Ada fenomena aneh yang bisa muncul beberapa saat sebelum dan sesudah Gerhana Matahari Total. Garis-garis gelap dan terang tiba-tiba bergerak cepat di permukaan tanah atau dinding, menyerupai bayangan ular yang sedang berlomba.
Fenomena ini disebut shadow bands atau pita bayangan. Shadow bands telah diamati selama berabad-abad. Namun, meski bentuknya terlihat sederhana, ilmuwan masih belum memiliki jawaban pasti mengenai apa yang sebenarnya menyebabkan pola cahaya dan gelap tersebut.
Gerhana Matahari Total pada 12 Agustus 2026 menjadi kesempatan baru bagi para peneliti untuk mengamati fenomena misterius ini. Jalur totalitas garhana membentang melalui sejumlah wilayah, termasuk Islandia, Greenland, Rusia bagian utara, Spanyol, dan Portugal.
Muncul Saat Matahari Berbentuk Sabit
Shadow bands biasanya muncul ketika Matahari hampir sepenuhnya tertutup Bulan. Pada saat itu, hanya tersisa sabit cahaya Matahari yang sangat tipis.
Garis-garis tersebut dapat terlihat bergerak dan bergelombang di permukaan berwarna terang. Polanya biasanya sangat samar sehingga sulit ditangkap kamera, meskipun mata manusia dapat melihatnya ketika kondisi mendukung.
David Turnshek, profesor fisika dan astronomi di University of Pittsburgh, pertama kali melihat fenomena ini ketika berusia sekitar 14 tahun saat menyaksikan Gerhana Matahari Total pada 1970.
"Saat berada di sana, saya melihat tepat sebelum gerhana total, pita-pita cahaya ini menyapu permukaan tanah," ujarnya seperti dikutip dari CNN.
Pengalaman tersebut membuat Turnshek terus penasaran terhadap shadow bands, bahkan ketika penelitian utamanya kemudian berfokus pada pembentukan galaksi dan quasar. NASA juga mencatat bahwa shadow bands merupakan garis-garis tipis bergelombang yang dapat terlihat bergerak di permukaan polos sesaat sebelum dan sesudah totalitas.
Selama bertahun-tahun, penjelasan yang paling banyak diterima menyebut turbulensi atmosfer sebagai penyebab shadow bands. Ketika cahaya Matahari melewati atmosfer, aliran udara yang tidak beraturan dapat membelokkan cahaya.
Efeknya mirip dengan alasan bintang terlihat berkelap-kelip dari permukaan Bumi. Biasanya efek tersebut sulit terlihat dari cahaya Matahari karena piringannya sangat besar dan terang.
Namun, menjelang totalitas, Bulan menutupi hampir seluruh Matahari sehingga hanya tersisa sabit cahaya yang sangat tipis. Kondisi ini membuat perubahan kecil pada perjalanan cahaya lebih mudah terlihat sebagai pola terang dan gelap.
Jika teori ini benar, shadow bands seharusnya terutama berasal dari turbulensi di lapisan atmosfer dekat permukaan Bumi. Namun, eksperimen justru menghasilkan temuan yang membuat persoalan menjadi lebih rumit.
(rns/fay)