×
Ad

Satelit NASA Ungkap Tembok Hijau China Menjinakkan Gurun

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 07 Apr 2026 10:40 WIB
Foto: VWC News
Jakarta -

Upaya China menghijaukan wilayah kering mulai menunjukkan hasil nyata. Program besar yang dikenal sebagai 'Tembok Hijau' kini terbukti mampu memperlambat laju penyebaran gurun, berdasarkan pengamatan terbaru dari satelit NASA.

Proyek yang secara resmi bernama Three-North Shelterbelt Program ini sudah dimulai sejak 1978. Tujuannya adalah menahan ekspansi gurun besar seperti Gobi dan Taklamakan yang terus mengancam permukiman dan lahan pertanian di wilayah utara China.

Selama puluhan tahun, China menanam miliaran pohon untuk membentuk sabuk hijau raksasa yang berfungsi sebagai penghalang alami. Vegetasi ini membantu mengurangi dampak angin pembawa pasir, menekan badai debu, serta menjaga kestabilan tanah di kawasan rawan desertifikasi.

Dikutip dari VWC News, data dari satelit menunjukkan perubahan signifikan di sejumlah wilayah yang sebelumnya tandus. Kini, area tersebut mulai ditumbuhi vegetasi dan menunjukkan peningkatan aktivitas biologis, termasuk proses fotosintesis.

Menariknya, para ilmuwan juga menemukan bahwa kawasan yang telah dihijaukan mulai berfungsi sebagai penyerap karbon alami. Artinya, selain menahan gurun, proyek ini juga berkontribusi dalam mengurangi dampak perubahan iklim.

Salah satu peneliti yang terlibat dalam studi ini menilai temuan tersebut sebagai bukti penting bahwa intervensi manusia bisa berdampak besar terhadap lingkungan, bahkan di wilayah ekstrem.

"Untuk pertama kalinya kami menemukan bahwa intervensi manusia dapat meningkatkan penyerapan karbon bahkan di lanskap kering ekstrem," ujar Yuk Yung, profesor ilmu planet di California Institute of Technology sekaligus peneliti senior di NASA Jet Propulsion Laboratory.

Proyek Tembok Hijau ini dirancang membentang ribuan kilometer dan diproyeksikan mencapai panjang sekitar 4.500 kilometer saat selesai.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Beberapa wilayah mengalami tingkat kegagalan tanaman yang cukup tinggi akibat kondisi tanah yang sangat kering. Selain itu, penggunaan jenis pohon yang kurang beragam juga dinilai berisiko terhadap ketahanan ekosistem dalam jangka panjang.

Terlepas dari berbagai tantangan tersebut, proyek ini tetap dianggap sebagai salah satu eksperimen rekayasa lingkungan terbesar di dunia. Jika terus berhasil, pendekatan ini bisa menjadi contoh global dalam menghadapi ancaman desertifikasi yang semakin meluas.



Simak Video "Video: China Anggap Starlink Ancaman, Labrak Satelit Elon Musk di PBB!"

(rns/rns)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork