 2026 memiliki jangkauan yang tidak biasa. Salju bergerak dari Pegunungan Andes, melintasi bagian tengah gurun yang sangat kering, hingga mendekati pesisir.

Perubahan dramatis tersebut terlihat jelas melalui citra satelit NASA. Satelit Landsat 8 dan Landsat 9 mengambil gambar kawasan Atacama pada 6 dan 14 Agustus, memperlihatkan perbedaan kondisi sebelum dan setelah badai.

Yang menarik, salju bukan satu-satunya hal yang datang bersama badai. Di wilayah lain, hujan turun dalam jumlah yang sangat besar hingga memicu banjir bandang dan aliran lumpur.

Di Taltal, Chile bagian utara, hampir 40 milimeter hujan tercatat hanya dalam tiga hari. Menurut René Garreaud, ilmuwan atmosfer dari University of Chile, jumlah tersebut kira-kira 10 kali rata-rata curah hujan tahunan kota tersebut.

"Kita hanya melihat kejadian seperti ini beberapa kali, kalaupun ada, dalam satu dekade," ujarnya seperti dikutip dari Science Daily.

Artinya, bagi wilayah yang hampir tidak pernah mendapatkan hujan, curah hujan selama beberapa hari bisa setara dengan hujan yang biasanya diterima sepanjang satu dekade.

Atacama dikenal sebagai salah satu wilayah paling kering di dunia. Sebagian daerahnya bahkan hampir tidak pernah mendapatkan hujan. Kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi pegunungan Andes, arus laut dingin Humboldt, serta sistem tekanan atmosfer yang membuat udara di kawasan tersebut sangat kering.

Namun, pada Agustus tahun ini, pola atmosfer berubah. Salah satu penyebabnya adalah sistem tekanan rendah yang disebu cutoff low. Sistem ini merupakan area tekanan rendah yang terpisah dari aliran jet stream dan dapat membawa udara lembap ke wilayah yang biasanya sangat kering.

Pada akhir Agustus, sistem tekanan rendah tersebut terbentuk dari sebuah trough atau daerah memanjang dengan tekanan udara relatif rendah yang membentang sangat luas di Belahan Bumi Selatan.

Ketika sistem tersebut bertemu dengan pasokan kelembapan yang melimpah dari kawasan pesisir, terbentuklah kondisi yang memungkinkan hujan dan salju turun di wilayah yang biasanya hampir tidak mendapat presipitasi.

Garreaud mengatakan jumlah presipitasi yang dihasilkan mencapai tingkat yang jarang terlihat di wilayah yang biasanya sangat gersang tersebut.

Badai bahkan mencapai dataran tinggi Chajnantor, kawasan yang menjadi rumah bagi Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA), salah satu observatorium radio terbesar di dunia.

Salju tebal dan angin kencang membuat ALMA harus menghentikan operasi sementara dan memasukkan antena-antena mereka ke mode perlindungan khusus untuk menghadapi kondisi ekstrem. Beberapa observatorium astronomi lain di kawasan pesisir juga menghentikan operasi ketika badai melintas.

Berhubungan dengan El Nino

Para ilmuwan melihat fenomena ini dalam konteks kondisi iklim yang lebih luas. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah El Nino yang sedang menguat. Dalam kondisi El Nino, sistem tekanan tinggi subtropis di Pasifik yang biasanya membantu mempertahankan kondisi kering di kawasan tersebut menjadi lebih lemah.

Pada saat yang sama, pola tekanan tinggi di Pasifik Selatan dapat mengubah jalur badai. Akibatnya, jalur sistem badai di Belahan Bumi Selatan dapat bergeser lebih dekat ke wilayah subtropis dan memungkinkan sistem cuaca kuat mencapai bagian Chile yang biasanya sangat kering.

Badai salju pada Agustus juga bukan satu-satunya kejadian ekstrem tahun ini. Peristiwa besar pada Juli sebelumnya sudah menyebabkan dampak signifikan di wilayah Norte Chico, Chile.

Bagi Atacama, masalahnya bukan sekadar pemandangan gurun berubah menjadi putih. Hujan dalam jumlah ekstrem dapat menyebabkan banjir bandang dan aliran lumpur di wilayah yang infrastrukturnya tidak terbiasa menghadapi curah hujan besar.

Otoritas Chile melaporkan ribuan orang terdampak dan ratusan rumah mengalami kerusakan berat akibat cuaca ekstrem tersebut. Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana sebuah wilayah yang terkenal karena kekeringannya tetap bisa mengalami perubahan cuaca ekstrem ketika pola atmosfer global berubah.

Gurun Atacama mungkin dikenal sebagai salah satu tempat paling kering di Bumi, tetapi badai Agustus 2026 menunjukkan bahwa bahkan gurun superkering pun tidak sepenuhnya kebal terhadap kejutan atmosfer.

Dan kali ini, satelit NASA berhasil merekam perubahan tersebut dari luar angkasa, dari bentangan gurun cokelat dan tandus menjadi hamparan putih yang nyaris mencapai Samudra Pasifik.



Simak Video "Video: Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, Rekor Suhu Terpanas Pecah"

(rns/rns)
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork