×
Ad

Misteri Bola Lampu Menyala 125 Tahun, Bukti Teori Konspirasi?

Fino Yurio Kristo - detikInet
Rabu, 05 Agu 2026 12:15 WIB
Bola lampu dengan nyala terlama. Foto: Yahoo News
Jakarta -

Bola lampu yang dipasang di sebuah kantor pemadam kebakaran di California pada tahun 1901 baru saja menginjak usia 125 tahun. Para simpatisan berkumpul di Kantor Pemadam Kebakaran #6 Livermore dan menyanyikan Selamat Ulang Tahun untuknya.

Centennial Light, diproduksi Shelby Electric Company asal Ohio, menyala lebih dari sejuta jam. Ia memegang Guinness World Records sebagai bola lampu dengan masa nyala terlama. Ia juga menjadi objek teori konspirasi puluhan tahun yang menurut fisikawan salah kaprah.

Klaim konspirasi tersebut cukup sederhana yaitu produsen sebenarnya tahu cara membuat bola lampu tahan lama, tapi sengaja mempersingkat masa pakai demi keuntungan. Pihak yang dituduh pelakunya adalah Kartel Phoebus, organisasi nyata yang dibentuk perusahaan seperti Philips dan General Electric di 1925.

Kartel tersebut menetapkan harga dan menstandarkan masa pakai lampu menjadi 1.000 jam. Sejak itu, kritikus menjadikan Centennial Light sebagai bukti bahwa produksi bola lampu yang lebih tahan lama sengaja dihadang. Namun sebenarnya tidak demikian.

Dikutip detikINET dari Popular Science, masalah utama lampu pijar adalah tingkat kecerahan dan masa pakai saling bertolak belakang. Filamen menyala karena arus listrik memanaskannya. Makin panas, makin terang cahayanya. Namun kian tinggi suhu, semakin cepat atom-atom filamen menguap. Penguapan mengikis filamen seiring berjalannya waktu hingga akhirnya putus.

Produsen melakukan optimasi berdasarkan kompromi tersebut. Lampu lebih terang menyala lebih panas dan putus lebih cepat, sedang lampu yang lebih redup bertahan lebih lama, tapi menghasilkan cahaya yang nyaris tidak bisa digunakan.

Standar 1.000 jam Kartel Phoebus bukan semata skema licik untuk menjual lebih banyak lampu. Standar tersebut memastikan pembeli mendapat lampu cukup terang dan layak dibeli, dengan masa pakai terukur sehingga biaya listrik tetap masuk akal.

Inilah fakta yang dilewatkan teori konspirasi tersebut. Centennial Bulb berlabel bola lampu 60 watt, tapi praktiknya hanya menyerap sekitar 4 watt. Bahkan, cahayanya lebih redup dari bola lampu 4 watt standar karena efisiensinya yang sangat rendah dalam mengubah listrik menjadi cahaya.

Blogger elektronika Maurycy menyimpulkan penjelasan paling masuk akal sebenarnya sederhana. Seseorang di Shelby Electric tidak sengaja membuat bola lampu dengan resistansi filamen luar biasa tinggi.

Filamen resistansi tinggi menyerap arus listrik sangat kecil, menghasilkan panas sangat sedikit. Panas minim berarti penguapan filamen sangat minim. Inilah yang membuat filamen tersebut bertahan 125 tahun.

Centennial Bulb tidak membuktikan bola lampu yang tahan lama bisa dibuat dengan kecerahan maksimal. Lampu ini membuktikan bola lampu yang beroperasi pada sekitar 7% kapasitas daya resminya dapat bertahan hampir selamanya.

Teori keusangan terencana juga bertentangan dengan fakta linimasa sederhana. Jika perusahaan listrik dan produsen lampu berkonspirasi agar masyarakat terus membeli lampu berumur pendek, mereka pada akhirnya justru meninggalkan strategi itu sepenuhnya.

Sebab, industri beralih dari bola lampu pijar ke lampu neon, lalu ke LED. LED modern mampu bertahan 25.000 hingga 50.000 jam, dengan biaya pengoperasian jauh lebih murah dan harga jauh lebih terjangkau dibanding lampu pijar zaman dahulu.

Kartel Phoebus memang nyata, begitu pula penetapan harganya. Namu, Centennial Light sebenarnya tidak membuktikan apa klaim penganut teori konspirasi. Lampu ini hanya membuktikan filamen yang beroperasi jauh di bawah suhu resmi sulit rusak.



Simak Video "Video: 5 Hal yang Bikin Galaxy Z Fold8 Ultra Layak Pakai Nama Ultra"

(fyk/fay)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork