Air di Bumi Kemungkinan Berasal dari Matahari

Air di Bumi Kemungkinan Berasal dari Matahari

Rachmatunnisa - detikInet
Kamis, 02 Des 2021 17:00 WIB
Foto Bumi dari antariksa
Air di Bumi Kemungkinan Berasal dari Matahari. Foto: NASA
Jakarta -

Memperkirakan dari mana semua air di Bumi berasal adalah teka-teki yang sudah lama ada. Tim ilmuwan internasional yang dipimpin oleh University of Glasgow, menduga bahwa Matahari mungkin menjadi sumber utama terbentuknya H₂O planet kita, melalui hidrogen dari angin Matahari.

Bumi adalah planet asing sejati di Tata Surya. Tak seperti semua planet kecil berbatu lainnya, permukaan Bumi, tiga perempatnya ditutupi oleh lautan air cair yang luas. Pertanyaannya, dari mana air ini berasal?

Ada sejumlah teori mengenai asal usul air di Bumi. Namun ada salah satunya yang lebih populer. Teori populer ini mengatakan, air datang ke Bumi tak lama setelah pembentukannya dalam bentuk hujan meteorit tipe-C atau meteorit karbon, yang berbeda dari meteorit standar karena mengandung hidrogen dan oksigen yang dibutuhkan untuk membuat air.

Dikutip dari New Atlas, ini adalah hipotesis yang sesuai dengan apa yang kita ketahui tentang meteorit semacam itu. Namun, teori ini dipertanyakan karena rasio isotop hidrogen dalam meteorit karbon tidak cocok dengan yang ditemukan di air terestrial. Jadi, apa alternatif teorinya?

"Teori yang ada adalah bahwa air dibawa ke Bumi pada tahap akhir pembentukannya pada asteroid tipe C, namun pengujian sebelumnya dari 'sidik jari' isotop asteroid ini menemukan bahwa mereka, rata-rata, tidak cocok dengan air yang ditemukan di Bumi. Berarti setidaknya ada satu sumber lain yang belum ditemukan," kata Profesor Phil Bland dari University of Curtin, salah satu tim Glasgow.

"Penelitian kami menunjukkan angin Matahari menciptakan air di permukaan butiran debu kecil, dan air yang secara isotop lebih ringan ini kemungkinan menyediakan sisa air di Bumi. Teori angin Matahari baru ini didasarkan pada analisis atom-demi-atom yang cermat dari fragmen-fragmen sangat kecil dari sebuah asteroid dekat Bumi tipe S (berbatu) yang dikenal sebagai Itokawa, sampelnya dikumpulkan oleh wahana antariksa Jepang Hayabusa dan kembali ke Bumi pada 2010," jelasnya.

Disebutkan Bland, sistem tomografi probe atom kelas dunia di University of Curtin memungkinkan mereka untuk melihat secara detail ke dalam 50 nanometer pertama permukaan butiran debu Itokawa. Pada butiran debu tersebut, ditemukan kandungan cukup air yang jika diperbesar, akan berjumlah menjadi sekitar 20 liter untuk setiap meter kubik batu.

Bland menambahkan, teknik yang sama bisa digunakan dalam misi luar angkasa di masa depan. Penelitian ini menunjukkan bahwa proses pelapukan luar angkasa yang sama yang menciptakan air di Itokawa kemungkinan terjadi di planet pengap lainnya. Artinya, astronaut mungkin dapat memproses pasokan air segar langsung dari debu di permukaan objek lain, seperti Bulan.



Simak Video "Suasana Gelaran Sedekah Bumi di Bekasi yang Digelar Sewindu Sekali"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)